Si Ayah dan Berita Nasional
Setelah bersibuk ria dengan urusan pekerjaan, pulang ke rumah, enaknya bersantai ria. Mas No sukanya nonton berita nasional yang lagi heboh sambil nyeruput teh tawar panas buatan istri. Anak2nya kadang cuek dengan sang bapak, berlarian di depan TV yang membuatnya jadi terganggu. Sedikit saja tapi tidak merusak kenikmatan menikmati gossip terkini. Namun hari itu, mereka juga ikutan nonton.
“Yah, cicak kan kecil sak jentik (sambil menunjukkan kelingkingnya), kalo buaya kan buessaar (sambil merentangkan tangan selebar2nya). Kan ndak imbang?”, tanya si kecil. Laki2.
Mas No jadi ngerti kenapa anak2nya jadi anteng hari itu, ternyata mereka ingin tau apa itu Cicak vs Buaya.
“Adik, itu cuma perumpamaan. Ceritanya, Mas Cicak kecil itu mencurigai keluarga buaya. Pak Buaya marah. Lalu dia balik mengancam mas Cicak. Ya, memang ndak imbang kalo dilihat dari ukuran. Tapi cicaknya kan punya banyak teman. Kan bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, jawab mas No.
Anak kecil itu manggut-manggut. Mengerti? Mungkin saja.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tentu saja topik berita juga berganti. Anak2nya masih suka berlarian depan TV.
Hari itu mereka duduk anteng lagi, minta dipangku. Khas manjanya anak kecil. Kali ini, tentang bank Century.
Kali ini si sulung, perempuan yang kecerdasannya tercermin dari sinar matanya. Cemerlang.
“Yah, kenapa sih bank Century? Kenapa ‘pak kepala sekolah’ disidang? Kenapa ‘ibu guru’ kok diejek2? Kenapa kok foto2 mereka dibakar? Kenapa kok anggota DPR berantem? Kenapa….?”
Mas No meletakkan telunjuk di mulut kecilnya. Pertanda “STOP, I got your point and ENOUGH I will answer them”. Mas No cukup tau gadis kecilnya ini akan terus bertanya sebelum dia sempat memikirkan jawaban dari pertanyaan pertamanya. Apa ya jawaban yang paling pas buat anak kecil? O, ya… si sulung pernah bilang kalo pak Budiono itu mirip dengan pak kepala sekolahnya. Sedangkan bu Sri Mulyani itu mirip dengan ibu guru wali kelasnya.
“Bank Century itu ga punya duit, Nak. Uangnya dicuri. Seperti kita kalo ke ATM, tapi ga keluar duitnya”.
Si sulung mengangguk2… ah, syukur dia mengerti.
“Pak kepala Sekolah sama Bu guru itu bermaksud menenangkan orang yang kecurian itu. Orang yang kecurian itu ya … orang biasa kayak ayah. Ada yang kaya ada yang miskin. Pak Kepala dan Bu Guru bukan polisi. Juga bukan pemilik Bank. Mereka pejabat negara yang salah satu tugasnya membuat nyaman warga negara. Mereka meminta uang negara supaya mengganti uang yang dicuri. Maksudnya supaya rakyat nyaman. Tidak ada keributan. Ga enak kan kalo ribut?”
Si sulung mengangguk2. Sambil garuk2… mungkin belum mudeng, tapi ga tau mesti nanya apa lagi.
“Rupanya, maksud baik mereka disalahgunakan. Entah siapa. Ayah ga tau. Makanya disidang, biar ketauan siapa pencuri yang sebenarnya. Bapak dan Ibu hakim itu (anggota DPR maksudnya) bertanya pada mereka berdua soal uang negara”.
“Seperti ibu bertanya kenapa uang kembalian beli bakso kurang Rp 500 kemaren?”, Si sulung mengkonfirmasi pemahamannya. Matanya masih cemerlang.
O, iya … si sulung masih ingat diinterogasi ibunya soal uang kembalian. Si sulung dipercaya untuk membeli bakso tusuk untuknya dan adiknya. Uang 500an itu ternyata dimasukkan kantong si adik dan dia lupa.
“Ya, seperti itu anakku. Foto2 dibakar karena ada yang kecewa. Marah. Karena uang dicuri, uang gantinya juga tidak jelas. Ya, mereka marah sama bu guru. Karena mereka menganggap bu guru yang mencuri”.
“Kan bu guru baik, Yah? Ga mungkin mencuri dong”. Ah … si sulung mencoba mendebat.
“Kakak tau darimana?”, tanya mas No keheranan.
“Mukanya baik sih… hihihi….”, si sulung terkikik sambil pamer gigi. Si adik juga ikutan. Hihihi..
“Hahaha…ga tau juga ya. Bapak dan ibu hakim juga marah satu sama lain. Karena yang kawannya dianggap mau melindungi pencuri. Sedangkan dia mau menangkap pencuri. ”
“O … gitu …”, manggut2 deh anak sulung bermata cerdas itu…
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tentu saja topik berita juga berganti. Anak2nya masih suka berlarian depan TV.
Hari itu berita nasional heboh lagi… Mas No pulang agak larut dari biasanya dan dalam kondisi lebih capek dari biasanya. Sang istri membuka pintu depan, tersenyum. Wah, seneng rasanya, rasanya sedikit berkurang penatnya. Dua partner of crime kecil itu sedang menonton TV berita itu lagi. Melihat mas No pulang, serta merta mereka berteriak kegirangan dan berlari memeluk ayahnya.
