CakTopan's Journal

A Personal Journal

City of Life and Death (Dramatisasi Penaklukan Nanjing 1937)

Gw sori banget kalo ini terasa basbang. Dan emang basbang, karena film ini diproduksi di tahun 2009. Gw sendiri baru liat minggu lalu via Celestial Movies. :)

Ketika itu awal mula perang Sino-Jepang II. Kisah ini dimulai dari Kadokawa, seorang serdadu Jepang yang sedang menyerbu kota Nanjing, ibukota Cina ketika itu.  Kemudian menangkap tentara Cina yang sedang bersembunyi bersama para pengungsi. Kemudian Lu Jianxiong di bagian lain di kota Nanjing masih bisa melakukan perlawanan walaupun kemudian juga tertangkap. Yang terjadi selanjutnya tentu saja bikin gw shock. Para tentara Cina yang sudah menyerah tersebut kemudian dibantai. Pertama dikumpulkan di laut dan diberondong senapan. Yang kedua dieksekusi di lubang kubur yang sudah digali sebelumnya. Yang ketiga, dikubur hidup2. Lu jianxion, sempat gw mikir dia adalah tokoh utama film ini, ternyata sudah terbunuh di awal film dengan diberondong senapan di Sungai Yang Tze.

Selanjutnya cerita berpindah ke tim John Rabe dan sekretarisnya Mr Tang. Mereka mengelola Nanking International Safety Zone. John Rabe sendiri adalah tokoh nyata dalam peristiwa Nanking. Pebisnis ini berkebangsaan Nazi Jerman dan memanfaatkan hubungan sekutu Jerman dan Jepang untuk melindungi para pengungsi. Ternyata status John Rabe tidak terlalu berpengaruh, karena yang terjadi berikutnya sungguh mengejutkan. Tentara Jepang dengan leluasa masuk barak pengungsi dan memperkosa para pengungsi perempuan. Kemudian diberikan sebuah peraturan untuk memotong rambut pendek pada semua wanita untuk menghindari pemerkosaan. Dalam adegan lainnya, Mr Tang yang sudah menjalin kerjasama dengan Jepang dengan membocorkan posisi tentara Cina dan diberikan imunitas, malah harus kehilangan anaknya (dibunuh dengan cara dibuang dari lantai atas) dan adik iparnya dibawa tentara Jepang untuk dijadikan Jugun Ianfu. Tim John Rabe termasuk diantaranya Minnie Vautrin (ini juga tokoh nyata) meminta kesedian 100 wanita secara sukarela untuk menjadi wanita penghibur selama 3 hari dengan imbalan kesejahteraan bagi para pengungsi. Yang terjadi berikutnya juga mengerikan, tidak lebih dari 10 orang saja yang bisa kembali selamat dengan kondisi sakit mental. Sisanya mati akibat diperkosa secara terus menerus oleh tentara Jepang ato dieksekusi (diantara adik ipar Mr Tang).

Kisah ini nyata terjadi di Nanjing di tahun 1937, dimana ribuan tentara dan orang Sipil dibantai, dan sekitar 20 – 80 ribu wanita diperkosa. Seorang jurnalis Jepang pada waktu itu mengatakan bahwa salah satu sebab Nanjing bisa ditaklukkan secara cepat karena ada perjanjian diam2 diantara perwira dan anak buahnya bahwa mereka bebas menjarah dan memperkosa setelah Nanjing ditaklukkan. Nanjing Massacre ato Pembantaian Nanjing berlangsung kira2 selama 6 pekan. Perkiraan jumlah korban pada waktu itu adalah antara 100 – 300 ribu menurut beberapa sumber.

Film ini ditampilkan dalam format hitam putih. Mungkin media yang sama yang dipakai oleh Schindler’s List? Tidak ada tokoh utama dalam film ini karena dalam beberapa segmen, ada tokoh utamanya sendiri2. Sudut pandang pun juga 2 sisi, dari sisi Cina dan Jepang. Sutradara Lu Chuan sempat mendapat kecaman dari masyarakat Cina karena penggambaran sisi simpatis dari serdadu Jepang, Kadokawa.

