CakTopan's Journal

A Personal Journal

Senja Menggila di Singapura

23 Desember 2009, gw diajak bos meeting di Singapore. Gw sendiri juga lagi ‘gatel’ ama si D3000 ini. Practice makes perfect. Dengan banyak2 motret gw jadi ngerti kamera gw dan mempertajam skill juga. Di samping itu, gw juga mulai ngerasa motret sebagai stress-relieve yang bagus. Gw uda nyiapin tripod untuk night photograpy.

Abis miting sekitar jam 4 sore, gw ke Orchard dulu. Naik MRT dari Braddel Road. Gw juga ngetes apakah kartu gw itu masih laku ga. Dan sekalian mengenal medan. Jujur aja, berkali2 ke negeri Singa, baru 2 kali gw naik MRT dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Itupun barengan ama temen2 yang uda terbiasa. Gw cuma ngekor aja. Terbiasa dengan MRT ini juga bisa menaikkan rasa percaya diri (bahwa gw ga bakal tersesat), karena gw sering kayak orang bego juga kalo pindah jalur. Cuma ngikut temen2 aja yang pada biasa. Dan, gw cuma melongo terkagum2 tau masuk di pintu A, diem di MRT, kemudian keluar di pintu B. Seperti masuk lorong waktu saja. Hihihi…

Tujuan utama sebenarnya di Raffles Place di malam hari alias Golden Hours. Untuk membunuh waktu, makanya gw ke Orchard dulu, main2 sambil nunggu sampe gelap. Baru sekarang gw ngerti kenapa Street-photograpy itu juga menarik. Karena kita ketemu orang2 yang ga kita kenal, dan karena suasananya mereka (orang2 yang tidak kenal itu) melakukan pekerjaan ato kegiatan yang menarik. Cukup menarik untuk diabadikan kejadiannya.  Street photography juga menantang jika menjadi portrait. Gw sendiri jadi segan juga motret orang2 ini. Merasa jadi ‘pencuri’. Papparazi. Tapi, mau minta ijin juga takut. Sebenarnya di akhir proses ini, baru gw ngerti street-photography yang baik adalah yang hidup. It’s about discovering life, share and get the message. Makanya gw ngerasa, foto2 gw kosong.

Jazz on The Street

Jazz on The Street

Contohnya ini. Ada seorang cacat kaki (sepertinya buta juga), pemain musik di jalanan orchard. Waktu itu inginnya bikin street photography dan menangkap kisah di jalanan. Yang gw tau, dia pemain trompet yang bagus, mainin lagu2 jazz. Beberapa kali pejalan kaki memberikan recehan (dan dia tidak meresponnya sama sekali, makanya gw menduga dia buta). Gw ga tau gimana ceritanya si orang ini. Gw sendiri takut juga motret ekspresinya dia. Akhirnya merhatikan dari jauh. Karena dari jauh, fotonya jadi ga jelas juga POInya. Padahal, gw sendiri merasa dapat momentumnya. Seorang buta mainin jazz. Kita ga perhatikan orang itu, beberapa memperhatikannya dan memberikan sekedarnya. Bayangin kalo dia ga ada, betapa senyapnya Orchard. Hanya ada ketergesaan saja, hedonisme dan konsumerisme.

Pada waktu menuju MRT station di seberang jalan, ketemu dengan salah satu shop yang satu ini. Hehehe… sex shop mungkin tabu di sebagian besar wilayah Indonesia. Tapi, di Singapura ini mudah ditemui di jantung kota, Orchard Road.

Condom House

Tujuan utamanya adalah Raffles Place. Tempat ini dulu menarik perhatian gw karena ‘ga lazim’. Di samping gedung2 pencakar langit, ternyata masih ada pemukiman penduduk yang masih menjaga ‘kejadulan’nya. Ini bisa ditemui di sepanjang Singapore River. Ini juga salah satu potensi wisata yang ditawarkan pada wisatawan asing untuk menyusuri sungai dan menyelami sejarah awal Singapura.

Singapore River Cruise

Singapore River Cruise

Gw jalan terus hingga menyeberang jalan dan turun ke kolong jembatan. Elit juga kolong jembatannya. Ada Starbucks cuy. :)

Coffee?

Masih dengan tripod terpasang, gw balik badan. Wah… gw jadi ngiler juga ngeliat Esplanade Bridge.

