CakTopan’s Journal

A Personal Journal

Archive for the ‘Computer Stuff’ Category

Kembalikan Tampilan Awal Facebook

with one comment

Entah dengan alasan kenapa developer FB memutuskan untuk merubah tampilan Home view beberapa hari yang lalu. Sekarang ada 2 tab ada disana. Live Feed dan News Feed.

News Feed aggregates the most interesting content that your friends are posting, while Live Feed shows you all the actions your friends are making in real-time. (facebook help)

Live feed sendiri seperti informasi tentang aktivitas apapun teman2 kita di FB. Diterjemahkan “kabar terkini” dalam bahasa Indonesia. Tidak sekedar ganti status. Bisa jadi si teman baru saja menjalin pertemanan dengan yang lain, baru saja meng-upload foto, baru saja di-tagged di foto teman lain. Kalo boleh gw simpulkan tampilan ini mengcopy “recent activity” teman2 kita, yang biasanya ada di profil, ke Live feed di home tab punya kita. Makanya kadang dalam 5 menit saja, bilangan updatenya bisa sampe ratusan. Terutama jika teman2 anda tergolong aktif dan memang berjumlah banyak.

Sedangkan News Feed seperti trending topics di twitter. Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Kabar Berita. Ini adalah kumpulan thread terpopuler (sebut saja begitu) dari teman2 anda. Bisa jadi status, foto, notes ato lainnya. Gw sendiri kurang tau gimana cara menilainya sehingga thread itu dinilai layak masuk News Feed ato layak jadi berita. Top thread di News feed gw sendiri adalah foto yang diupload 7 hari yang lalu dan sampe hari ini dikomentarin. Gw sendiri ga pernah bisa masuk News feed gw sendiri karena ga pernah dapat komentar. Sementara di Live Feed, owh…hidup terlalu kejam, statusku tidak pernah bertahan lebih dari 1 menit di sana akibat tertimpa aksi2 attractive facebookers lain dalam menjalin teman, meng-upload foto, update status, dan main game.

Jika dalam tampilan awal tentu saja foto itu akan cepat tenggelam, kecuali anda ikut di-tagged di foto itu yang mana akan mendapat update terus. Ada baiknya tampilan baru ini jadi menyelamatkan thread2 bagus yang akan banyak mengundang atensi dari rekan lain. Sedangkan Live feed, harus ditambahkan suatu filter sehingga berita2 ga penting itu bisa dieliminir. Contohnya, update bahwa si A baru saja menjalin pertemanan dengan B. Buat gw, entah dengan anda, ini cuma noise yang mengganggu ketertarikan gw pada status teman2 gw. Dan fb-pun gw tinggalin untuk sementara, karena tak ingin terganggu Live Feed, dan juga tidak tertarik pada trending topics News Feed yang kadaluarsa.

Sebuah group “WE WANT THE OLD FACEBOOK BACK! – Facebook Live Feed Sucks!” pun dibuat oleh orang2 yang merasa terganggu dengan tampilan ini. Maksudnya memberikan tekanan pada developer facebook untuk merubahnya. Mungkin bisa berhasil, walaupun gw lebih yakin enggak. Kita juga yang kalah ama FB karena uda kecanduan dan belum ada social network yang sepopuler FB sekarang.

Seorang member menyarankan untuk merubah dari News Feed ke Status Updates saja. Itu sudah mendekati tampilan awal sebelumnya. Karena jika ada teman yang meng-upload foto, anda tidak akan melihatnya di situ. Karena yang di-update cuma status saja, bukan foto, games ato application lain. Masuk ke “home” ato “beranda” (jika anda menggunakan FB bahasa Indonesia). Caranya, anda liat pojok kiri atas. Klik “More” (eh, apa ya bahasa Indonesianya? “Lainnya” ya), klik itu. Anda cari status updates (Status terbaru), taruh paling atas sendiri. Kalo sudah, klik. Taraaaa… anda dapat tampilan awalnya.

Written by caktopan

Wednesday, October 28, 2009 at 4:02 am

Promosi Blog via Search Engine dengan bantuan Mypagerank.net

with one comment

Blog bisa dipromosikan seperti dagangan lainnya. Via teman sepermainan, sodara seperguruan, relasi kerja maupun teman maya dengan metode dari konvensional. Misalnya pas lagi ngegosip. “Eh, barusan review film terbaru Miyabi loh. Cek deh di blog gw”. Ato, Sebarkan saja kartu nama dengan alamat blog sampean. Bisa juga, kasih signature dalam setiap email yang anda kirimkan. Kalo bermodal gede, tentu saja undang wartawan gosip kelas nasional dan adakan konferensi pers.

subscribe-my-pageranknet Tapi, banyak juga blogger2 profesional (dalam artian dia bekerja sebagai blogger dan itulah mata pencahariannya) menggantungkan pada traffic via search engine. Dengan harapan, dari sekian juta pengguna internet mungkin ada 1-2% diantaranya tersesat di blognya ketika sedang mencari content tertentu. Harapannya tentu saja, para visitor ini yang akan meng-klik iklan2 yang bertebaran di blognya. Tentu saja ini adalah salah satu contoh kasus dimana blogger tersebut mencari uang dengan adsense ato pay per click.

Salah satu buku yang gw pernah baca menyarankan untuk menggunakan mypagerank.net untuk mendaftarkan diri pada lebih dari 20 search engine di dunia. Blog gw yang ini memang diniatkan untuk masyarakat Indonesia. Sehingga, prioritasnya didaftarkan pada search engine yang lazim dikenal di Indonesia.