Penggambaran visual peristiwa Nanjing ini memang bikin gw shock karena adegan pembunuhan secara vulgar (jangan dipikir kayak hollywood deh… ga pake kata penutup langsung DOR!). Sempat bikin mimpi buruk (apalagi gw lagi demam juga waktu itu). Terakhir nonton film yang sempat bikin shock dan mimpi buruk adalah Canibal Holocaust. Kalo dirating sih 4.5 bintang (dari skala 5). Gw sarankan anda2 nonton aja deh… buat yang kuat mental. Ga ada DP sih (disturbing picture) tapi dramatisasinya bisa bikin pikiran melayang kemana2 dan malah terhantui pikiran itu. :)

Membaca sejarah Nanjing Massacre di beberapa situs internet kadang jadi ngeri kalo terjadi perang di sekitar kita. Bergidik dan makin tak mengerti manusia yang dianugrahi akal dan budi, berubah jadi lebih dari monster.

Gw pikir kayaknya bagus juga kalo huru hara paska G30S PKI dimana pembantaian diperkirakan sampai 3 juta orang juga difilmkan dari sisi humanisnya seperti film ini.

referensi tentang Nanjing Massacre bisa anda baca di sini:

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Nanking_Massacre
  2. http://www.gotrain.com/dan/nanking1.htm
  3. http://www.nanking-massacre.com/

Kalo anda punya referensi lain, boleh dikomentarin dan akan gw tambahkan. Thanks uda baca. :)

Sunday, March 6, 2011 Posted by | Film | , , , , , | 4 Comments

My Name is Khan and I’m not a Terrorist

Gw ga tahan jg ngeliat review2 berbau spoiler yang ada di internet. Spoiler itu bertebaran di twitter, facebook dan kaskus. Bahkan, di salah satu TV singapura, diberitakan sambutan meriahnya di pemutaran perdana di London. Ya sudahlah, tetapkan hati dan berangkat juga akhirnya ke Mega Mall Batam Center. Istri dan anak2 ga ikutan. Wah bisa rame di dalam dan ujung2nya malah ga jadi nonton dan hangus deh duitnya. Thanks honey. :*

Film India selalu identik dengan kejar2an, petak umpet di pohon, menari dan menyanyi. Film apapun pasti bumbunya itu. Dan karena itu, gw dan sebagian besar orang kurang menyukainya. Juga dikesankan kampungan. Sebenarnya gw jg pernah liat film2 india yang bagus dan… ya, sebagian besar dimainkan oleh Shah Rukh Khan. Mungkin itu yg jadi salah satu alasan gw jadi ngebet nonton ini. Gw bisa pastikan engga ada tari menari yang lebay dan petak umpet. Kalo pun ada nyanyian itu masih wajar dalam rangka mendukung jalan cerita.

Jalan cerita singkatnya kira2 kayak gini. (Gw usahakan biar engga jadi spoiler nih). Diceritakan dari orang pertama, Rizwan Khan (Shah Rukh Khan), tentang masa kecilnya, perjalanannya dan perasaannya. Seorang penderita Asperger’s Syndrome tidak bisa mengungkapkan perasaannya dan anti social. Dan, itu yang menjadi daya tarik film ini.  Khan mampu memperbaiki apa saja. Cerdas hingga mirip ensiklopedia berjalan. Dan dengan keahliannya itu dia membiayai perjalanannya ke seluruh Amerika untuk menemui Presiden Amerika. Dia ingin mengatakan padanya bahwa namanya Khan dan bukan teroris. Ini menjadi quote/kutipan terkenal dari film ini, “My name is Khan and I’m not a terrorist”. Sebelumnya, anaknya meninggal di sekolah (yang diasumsikan) akibat bullying dengan motif rasial. Mandira (Kajol Devgan), sang istri, dengan kondisi masih tertekan, marah dan depresi meminta Khan pergi meninggalkannya. Mandira menyesal telah menikahi Khan, seorang muslim, yang mana malah mengakibatkan dirinya kehilangan anak yang dibunuh karena muslim juga. Dia menduga itu karena Sameer menyandang nama Khan, dan karena itu dia dibunuh. Dalam suatu adegan Khan menyitir surat Al-Maidah ayat 32, bahwa membunuh satu orang tidak berdosa diibaratkan membunuh semua manusia. Karena dari peristiwa itulah, kehidupan dia dan orang2 di sekitarnya berubah total. Sehingga dia menempuh perjalanan yang nantinya berpengaruh secara global pada kehidupan di Amerika. Singkatnya, matinya sameer khan itulah yang bikin dia dan semua orang jadi repot. :)

