The Pupil – Sinetron Hukum Singapura
Sejak beberapa minggu yang lalu, saya tertarik juga mengikuti sinetron Singapura ini. Saya sih paling seneng serial Phua Chu Kang, kemudian hantu cantik yang diperankan Fiona Xie (lupa judulnya). Police and Thief pun lucu banget. Pernah juga ada film pendek tentang Human Interest hubungan antara kakek dan cucunya. Waktu itu sangat mengharukan sampe menitikkan air mata. huhuhu…. Itu acara hiburan. Untuk yang serius, saya suka Unexpected Access. Dulu dipandu Wong Li Lin. Menceritakan mengenai kehidupan yang mungkin ga pernah diliat orang2 umum. Misalnya, dulu tentang pekerjaan di Keppel Ship Yard. Kemudian, cara bekerja Imigrasi Singapura di Woodlands Border. Bagaimana mereka mengidentifikasi potensi bahaya dalam waktu terbatas supaya tidak mengganggu keamanan.
Saya sih harus akui tertarik juga dengan sinetron The Pupil. Saya kurang tau para Singaporean menjuluki apa film2 pendek dan serial yang ditayangkan di TV. Makanya saya sebut Sinetron saja.
The Pupil ini dibintangi oleh Rebecca Lim, Adrian Pang, Janice Koh dan Elfaeza Ul Haq. Mereka bekerja di firma Hukum Roberts and Fong. Sumber cerita konon dari kejadian nyata. Setiap kasus ditayangkan per episode. Dari mulai kasus penolakan penerimaan siswa di sekolah, kekerasan pada orang tidak mampu, hingga tuntutan akibat kecelakaan taksi. Serial ini mau menunjukkan bagaimana para pengacara ini bekerja demi klien yang dibelanya supaya mendapatkan keadilan. Tentu saja, dibumbui kisah pribadi masing2 personelnya. Misalnya Wendy Lim, seorang Malaysia yang memulai karir magangnya (Pupil, makanya sinetron ini diberi judul begitu) di firma hukum ini karena ingin mencari jejak ayahnya. Bukti yang dia pegang adalah sebelum ayahnya menghilang, sempat berhubungan dengan firma ini. Juga Nisa, yang mencari pengakuan dari keluarganya. Juga pemeran2 lainnya punya masalah pribadi sendiri2, semata2 untuk menunjukkan sisi manusianya dan menjaga alur cerita sinetron ini tetap menarik.
Saya harus akui ini memang menarik. Mungkin mirip Law & Order era tahun 90-an. Juga, mengingatkan saya pada novel2 karya John Grisham. Beberapa istilah hukum diperkenalkan. Dialog2nya mantab, walaupun saya masih suka terkikik mendengar dialek mandarin dalam bahasa Inggris mereka. Menarik juga, Channel 5 tetap menayangkan subtitle mandarin dan Melayu. Jadi, saya juga ga terlalu susah payah memahaminya. Lebih penting lagi, aktingnya. Adrian Pang selalu sukses memerankan orang menyebalkan. Dan, Rebecca Lim juga terlihat lugunya dalam memerankan orang yang baru lulus kuliah.
*eh ada tak sinetron Indonesia macam ini?* :p
Palestina diserang [lagi]
Duh, bejatnya Israel. Tak bosan2nya menyerang Palestina. Negeri kere yang cuma punya milisi Hamas. Cuma dapat simpati negari Barat. Banyak dukungan dari sodara sesama Muslim. Bahkan tak sedikit yang menyanggupi berdiri di garis depan menantang tentara Zionis. Tak kurang dari 434 people telah mati dan 2,240 luka-luka sejak bombardir Israel di mulai. Termasuk diantarnya pemimpin senior Hamas, Nizar Rayyan, yang terbunuh di rumahnya. Demikian kata Al-Jazeera di sini. Tanah
Berita semakin seru dan makin membingungkan. Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni, mengatakan di NY Times bahwa Hamas yang harusnya disalahkan karena Hamas, menyelundupkan senjata dan membentuk pasukannya. Hamas telah meluncurkan roket2nya ke pemukiman Israel. Saya belum ketemu ada laporan yang menyebutkan jumlah korban di pihak Israel. Untuk itulah Israel menyerang balik. Saya mengetahui dari Channel 5 Singapore, bahwa Israel ingin membuktikan, melalui jaringan intelejennya, bahwa mereka mengincar obyek militer dengan me-launching video pengeboman di Youtube. Mereka ingin memenangkan opini publik setelah dikecam habis2an oleh negara Arab dan PBB. Ini era media dan image itu penting, Kawan. Bukan Marcella Cs, pengacara2, dan Roy Suryo saja yang memanfaatkan media. Israel juga. Sapa yang menguasai publik, maka dia sudah menguasai “kebenaran”.
Demi mengurai benang kusut sapa menyerang sapa dan tergerak oleh rasa ingin tahu, serta tidak ingin termakan media Barat yang kadang berat sebelah, maka kulanggan RSS dari 2 media ternama Timur Tengah. Al-Jazeera yang sudah terkenal anti mainstream dan Gulf News yang konon kata Hanif, adik kelas saya, adalah media terpercaya di Mid-East. Menarik mengamati perang yang berat sebelah dan ga jelas motifnya. Perang di tanah suci 3 agama besar di dunia ini selalu menyita perhatian umat.
Salah seorang teman penyuka conspiracy theory telah menunjukkan Grand Scenario gilanya. “Harga minyak naik karena suhu politik memanas di Middle East, Cak. Baca di sini. Amerika dan sekutunya ga mau rugi lama-lama. Segala cara dilakukan untuk menaikkan harga minyak mentah demi mendongkrak perekonomian. Kurang aja betul. Tak elok kelakuannya karena bersenang2 diatas derita orang.”, katanya berapi-api. Saya cuma diam. Beritanya benar begitu, tapi apa memang begitu?
Saya juga mengajak teman saya itu berdoa untuk Palestina. Saya cuma mampu berdoa saat ini.
i mst nt txt in clss
Short Message (SMS) is destroying our language. Short the word by throwing and deleting the vocal letters. We use it for writing messages to our colleagues, or family. Chatting via YM, or Gtalk as well. We love it, because it short, cheap. We do it oftenly as part of social activity among them and get to be used to it. In several occasions, we didn’t realize that we use this language in formal documentation such as letter, etc. Carefull, Guys
The Strait Times 25 October, page E8
Another Story about Zimbabwe Inflation
Zimbabwe’s annual inflation rate – already the world’s highest – has soared to 231,000,000%, newly released official figures show.
The rise – from 11,200,000% – was largely due to increases in the prices of bread and cereals. (BBC)
Two Hundred Million Percent? Hello…We are talking a HUGE number here. It’s not a common percentage number for me.
Another story about Zimbabwean Billionaire in here.







.jpg)