Under The Bridge

Senja semakin gila. Banyak orang yang berkumpul di dekat Patung Merlion di mulut Singapore River. Banyak diantara mereka malah bicara dengan bahasa gw kenal. Jawa dan Indonesia. Hehehe… emang bukan rahasia lagi, Singapore juga surga bagi para shopaholic indonesia. Dan juga tempat mencari nafkah para TKI. Matahari mulai tenggelam, dan gw punya waktu 30 menit untuk mengabadikan Merlion dengan latar belakang gedung2 tinggi.

Sunset at Merlion Park

Sempat juga ngeliat Esplanade. Gedung itu mulai bercahaya. Sementara waktu terus berlalu, gw takut keabisan tiket pulang ke Batam. Maka berlarilah diriku menuju MRT Raffles Place dan meneruskan hingga Harbour Front.

Note: Ssst…sempat kesasar juga waktu mo nyambung MRT…

Friday, March 5, 2010 Posted by | PhotoBlog, Travelling | , , , , , , | 3 Comments

Tour d’ Batam – Selat Batam dan Galang

Ini lanjutan dari photoblog sebelumnya.

Selat diantara pulau Batam dan Galang, juga berada di bawah jembatan Fisabilillah, sering dilalui perahu. Entah nelayan yang mencari ikan ato digunakan sebagai alat transportasi. Beberapa kali juga ketemu kapal tongkang pengangkut pasir.

Airnya berwarna hijau. Sedap dipandang mata. ^_^

Saturday, December 26, 2009 Posted by | Batam, PhotoBlog, Travelling | , , , , , , | 2 Comments

Tour d’Batam – Barelang (1)

Gw pikir jenuh juga motretin lalat, bunga ato kue. Beberapa kali motret landscape juga ga terlalu puas. Alasannya ga dapat komposisi yang bagus, cuaca ga bersahabat dan juga pemandangannya sendiri uda ga bagus. Perlu effort lebih buat bikin foto bagus. Dioprekin di PS. *sigh*. Gw sendiri ga terlalu suka banyak editing. Foto kalo uda 80% okeh dari tonal dan komponya, 20% tinggal moles saja di Picasa. Ini minimum standar aja sih untuk editing foto. Untuk 20% pun, gw matok ga lebih dari 10 menit sajah. Kelamaan berarti editor foto, bukan fotografer. hehehe…

29 Nopember 2009, gw bawa Tofani Family and Kids Company ini muter2 Batam. Jam 6 pagi, kita berangkat dari Puri Legenda tercinta. Tujuan pertama ke jembatan Barelang. Dalam otak kok ya langsung muter lagu WS&TCC, “Pelan tapi Pasti”.

Laju melaju, menerpa angin di jalan raya
Riung-meriung kebut janganlah terpengaruh
Tahan emosi meluncur pelan tapi pasti
Jangan lupa sim dan STNK
Hati-hati ada razia

Gw sih lupa-lupa syairnya eh..jalannya ke jembatan Barelang. Ini salah satu landmark Batam. Orang bilang sih, “Belum ke Batam kalo belum ke Barelang. Dua puluh menit kemudian nyampe di lokasi. Langsung action. Foto pertama sudah sampean lihat, rangkaian pertama dari jembatan Barelang.

Jembatan Barelang sebenarnya 6 rangkaian jembatan2 bentang panjang yang menghubungkan Pulau Batam, Rempang dan Galang. Jembatan pertama dinamakan Jembatan Tengku Fisabilillah yang menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton. Jembatan ini berdimensi 642 x 350 x 38 meter (kira2 begitu yang bisa dikutip dari sumber tidak resmi :) ). Orang Batam sering bilang jembatan I.

Gw kurang tau gimana jembatan VI. Tapi dari jembatan I sampe jembatan V, hanya jembatan I yang unik. Menggunakan tipe Cable Stayed. Ada 2 pylon disana. Pylon ini berfungsi seperti kolom. Inilah tulang punggung keseluruhan jembatan. Hampir semua beban mati dan hidup jembatan disalurkan ke arah sana dan kemudian diteruskan ke pondasi. Kalo boleh berasumsi (karena gw ga ikutan projek ini dan cuma baca2 reviewnya saja waktu sekolah) sepertinya metode pelaksanaannya adalah Balanced Cantilever Bridge. Semua berawal dari pylon dengan menggunakan Moving Formwork. Setelah selesai, dimulailah konstruksi box girder dari bawah pylon. Kemudian disusun dengan box girder selanjutnya. Sambungkan dengan girder pertama dengan menggunakan strand wire, tension sampe designed force kemudian lanjutkan dengan box girder selanjutnya. Ketika sampai panjang tertentu, strand wire dari pylon disambung ke girder.Begitu seterusnya sampe jembatan itu selesai.