Satu hal menarik yang gw cermati dan sangat ingat detilnya adalah bagaimana ibunya mengajarkan tentang manusia. Waktu itu ada kerusuhan rasial Hindu – Islam di India (baca Bombay Riots 1993). Rizwan mendengar kata2 hujatan pada orang Hindu. Ibunya sangat marah dan memintanya dia diam. Ibunya lalu mengambil kertas, menggambar 2 orang pada 2 kondisi. Kondisi pertama, orang tersebut memukul Khan. “That’s a bad attitude”, kata Khan. Kondisi kedua, orang tersebut memberi lollipop pada Khan. “That’s a good person”, kata Khan. Ibunya lalu bertanya, “Now, tell me, which one is Hindo and which one is moslem?” Khan kebingungan dan berkata, “I don’t know and they’re look the same”. Kemudian ibunya berkata, Rizwan, there are two kind of people in this world, bad people and good people. And, good people do a good deeds”. Suatu prinsip yang dipegang teguh oleh Rizwan hingga dewasa untuk menjustifikasi orang. Dan, prinsip ini yang dipegang oleh Rizwan untuk melamar Mandira. “You’re good person. And, it’s enough for me”, kata Khan ketika mendengar apa alasan Rizwan melamarnya. Gw pikir ini pembelajaran yang sangat bagus untuk menjauhi stereotype pada sekelompok orang yang belum tentu kebenarannya. Tidak ada orang Hindu yang baik, ato orang Islam yang jahat. Yang ada adalah orang baik dan orang jahat. Ini pelajaran baik yang mudah diajarkan pada anak2 balita. Apalagi di Indonesia yang multicultural.

Buat gw, kata2 yang gw warnai merah adalah quote yang paling gw suka. Sederhana, mudah dimengerti.

Film ini memecahkan rekor box office film2 India yang diputar di luar negeri. Minggu pertama menghasilkan INR 295 juta (USD 6.4 juta ato IDR 59 Milyar ) dalam minggu pertama. Dalam 4 minggu sejak dirilis, menghasilkan INR 700 juta (USD 15.3 juta ato IDR 140 M !!) di India. Film India termahal kedua setelah Blue. Dalam beberapa review, skornya antara 70% hingga 80%(wiki). Menurut gw sendiri layak diberi rating 4.5/5 lah. Menurut IMDB, ratingnya PG-13, some violence, sexual content and language. Selama bawa anak balita yang engga mudeng bahasa Inggris ato Hindi dan belum bisa baca, kayaknya aman2 saja.

Buat gw, ada beberapa detil yang kurang dieksplor, misalnya tentang “repair almost anything”nya Rizwan Khan. Padahal cuma ditunjukkin dia bisa memperbaiki pompa dan ditunjukkan antrian tetangga yang panjang dengan membawa aneka macam barang. Gw masih engga nangkep, bagaimana cara Rizwan mendeteksi kerusakan dan memperbaiki tanpa referensi.  Tapi, itu kekurangan minor saja supaya durasi film juga tidak panjang. Juga, Gw akuin orang India jago bikin film yang didramatisir demikian apiknya. Sehingga unsur dramanya menonjol dan sanggup menguras air mata dan semua pesan tersampaikan secara jelas. Ini bukan film tentang geliat muslim di amerika setelah 9/11. Juga bukan tentang seorang autis. Tapi, tentang kemanusiaan dari sudut pandang seorang yang ‘abnormal’ beserta nilai2 yang ditanamkan ibu dan gurunya terhadap dunia. Pandangan seorang yang jujur, cerdas dan lugu. Kalo mau jujur, ternyata dunia itu engga serumit yang kita pikirkan. Dalam adegan terakhir, tokoh Mandira berbisik pada Sameer, “Sam, Khan telah menunjukkan pada diriku bahwa masalah itu bisa diselesaikan dengan keteguhan hati dan cinta. Amarahku tidak menyelesaikan masalahku”.

