CakTopan’s Journal

A Personal Journal

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Ayah, Apa itu Sex?

with one comment

Seorang anak bertanya pada bapaknya. Apa itu sex?

Karena bapaknya berwawasan luas dan ingin memberikan pendidikan sex padanya sambil berusaha tidak vulgar, maka si bapak ber-analogi.

Bapak: Sex itu seperti orang ngupil, nak.
Anak: Berarti enak ya, pak?
Bapak: Kalo ngupil kan hidungnya jadi lebih enak.
Anak: Gimana tentang perkosaan, pak?
Bapak: Emang kamu mau hidungmu ditowel2 orang lain tanpa permisi?
Anak: (manggut-manggut mengerti) Lalu … Kenapa tidak boleh nge-sex di kala wanita datang bulan?
Bapak: Apa enaknya ngupil hidung yang lagi mimisan? (Si Bapak tersenyum).
Anak: (manggut-manggut lagi) Trus…sex yang baik itu gimana, pak?
Bapak: Ya ngupillah hidungmu sendiri dan dilakukan di tempat tertutup. Jijik ah ketauan ngupil di tempat umum.
Anak: Kalo poligami?
Bapak: Bapak lebih suka punya hidung satu daripada banyak. Hehehe…

(disadur dan dimodifikasi seingatnya dari guyonan jawa pos masa kuliah)

Written by caktopan

Friday, November 6, 2009 at 11:14 am

Posted in Uncategorized

Tagged with , , , , , ,

Nasty Email

with 2 comments

Hari ini dapat training tentang leadership skill. Tentu saja oleh2nya tentang leadership, leadership model, leadership skill dan macam2. Mungkin saya cerita tentang ini lain kali ya. Tapi ada satu important message saya dapatkan hari ini. Nasty Email. What is that?

Mungkin susah juga menterjemahkan dalam bahasa Indonesia secara pas dan singkat. Email nakal? Engga lah. Email cuma alat kok. The content on the email is the important thing to discuss than the email itself. Setuju? Mungkin secara gampangnya, isi email itu ‘menyerang’ integritas anda, ‘menghina’ kemampuan anda,  ‘meremehkan’ pendapat anda, memperolok anda sendiri dan akibatnya ‘memancing’ emosi anda. Pernah dapat kan email yang model begitu? Di milis2 banyak nih kayak gini. Dan konyolnya kebanyakan topik OOT (out of topic) yang malah memancing kerusuhan.

Pembicaranya adalah seorang Manager di perusahaan kami. 20 tahun lebih berkarir di perusahaan kami dan pernah menjadi 6 x Project Manager. Intinya, dia orang yang pernah merasakan ‘kursi panas’. Namanya manager, tentu saja tanggung jawab berat sekali. Banyak pressure disana-sini yang bisa memancing emosinya. Apalagi dia juga ngaku gampang naik darah. Suatu ketika dia cerita dapat nasty email. Emosi memuncak dan email langsung dibalasnya saat itu juga. “Stupid”, katanya. Somewhere, si penerima juga panas dan balas, “You Stupid”. Konyolnya, berbalas pantun itu masih menyertakan To:  dan Cc: List. Jadi manager yang pantasnya dihormati layaknya begawan yang weruh sakdurunge winarah, sekarang malah berbantah2an kayak anak2 disaksikan anak buah, kolega dan atasannya. Akhirnya berbalas nasty email itu berhenti setelah senior manager menengahi. Tapi apa lacur, para begawan itu uda keliatan konyolnya…

Akhirnya dia melanjutkan ceritanya. “Dulu, di saat perusahaan ini tidak memiliki email. Bahkan belum memiliki komputer, semua korespondensi dilakukan via surat. Ya, saya menulis sendiri dengan tangan saya sendiri semua surat2 itu. Setelah itu, sekretaris akan mengetiknya dan saya tinggal menandatanganinya”. Suatu ketika dia mendapat surat yang bikin panas hati. Langsung dia tulis balasan suratnya dan diberikan ke sekretarisnya. 30 menit kemudian, surat balasan itu selesai diketik. Setelah dibaca, dia tertawa. Dia ngerasa konyol banget baca kata2nya sendiri. Dia sobek kertasnya dan memilih mendatangi si pengirim surat untuk berdiskusi.