Mungkin kalo gw ketemu papernya, gw upload deh. Itu bisa lebih menjelaskan.

Okeh, untuk sementara dinikmati dulu foto2 pylon gw. Kalo gw sempat (dan PCnya ga dipake mas Rizqi) dilanjutkan dengan foto2 yang lain dan posting lain.

All photos :  http://www.flickr.com/photos/cak_learn_to_shoot/ / CC BY-NC-ND 2.0

Sunday, December 13, 2009 Posted by | Batam, PhotoBlog, Travelling | , , , , , , | 4 Comments

Valet Parking ala Ponorogo

Ini layanan valet parking ala ponorogo. Para tukang parkir ini layak dapat penghargaan sebagai layanan parkir terbaik se-Indonesia untuk kategori roda dua.

Saya kurang tau apakah layanan ini ada di kota tempat sampean tinggal, ato pernah anda jumpai di tempat lain.

"Wis mas. Tak parkirne", jarene mas Jukir

Satu, Motor selalu dihadapkan ke arah jalan. Sehingga sampean ndak susah2 untuk mendorong mundur (apalagi motor tak punya gigi mundur) sambil repot nengok kanan kiri.

"Tak jagrak tengah ben ombo. Madep dalan ben gampang metune, ben ga macet. Rasah bingung mlaku mundur. Cukup limang atus mawon", jarene wong klambi oranye iki

Dua, motor2 ini disusun oleh tukang parkirnya sendiri. Sehingga sampean boleh saja nyelonong parkir dengan membelakangi jalan. Nanti mereka yang benerin.

"Coba deloken hasil karyaku... enak tho? mantab tho? huehehehe" (pengen'e niru mbah Surip)

Tiga, parkirnya ditertibkan dan rapi. Para tukang parkir ini bak operation manager. Mana ada ruang kosong, maka motor diatur sedemikian rupa sehingga motor2 itu rapi, rapat (dengan tetap mempertahankan akses penggunanya) di area yang sempit.

Saya sendiri belum pernah menjumpai di Surabaya, Sidoarjo, Pandaan, Batam, Jakarta, Yogya, Bandung dan Malang. Ini penilaian general loh. Layanan yang biasanya saya terima di di tempat tersebut adalah tukang parkir adalah penjaga lahan. Kita yang diminta mengatur ruang dengan memindahkan motor lain terlebih dulu. Kita yang mencari ruang. Kita yang susah karena mesti mundurin motor. Di beberapa tempat, tukang parkirnya masih berbaik hati kasih sedikit tarikan untuk membantu mengeluarkan motor dan melawan gravitasi akibat aligment vertikal jalan. Kadang masih dibentak karena parkirnya salah tempat, walaupun gw kira ini salah sasaran juga. Dan bodohnya, kita juga bayar biaya yang konon masuk kas daerah.

Wednesday, September 16, 2009 Posted by | Travelling | , , , , | Leave a Comment

Pulang ke Jawa

Tepat jam 10 malam waktu Surabaya, gw dan keluarga keluar dari gate 8 Bandara Juanda. Secara umum, gw bilang Mandala berhasil mempertahankan kepercayaan gw dan keluarga. Sebenarnya ada sedikit kekecewaan ketika mereka mengirim sms 2 hari sebelum hari H memberitahukan bahwa jam keberangkatan dirubah menjadi 19:50 dari sebelumnya 17:30. Gw sih maklum aja kalo itu memang diperlukan. Dan yang paling penting adalah tepat waktu dan menepati janji.

Perjalanan malam
“Apakah kita pernah berangkat malam-malam?”, tanyaku pada istri. Istriku menggeleng. “Seingetku lebaran 3 tahun yang lalu, kita berangkat sore dari Batam dan terlantar di Juanda hingga jam 8 malam”. Hmmm…tiba2 gw inget perjalanan udara gw yang pertama. Gw naik pesawat pertama kali. Naik Adam Air (alm.) dari jakarta ke Surabaya berangkat sekitar jam 18.00. Waktu itu, gw beruntung dapat tempat duduk dekat jendela (gw berharap melihat sesuatu dari ketinggian, ketika gw ada di udara untuk pertama kalinya..hehehe). Yang lebih hebat, gw pake duit hasil reimburse transport. Boleh dibilang hampir gratis. Hmm… kenapa kok jadi sentimentil gini ya… :) Read more »

Monday, September 14, 2009 Posted by | Travelling | , , , , , , , , | Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 135 other followers