Menarik mengetahui cara seorang Asperger’s Syndrome menanggapi lingkungan sekitarnya. Lugu dan straight to the point. Pertama, ketika Rizwan ditahan dan temperature ruangan dimainkan sedemikian rupa. “It was cold at here. Maybe the aircon is broken, so I propose myself to fix the aircon”. Dua, ketika dia ditanyai mengenai Al-Qaeda. “I don’t know about Al-Qaeda. They’re angry because I don’t know the answer. Maybe, everything will be fine if I study Al-Qaeda before”. Wah, bisa tambah gawat dong kalo dia bilang. :p

Entah kebetulan ato tidak, ada satu adegan dimana Rizwan Khan dipisahkan dari antrian imigrasi, ditelanjangi dan dibongkar bawaannya karena dicurigai. Dalam kejadian sebenarnya, Shah Rukh Khan sendiri mengalami kejadian yang sama ketika datang ke Amerika dalam rangka promosi film tersebut di Newark Airport, New Jersey. Ditahan dan diinterogasi selama 2 jam. Beberapa orang yang sedang mengantri adalah keturunan Asia. Salah satu diantaranya bahkan mengenali dan berani menjamin bahwa SRK adalah selebritis  dengan reputasi dunia dan tidak akan melakukan hal2 yang mencurigakan. Kejadian ini sempat memicu perdebatan antara politisi India dan Amerika yang membuat film ini semakin terkenal. Sehingga, Karan Johar sang produser, dituduh men-skenario-kan kejadian tersebut supaya filmnya laku. Karan Johar menolak tuduhan tersebut dengan mengatakan, “Jika saya yang punya kekuasaan super sehingga bisa mempengaruhi cara kerja imigrasi Amerika, mengapa saya membiarkan Shah Rukh melalui prosedur tidak mengenakkan itu”. Pihak Imigrasi Amerika berkilah bahwa itu dilakukan semata-mata karena prosedural karena nama Khan muncul dalam sistem mereka.

“My name is Khan. Not Han. Kh…. from Epiglottis…”, gitu caranya mengucapkan namanya.

WAJIB DITONTON !

Wednesday, March 24, 2010 Posted by | Film | , , , , , | 7 Comments

Goal, Ayo bikin “Goal” !

Gw ketiban rejeki gede. :D   Ada salah satu film (yang katanya) bagus yang dibuat di tahun 2005, yang selalu ingin gw tonton, tapi ga pernah kesampaian. Dan, akhirnya diputer juga oleh salah satu TV swasta minggu lalu. Goal! Adalah film tentang sepakbola. Tentang mimpi yang menjadi kenyataan. Tentang perjuangan dengan pengorbanan . Film ini dibuat dengan bekerja sama dengan FIFA. Makanya kita akan melihat sekelebat para pemain bola terkenal sebagai cameo memerankan dirinya sendiri dalam film ini. Gw sempat melihat Alan Shearer, Jermaine Jenas, Raul Gonzales, David Beckham dan Zinedine Zidane.

Ceritanya dimulai dari Los Angeles. Santiago Munez adalah imigran gelap Mexico yang tinggal di Los Angeles. Bekerja dengan ayahnya sebagai pembersih kolam dan taman. Malam harinya, masih sempat nyambi sebagai tukang cuci piring di restoran. Santiago juga bermain bola di sore hari di klub lokal AJFC. Suatu sore, Glen Foy mantan pemain Newcastle United melihat permainannya dan memujinya sebagai pemain bagus dan berbakat. Glen Foy berjanji akan mendatangkan agen pemain (yang kebetulan berada di LA) untuk melihat permainannya di hari sabtu. Nyatanya, si agen tidak datang sama sekali. Glen Foy nekat menelepon Erik Dornheim, pelatih Newcastle United, untuk memberi Santiago kesempatan mencoba. Tiba kesempatan Glen kembali ke Inggris, dan memberitahukan Santi bahwa dia mendapatkan ‘trial’ jika dia bisa datang ke Inggris. Santiago mencoba mengumpulkan uang untuk membeli tiket ke Inggris. Ternyata, si ayah malah mencuri uang simpanan (lebih tepatnya meminjam kalo dari sudut pandang ayahnya) Santi untuk membeli truk supaya bisa membuka usaha sendiri.

Santiago mendapat dukungan dari neneknya. Si nenek membelikan tiket bus ke Mexico dan dari sana bisa terbang ke Inggris. Yup, sebagai imigran gelap, Santiago tidak bisa terbang langsung dari bandara amerika ke Inggris.

Kesempatan itu pun datang, Santiago malah bermain buruk dalam trial pertamanya. Bermain dalam hujan, terpeleset dan sering kehilangan bola. Si pelatih tidak terkesan sama sekali. Glen meminta pelatih untuk memberikan kesempatan lebih, karena si pemain dalam keadaan lelah dan jetlagged sehingga tidak bisa memberikan kontribusi yang baik. Santiago mendapat satu bulan percobaan.