Sejak 2 peristiwa itu, dia belajar sesuatu. Hati2 dengan emosi. Adakalanya dia sengaja mendiamkan salah satu email penting hingga esok hari supaya emosinya reda. Engga berguna juga kalo ditanggapi, sementara main problemnya sendiri malah kelupaan untuk didiskusikan.

Email sendiri tidak beremosi. Ditambah emoticon pun terkadang juga masih kurang tampak auranya. Sedangkan face-to-face conversation itu memperlihatkan semuanya. Mata boleh merah, suara boleh tinggi, gebrak meja pun boleh, tapi selama kita melihat gesturenya bahwa itu bukan dirinya alias sedang latihan akting…ya sudah kita nikmati aja adegan itu. Tapi email … no. Tulisan merah dengan huruf besar itu berarti si pengirim marah besar dengan anda. Tapi yakinkah anda bahwa si pengirim email itu marah2 sama sampean? Bisa jadi ia cuma usil kayak si pengirim hoax SMS setan. Sementara sampean sudah mengasah ‘kapak perang’ untuk meladeninya. Sekali anda terperangkap, maka “point of no return” itu terlewati. Apa yang anda dan partner lontarkan akan terdokumentasi dan kemudian menjadi bukti di kemudian hari.

Moral storynya sih, jangan gampang emosi baca nasty email. Fokus di masalah sebenarnya dan berdiskusilah dengan pantas.

Written by caktopan

Thursday, February 26, 2009 at 11:31 pm

Tahun Baru adalah Resolusi Baru

with 2 comments

Teman kuliah saya dulu suka sewot kalo saya kasih ucapan “Selamat Ulang Tahun”. Saya bisa memaklumi jika sewotnya karena saya minta traktiran. Tapi ini sekedar tanda perekat persahabatan bahwa saya ngerti kapan dia hadir di dunia. Ucapan “Happy New Year” pun juga tak pernah kulontarkan. Saya paham dia pasti hanya akan diam demi menjunjung nama baik persahabatan. Dulu, saya ga paham kenapa dia begitu. Tidak berani nanya karena sungkan dan malas dicemberutin karena ngeributin hal remeh (buat dia, tapi tidak buat saya).

Pak Dolar (sebut saja begitu), Supervisor lapangan yang galak bukan kepalang jika sudah diskusi menyebut2 tanggal. Buat beliau, tanggal berarti target progress lapangan. Dia pengen kerja tenang, pulang tepat waktu dan dapat bonus di akhir bulan. Dia juga mengangankan anak buahnya kerja dengan tenang, tidak terburu2 sehingga quality nya terjaga. “Percaya padaku, pasti selesai”, dia sesumbar. Jika saja semudah itu, karena di proyek semua serba terencana. Setiap pekerjaan berarti harus ada target date mulai (start) dan selesai (finish). Berapa effort yang dibutuhkan dan yang paling penting adalah, mampu ato tidak untuk diselesaikan. Makanya dia jadi sewot kalo perkara tanggal. Karena itu mengingatkan dia supaya berhitung produktivitas kerja dirinya dan tim. Harus lebih cepat, dan kualitas terpenuhi. Beliau harus mencari pola dalam gudang “lesson learned” dari masa lalunya, kemudian memprediksi masalah sekaligus solusinya, menyiapkan action plan sekaligus menggodok selusin strategi biar tidak ditindas atas nama “productivity”. Anda bisa paham kenapa dia senewen kayak orang ambeien pengen duduk. Otak tua-nya terlalu payah untuk diputer dan dibakar (biar encer).

Saya jadi ingat kelakuan “tak senonoh” kawan saya yang saya tulis diatas. Mungkin dia jadi marah kalo diingatkan umurnya. Itu berarti mengingatkan dirinya pada beberapa cita2nya yang belum tersampai . Mungkin saya bicara tidak pada waktu yang tepat. Pas dia lagi ingat harapan2nya belum tercapai ato malah ada yang tidak kesampaian. Pas dia juga sedang pening bukan buatan memikirkan rencana2 masa depannya. Mungkin juga dia sedang panik karena waktunya pendek (toh, tak ada yang tau kapan kontrak kehidupan itu habis kan).

