Being Different is not a Sin | Foto Konsep
Ini foto konsep gw yang kedua. Gw pikir bunga depan rumah itu warnanya Cuma merah saja. Eh, liat2 punya tetangga ternyata ada 2 jenis lagi. Ada yang warna kuning dan ungu. Mungkin ada warna lainnya lagi yang gw belum liat. Pikir-pikir mungkin kalo di-mix kayaknya cantik ya?
Sampe saat ini yang gw temuin bunga ini dari putik sampe berkembang hanya ada satu warna. Dalam satu batang, tidak ada anomali warna. Kalo dalam satu batang itu putiknya merah, ya…bakal tumbuh merah. Dan, dalam satu rumpun ya merah semua. Karena itu tidak bisa dikategorikan ‘nature’ ato karena alam. Jadi kategori Still Life karena ada unsur rekayasa ato pengaturan hingga membentuk susunan yang cantik.
Kali ini tentang ‘berbeda’. Menjadi berbeda itu bukan suatu aib. Dan memahami suatu perbedaan juga suatu keharusan. Makhluk Tuhan sudah diciptakan berbeda-beda untuk menunjukkan kebesaran-Nya. Kalo bentuknya sama semua, ya apa bedanya dengan pabrik mobil Toyota. Setiap ciptaan-Nya tidak ada yang sia-sia. Ya, seperti bunga2 ini. Walaupun dicampur dengan jenis lain, mereka malah membentuk komposisi yang bagus. Bukan malah berantem.
Note:
Tidak ada dari bunga2 ini dipetik dengan paksa. Gw cuma ngambil yang jatuh di tanah.
Kritik dan saran diterima dengan senang hati. Gw masih belajar moto dan nulis yang bener. Hehehe…
Mohon apresiasi tidak dalam bentuk karangan bunga, tapi klik tombol paypal di sebelah kanan
Senja Menggila di Singapura
23 Desember 2009, gw diajak bos meeting di Singapore. Gw sendiri juga lagi ‘gatel’ ama si D3000 ini. Practice makes perfect. Dengan banyak2 motret gw jadi ngerti kamera gw dan mempertajam skill juga. Di samping itu, gw juga mulai ngerasa motret sebagai stress-relieve yang bagus. Gw uda nyiapin tripod untuk night photograpy.
Abis miting sekitar jam 4 sore, gw ke Orchard dulu. Naik MRT dari Braddel Road. Gw juga ngetes apakah kartu gw itu masih laku ga. Dan sekalian mengenal medan. Jujur aja, berkali2 ke negeri Singa, baru 2 kali gw naik MRT dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Itupun barengan ama temen2 yang uda terbiasa. Gw cuma ngekor aja. Terbiasa dengan MRT ini juga bisa menaikkan rasa percaya diri (bahwa gw ga bakal tersesat), karena gw sering kayak orang bego juga kalo pindah jalur. Cuma ngikut temen2 aja yang pada biasa. Dan, gw cuma melongo terkagum2 tau masuk di pintu A, diem di MRT, kemudian keluar di pintu B. Seperti masuk lorong waktu saja. Hihihi…
Tujuan utama sebenarnya di Raffles Place di malam hari alias Golden Hours. Untuk membunuh waktu, makanya gw ke Orchard dulu, main2 sambil nunggu sampe gelap. Baru sekarang gw ngerti kenapa Street-photograpy itu juga menarik. Karena kita ketemu orang2 yang ga kita kenal, dan karena suasananya mereka (orang2 yang tidak kenal itu) melakukan pekerjaan ato kegiatan yang menarik. Cukup menarik untuk diabadikan kejadiannya. Street photography juga menantang jika menjadi portrait. Gw sendiri jadi segan juga motret orang2 ini. Merasa jadi ‘pencuri’. Papparazi. Tapi, mau minta ijin juga takut. Sebenarnya di akhir proses ini, baru gw ngerti street-photography yang baik adalah yang hidup. It’s about discovering life, share and get the message. Makanya gw ngerasa, foto2 gw kosong.
Contohnya ini. Ada seorang cacat kaki (sepertinya buta juga), pemain musik di jalanan orchard. Waktu itu inginnya bikin street photography dan menangkap kisah di jalanan. Yang gw tau, dia pemain trompet yang bagus, mainin lagu2 jazz. Beberapa kali pejalan kaki memberikan recehan (dan dia tidak meresponnya sama sekali, makanya gw menduga dia buta). Gw ga tau gimana ceritanya si orang ini. Gw sendiri takut juga motret ekspresinya dia. Akhirnya merhatikan dari jauh. Karena dari jauh, fotonya jadi ga jelas juga POInya. Padahal, gw sendiri merasa dapat momentumnya. Seorang buta mainin jazz. Kita ga perhatikan orang itu, beberapa memperhatikannya dan memberikan sekedarnya. Bayangin kalo dia ga ada, betapa senyapnya Orchard. Hanya ada ketergesaan saja, hedonisme dan konsumerisme.
Pada waktu menuju MRT station di seberang jalan, ketemu dengan salah satu shop yang satu ini. Hehehe… sex shop mungkin tabu di sebagian besar wilayah Indonesia. Tapi, di Singapura ini mudah ditemui di jantung kota, Orchard Road.
Tujuan utamanya adalah Raffles Place. Tempat ini dulu menarik perhatian gw karena ‘ga lazim’. Di samping gedung2 pencakar langit, ternyata masih ada pemukiman penduduk yang masih menjaga ‘kejadulan’nya. Ini bisa ditemui di sepanjang Singapore River. Ini juga salah satu potensi wisata yang ditawarkan pada wisatawan asing untuk menyusuri sungai dan menyelami sejarah awal Singapura.
Gw jalan terus hingga menyeberang jalan dan turun ke kolong jembatan. Elit juga kolong jembatannya. Ada Starbucks cuy.
Masih dengan tripod terpasang, gw balik badan. Wah… gw jadi ngiler juga ngeliat Esplanade Bridge.
Senja semakin gila. Banyak orang yang berkumpul di dekat Patung Merlion di mulut Singapore River. Banyak diantara mereka malah bicara dengan bahasa gw kenal. Jawa dan Indonesia. Hehehe… emang bukan rahasia lagi, Singapore juga surga bagi para shopaholic indonesia. Dan juga tempat mencari nafkah para TKI. Matahari mulai tenggelam, dan gw punya waktu 30 menit untuk mengabadikan Merlion dengan latar belakang gedung2 tinggi.
Sempat juga ngeliat Esplanade. Gedung itu mulai bercahaya. Sementara waktu terus berlalu, gw takut keabisan tiket pulang ke Batam. Maka berlarilah diriku menuju MRT Raffles Place dan meneruskan hingga Harbour Front.
Note: Ssst…sempat kesasar juga waktu mo nyambung MRT…






















.jpg)