Bermain dalam reserve secara baik memberikan dirinya kesempatan untuk bermain dalam tim regular. Dalam pertandingan away melawan Fulham, dirinya dilanggar di kotak penalty dan menguntungkan timnya. Timnya menang dan pelatih tetap tidak suka dengan cara bermainnya yang cenderung individual, one man show. “oper ke kawanmu, karena bola lebih cepat daripada larimu”.

Menjelang pertandingan melawan Liverpool, serangkaian cobaan datang. Dirinya tertangkap kamera sedang berseronok dengan cewek, kemudian hampir diskors karena bungkam tidak mau memberitahu siapa pemain lain bersamanya. Setelah itu, teman karibnya, Jamie cedera parah hingga tak bisa bermain sepakbola lagi. Kemudian, satu hari menjelang pertandingan ayahnya meninggal dunia sehingga dia ada di persimpangan. “Pulang dan menghidupi keluarga dengan melanjutkan pekerjaan ayahnya, ato tinggal dan melanjutkan impiannya sebagai pemain bola professional”.

Akhirnya sih mudah ditebak. Happy ending kok. Tapi, pesan terpentingnya sih… Never give up dan jangan peduli omongan orang selama kita yakin dengan yang kita jalanin (dan engga melanggar norma sih). Engga ada yang terlalu teknikal dengan sepakbola. Ga perlu sampe gibol untuk memahami film ini. Ini jenis film yang lebih dari sekedar hiburan, karena bisa membuat sampean lebih bersemangat mengejar cita2 yang sampean yakini. Walaupun bagi orang lain itu cuma mimpi di siang bolong, omong kosong.

Satu yang bikin saya suka film ini. Aksen inggrisnya bertebaran dimana-mana. Berasa Eropa. Kehidupan Inggris dengan sepakbola sebagai ‘agama’ juga ditonjolkan. Engga heran hooligan tumbuh subur. Lha wong fanatic disiram alcohol. Enjoy !

Menurut informasi di internet sih, film ini menjadi trilogi. Ya, tunggu aja diputer di TV. hehehe….

*sori, kalo review filmnya telat. yang belum, supaya jadi pengen liat. yang sudah pernah liat, barangkali mau diulangi* :D

Wednesday, March 17, 2010 Posted by | Film | , , , , | 1 Comment

The Pupil – Sinetron Hukum Singapura

Sejak beberapa minggu yang lalu, saya tertarik juga mengikuti sinetron Singapura ini. Saya sih paling seneng serial Phua Chu Kang, kemudian hantu cantik yang diperankan Fiona Xie (lupa judulnya). Police and Thief pun lucu banget. Pernah juga ada film pendek tentang Human Interest hubungan antara kakek dan cucunya. Waktu itu sangat mengharukan sampe menitikkan air mata. huhuhu…. Itu acara hiburan. Untuk yang serius, saya suka Unexpected Access. Dulu dipandu Wong Li Lin. Menceritakan mengenai kehidupan yang mungkin ga pernah diliat orang2 umum. Misalnya, dulu tentang pekerjaan di Keppel Ship Yard. Kemudian, cara bekerja Imigrasi Singapura di Woodlands Border. Bagaimana mereka mengidentifikasi potensi bahaya dalam waktu terbatas supaya tidak mengganggu keamanan.

Saya sih harus akui tertarik juga dengan sinetron The Pupil. Saya kurang tau para Singaporean menjuluki apa film2 pendek dan serial yang ditayangkan di TV. Makanya saya sebut Sinetron saja.

The Pupil ini dibintangi oleh Rebecca Lim, Adrian Pang, Janice Koh dan Elfaeza Ul Haq. Mereka bekerja di firma Hukum Roberts and Fong. Sumber cerita konon dari kejadian nyata. Setiap kasus ditayangkan per episode. Dari mulai kasus penolakan penerimaan siswa di sekolah, kekerasan pada orang tidak mampu, hingga tuntutan akibat kecelakaan taksi. Serial ini mau menunjukkan bagaimana para pengacara ini bekerja demi klien yang dibelanya supaya mendapatkan keadilan. Tentu saja, dibumbui kisah pribadi masing2 personelnya. Misalnya Wendy Lim, seorang Malaysia yang memulai karir magangnya (Pupil, makanya sinetron ini diberi judul begitu) di firma hukum ini karena ingin mencari jejak ayahnya. Bukti yang dia pegang adalah sebelum ayahnya menghilang, sempat berhubungan dengan firma ini. Juga Nisa, yang mencari pengakuan dari keluarganya.  Juga pemeran2 lainnya punya masalah pribadi sendiri2, semata2 untuk menunjukkan sisi manusianya dan menjaga alur cerita sinetron ini tetap menarik.