“Yah, Video Mesum itu apa?”
Tiba2 dunia gelap.
note:
sejak saat itu, mas No memutuskan untuk tidak menonton berita nasional di kala anak2nya masih terjaga.
Jaket Dealer
Mas No belum pernah ke Batam sebelumnya. Dia juga bingung dengan sistem transportasi kota yang rumit gampang gampang. Rumit pertama adalah jalur transportasinya ga jelas. Tidak jelas cari informasinya, tidak jelas dari mana mau kemana, juga aksesnya. Transportasi resmi seperti metro trans itu cuma lewat jalan utama. Abis itu ya … cara gampang. Taxi jaman perang yang uda berkarat bodinya, juga lantainya. Jalannya kayak siput. Ato, naik ojek. Kendaraan roda dua yang super lincah, meliuk sana sini, tapi tanpa asuransi. Terpeleset yaa… apes.
Mas No pernah jatuh dari sepeda motor beberapa kali di kampungnya. Dulu jago ngebut. Abis jatuh, tobat. Sekarang jalannya mirip taksi perang tadi. Seperti siput.
Mas No bilang sama saya, “Dik, aku takut naik ojek batam. Jalannya slintutan. Serong ke kiri. Serong ke kanan. Lalalalala….” (seperti lagu potong bebek angsa).
Saya: “Sampean njaluk piye, mas?”
Mas No: “Anterin beli motor sendiri, yuk!” (muka melas. tak tau jalan pulang)
Saya: “Sampean pengen yang gimana?”
Mas No: “Beli baru saja. Seumur2 ndak pernah aku punya motor sendiri. Pinjem melulu. Mumpung punya duit, mending beli baru. Meskipun nyicil. (muka merah… malu… ndak punya duit).
Akhirnya saya antar mas No beli motor baru. Tiga minggu kemudian, diantarlah motor itu ke kontrakan kami. Motor merk Honda, masih kinyis2, nunggu di-reyen. Mas No yang uda ndak sabaran, langsung nyengklak di jok motor.
Saya: “Pake jaket, Mas. Mengko kademen ning dalan, masuk angin, aku emoh ngeroki”. Mas No langsung pake jaket bonus dari dealer. Warnanya merah dengan lengan hitam. Namanya barang gratisan, pasti ada embel2nya. Nama dealer juga alamat berikut nomer telpon dan email tertempel di punggung.
Saya dan mas No jadi jarang ketemu di kontrakan. Saya pikir si mas pasti sibuk reyen motor supaya cepet diservis. Paling ketemu cuma ‘say hello’, abis itu kena asap knalpotnya dan si jaket merah itu menjauh.
Suatu hari, mas reyen dengan muka suntuk mendatangi saya. Jaket merah ditentengnya, kemudian dibuang di tempat sampah. “Lhoh mas, eman2 iki”, kata saya.
“Opo raiku iki koyo tukang ojek?”, tanyanya sambil menggos2.
“Nanya serius toh, mas?”, saya cuma memastikan pertanyaannya sambil takut2. Ndak biasanya orang tua ini marah2.
“Edyan po kowe iki… aku tenanan!!!”, jawabnya histeris.
“Ya endak toh, mas. Lebih cocok dibilang kuli bangunan”, jawab saya mesem2. Biar cool down, dan ndak galak.
“Nek kuwi penggaweanku, Dul. Dasar semprul ! Hehehehe”, tertawa tertahan. Kayaknya belum plong.
“Ada apa toh, mas?” tanyaku sambil nawarin kopi yang belum kuseruput.
“Dik, aku ini heran. Kalo pinjem motor bulukmu kuwi, sing kusem jarang mbok adusi, plat nomer ra jelas, suoro cempreng, mlayune koyo siput….”
“Wis…wis… motorku elek, mas. Iyo, aku terimo. Trus maksudnya gimana?” (diem2 dongkol juga si kumbang dihina2… huh.)
“Iya, kalo pinjem motor jelekmu itu, aku ndak pernah tuh di-awe2 ama orang suruh berhenti. Kayak nyegat ojek ngono kae loh”, suaranya meninggi. “Kalo sekarang, aku naik motor baru. Banyak orang melambai. Tak pikir ono opo. Begitu berhenti ditanya berapa ongkos ke Nagoya. Kalo ke Batu Ampar berapa. Wah… kesel aku, Dik.”
Saya ngikik dalam hati, lucu. Tapi saya juga ngerti apa kegelisahannya.
“Mas No, monggo mandi dulu. Ben adem atine. Abis shalat Dhuhur’, saya ajak ke Mega Mall Batam Center. Saya mau nyoba motornya ya, Mas. Cuci mata. Hehehe…”
Ternyata enak juga naik motor baru. Respon ringan, cepet dan nggaya. Abis selesai belanja, saya ajak mas No nongkrong di Simpang Gelael. Saya minta Mas No memperhatikan halte ojek di dekat situ. Ada sekitar 3-4 orang yang lagi nongkrong nunggu penumpang. “Trus kenapa, Dik?”, tanya penasaran.
“Coba perhatikan jaketnya, mas…”
“Huahahaha…pantesan dik….”
NB:
bukan seragam. juga tidak ada kesepakatan. tapi kebanyakan tukang ojek di Batam menggunakan jaket hadiah dari dealer sepeda. bedanya yang tukang ojek ato bukan? kalo tukang ojek beneran, begitu liat ada peluang pasti jalan pelan2 kemudian nawarin jasanya.

.jpg)