Kita menjalani kontrak kehidupan. Masalahnya kita ini ga tau kapan kontrak berakhir. Tau2 habis aja. Apa yang kita bangun selama menjalani kontrak kehidupan itu? Berbagai milestone yang maha hebat? Ato cuma kerikil remeh temeh yang sepele? Tahun baru, tidak selalu bermakna era baru. Karena era baru akan bermakna pemikiran2 baru, harapan baru, rencana baru dan yang penting action plan untuk mengisi kontrak kehidupan. Apa gunanya anda bikin rencana tapi ga ada gairah untuk mencapai? Ah, itu namanya cuma mimpi. Itulah yang dikerjakan teman saya yang memilih sebagai pemberani. Berani berencana dan berani menggapai. Dan itu pula yang dibenci p’ Dolar. Berharap hidup tenang2 saja. Sengaja melupa bahwa ada target yang bakalan ditagih pada waktunya.

Ex-bos saya (keparat tua tapi saya meyakini pelajaran kehidupannya) pernah berucap, “Berani menulis rencana itu berarti kamu uda tau kemana kamu pergi. Trus kamu ngerti apa yang diperlukan supaya nyampe tujuan. Last but not least, membuat rencana itu mudah. Tapi menuliskan dan menjalankannya, cuma seorang pemberani yang bisa”.

Karena hari ini hari Rebo, maka Selamat Hari Kemis untuk anda yang lebih suka berhura2, meluapkan gairah sampe lupa bahwa hidup ini terlalu singkat. Sedangkan para pemberani sibuk membuat rencana, belajar memaknai hidup ini supaya hidupnya, lingkungannya bahkan dunia menjadi lebih baik. Sodaraku, jika anda memang punya resolusi tahun 2009, saya ucapkan selamat Tahun Baru 2009.

Written by caktopan

Wednesday, December 31, 2008 at 5:03 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with

Positive Thinking

with 2 comments

somebodywhoneedadvice (11/4/2008 10:33:22): hii, cak…
cak topan (11/4/2008 10:33:27): hi
somebodywhoneedadvice (11/4/2008 10:33:40): hmm…mau cerita dikit boleh ya..
cak topan (11/4/2008 10:34:25): silakan
somebodywhoneedadvice (11/4/2008 10:34:48): kemaren saya da test medis untuk penerimaan pegawai di bank DKI, ternyata saya tunggu2 hasilnya sampe 2minggu lebih kok ga da jawaban, ternyata pas saya konfirmasi ke bank dki, ternyata saya ga lolos karena minus mata saya tinggi..memang saya pk kacamata minus 6..
somebodywhoneedadvice(11/4/2008 10:35:18): yah, skrg saya jd bingung apa ada perusahaan yang mau menerima pegawai dengan minus mata tinggi…
somebodywhoneedadvice (11/4/2008 10:35:24): :(

Online buddy saya curhat kayak diatas. Saya bingung juga jawabnya. Jujur, saya ndak tau jawabannya.

Untuk menjawab ini kita liat saja pengalaman orang lain. Kita pilih yang pernah gagal dan sekarang uda sukses. Ada seorang teman yang ga sukses di akademis. Ngulang kuliah mektek 5 kali !! Bah, aib betul. Dia bukannya ga paham konsepnya. Dia kerja keras untuk ngejar ketertinggalan. Cuma selalu telat kalo ngumpulin kertas ujian. Gw cuma bilang, “Lu ga bakat sekolah. Lu bakatnya jadi pekerja handal”. Eh, sapa sangka dia 5 taun kemudian bekerja di salah satu konsultan asing terkenal. Terbukti karirnya mulus di perusahaan tersebut.

Satu lagi, teman yang lain gagal berkali-kali waktu tes perekrutan tenaga kerja. Selalu gagal di tahap pertama, psychotest. “Tuhan lagi nyiapin yang terbaik buat gw”, katanya sambil ketawa. Dia sendiri tetap positif thinking dan terus mencoba. Sapa sangka, setelah 2 taun kerja di kontraktor kecil, (dengan gaji kecil dan segudang masalah) eh dia sekarang uda bekerja di salah satu perusahaan asing dengan gaji dolar, insentif dan lain2nya. Subhanallah.

Yah…kita cuma harus positif thinking bahwa yang terbaik itulah yang diberikan oleh Allah.

*Namanya saya samarkan. Biar ndak malu yang punya ID. Good Luck for you, sis*

Written by caktopan

Tuesday, November 4, 2008 at 5:35 pm