Saya harus akui ini memang menarik. Mungkin mirip Law & Order era tahun 90-an. Juga, mengingatkan saya pada novel2 karya John Grisham. Beberapa istilah hukum diperkenalkan. Dialog2nya mantab, walaupun saya masih suka terkikik mendengar dialek mandarin dalam bahasa Inggris mereka. Menarik juga, Channel 5 tetap menayangkan subtitle mandarin dan Melayu. Jadi, saya juga ga terlalu susah payah memahaminya. Lebih penting lagi, aktingnya. Adrian Pang selalu sukses memerankan orang menyebalkan. Dan, Rebecca Lim juga terlihat lugunya dalam memerankan orang yang baru lulus kuliah.

*eh ada tak sinetron Indonesia macam ini?* :p

Monday, February 1, 2010 Posted by | DuniaSana, Film | , , , , , , , , | Leave a Comment

Lord of War : jalan ceritanya mirip sinetron.

Sekilas ngeliat adegannya, gw sadar film yang ini belum pernah gw tonton sama sekali. Ini film lama loh. Diproduksi di tahun 2005.

What? Filem lawas kok sik mbok bahas, cak?

Yo ben. Wong isoe cuma nonton filem lawas lewat tipi. Gratis pisan ^_^

Jalan ceritanya sederhana saja. Yuri Orlov yang diperankan oleh Nicholas Cage (ini salah satu aktor favorit saya), adalah seorang pedagang senjata gelap. Mulai kecil2an dulu dari antara mafia di regionalnya. Ketika era perang dingin usai dengan bubarnya Uni Sovyet, Yuri dapat berkenalan dengan jenderal rusia. Mendapatkan senjata2 dan peralatan militer canggih secara ilegal melalui koneksi militernya tersebut. Yuri menyuplai senjata pada perang2 saudara di Afrika. Salah satunya adalah Andre Baptiste, diktator Liberia. Bukannya tanpa kendala, Yuri juga selalu dibuntuti oleh Detective Jack Valentine dari Interpol yang diperankan Ethan Hawk.

Suatu ketika, Andre Baptiste meminta Yuri untuk menyuplai senjata kembali. Sebelumnya Yuri ‘tiarap’ karena Ava (Bridget Moynahan) mengetahui bisnis suaminya tersebut. Yuri mengajak adiknya Vitaly ke Sierra Leonne, untuk mengantar pesanan tersebut. Vitaly mengetahui bahwa senjata2 yang dia bawa tersebut akan digunakan untuk membunuh para penduduk sipil. Vitaly meminta Yuri untuk membatalkannya. Yuri menolak. Dan, Vitaly melakukan caranya sendiri. Mengebom truk pengangkut senjata dan dia sendiri diberondong peluru ketika akan meledakkan truk kedua. Suatu ironi terjadi ketika Yuri membawa jasad Vitaly kembali ke Amerika. Setelah jasadnya telah dibersihkan dari proyektil2 peluru dan mengarang surat kematian palsu, ternyata ada satu peluru yang tertinggal di jenasahnya. Yuri Orlov, seorang pedagang senjata gelap yang bisa mengelabui bea cukai dan hukum dimanapun, ternyata tertangkap karena 1 peluru saja.

Ya, gw bilang ceritanya mirip sinetron2 berbau klenik itu. Pedagang gelap yang selalu memanipulasi hukum internasional demi uang haram, akhirnya ditinggalkan oleh keluarganya, tidak diakui lagi oleh orang tuanya dan adiknya mati tragis, ketangkap interpol pula. Sudah jatuh tertimpa tangga pulak. Hanya saja akhirnya bukan sekarat plus luka dan berdarah2 gitu… hehehe…

note:
*menarik untuk mengetahui untuk apa blood diamond itu*
*note menarik dari wiki, katanya film ini di-endorse oleh Amnesti International untuk memperlihatkan jahatnya bisnis jual beli senjata ini*

Friday, January 22, 2010 Posted by | Film | , , , , , | 5 Comments

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 135 other followers