Prinsip kerjanya sebagai berikut. Para search engine ini punya crawler yang secara berkala meng-index seluruh situs yang ada di dunia. Langkah ini adalah langkah menjemput bola. Daripada pasif menunggu crawler, mendingan kita bergerak aktif untuk mendaftarkan blog kita. Tujuannya supaya content kita cepat laku, dan bermanfaat dalam tempo yang singkat.

  1. Kunjungi http://www.mypagerank.net/
  2. Lihat sidebar dan cari sitemap submitter. (langsung klik disini juga bisa)
  3. Jika tidak punya account, anda cuma didaftarkan pada ask.com, google.com, yahoo.com dan MSN
  4. Jika punya, anda bisa liat screen shot dibawah ini.

Mendingan punya account-nya saja. Gratis kok. Lagipula, fasilitasnya lebih banyak daripada yang ga punya account sama sekali.

Written by caktopan

Friday, October 9, 2009 at 10:40 pm

Cek Shutter Count di Ubuntu

with 2 comments

Ceritanya nih, gw baru beli kamera DSLR baru. Kamera ini barang mewah buat gw dan keluarga. Hingga hari ini, kamera pocket manual aja blum pernah punya. Henpon berkamera aja baru punya 2 tahun yang lalu. Padahal, uda kebelet njepret sejak masih kuliah dulu. Sempat belajar sama teman kuliah dan adik sendiri tentang dasar2 fotografi. Tapi, ya begitulah… minim praktek karena kamera harus pinjem sana dan sini.

Ini omongan orang awam fotografi loh. Jadi gw cuma mau kasih tau kalo program default di Ubuntu juga bisa membaca data EXIF. Jika di Windows, perlu program tambahan dulu.

Dalam beberapa review kamera, seperti di sini dan di forum fotografer.net yang gw baca (sebelum memutuskan), selalu dicantumkan tentang shutter release number. Berapa kali jepret kamera itu bisa bertahan dan berfungsi apik sejak dibuat di pabrik. Gw memahami ini sebagai design life dari sebuah alat. Wajar saja, wong alat juga dipake pasti ada umurnya…

Kamera baru tentu saja shutternya dimulai dari 0. Kamera bekas, tentu saja shutter countnya juga sudah lebih dari 0. Besarnya shutter count juga turut menyumbang komponen harga barang bekas. Kamera dengan bilangan Shutter  besar bisa dihargai lebih murah daripada kamera dengan jumlah shutter lebih kecil untuk kamera dengan tipe dan kondisi fisik yang sama. Itu artinya kamera itu sudah mendekati design life nya. Uda mau mati kasarnya. Walaupun gw juga yakin, ini persoalan statistika probabilitas tergantung cara menggunakan, merawat kamera serta kualitas material dan manufaktur dan faktor X lainnya.

Hampir semua situs dan forum diskusi menyarankan Irfanview, Opanda IExif dan xnview yang running di system Windows. Juga yang berjalan di Mac. Linux? Waduh…ga ketauan pake apa. Sempat gw download Opanda, mo coba install tapi urung dilakukan. Iseng2 cek pake gthumb image viewer. Ini bawaan dari ubuntu – Gnome. Ternyata bisa !!!

  1. Hubungkan kamera dengan komputer dengan USB cable.
  2. Pilih foto yang terakhir diambil dan simpan di local drive. Caranya “FILE” -> “Import Photos”.
  3. Klik kanan dan pilih properties. Pilih “Photo Data (EXIF)”
  4. Cari string dengan judul “Total Number of Pictures Taken”.

gthumb-preview

Bisa juga dengan gwenview. Ini picture viewer bawaan KDE (Kubuntu). Bedanya dengan gthumb adalah gw belum nemu caranya import foto ke local drive. :D

  1. Pilih foto yang terakhir dan liat sidebar sebelah kanan.
  2. Ada tab “Information” dan klik “more”
  3. Cari string dengan judul “Shutter Count”.

gwenview-prop

Hingga hari ini, gw dan istri gw sudah “njepret” 320 kali. Jumlah foto dalam memory card juga 320 biji, belum ada satu pun yang dihapus. Foto terakhir adalah DSC_0317 (memory card-nya sempat dilepas, jadi file sequence-nya direset kembali ke 0). Sehingga bisa gw simpulkan si penjual ga curang ama gw.

Soalnya gw beli dengan modal nekat, ga pake ditemenin teman yang lebih ngerti :)

Written by caktopan

Monday, October 5, 2009 at 9:03 pm

Pinter-pinterlah Ngatur Kapasitas Hosting

without comments

Gw uda cerita sebelumnya tentang my self-hosted blog. Cara install dan beberapa setting wordpress akan gw bahas beberapa hari ke depan. Mumpung cuti jadi engineer :) , mendingan jadi blogger selama 3 minggu.

Ini pelajaran pertama yang gw dapat tentang self-hosted blog. Berbeda dengan layanan gratisan wordpress.com dan blogger.com, self-hosted blog dibatasi dengan kapasitas hosting yang kita sewa (eh…sewa ato beli sih?). Untuk pertama, gw coba 25 MB saja dengan kapasitas bandwidth cuma 0.5 GB. Dengan domain .net, satu paket hosting dan domain itu gw tebus dengan harga 211 Rb saja. Gw yakin bahwa dengan kapasitas cuma 25 MB itu sudah lebih dari cukup untuk ‘main-main’.

Paket WordPress 2.8.4 berhasil di download. Gw coba unpack dulu di lokal, dan cuma 10 MB saja. Begitu pula dengan theme yang gw pengenin. Tidak lebih dari 2 MB saja. Sehingga, kapasitasnya kira-kira masih 50% dari kapasitas maximum. Ternyata gw salah taruh folder. Blog gw tidak bisa dibuka di alamat http://babameutia.net. Tapi harus di http://babameutia.net/wp. Itu karena gw masukkan folder wordpress dalam satu folder tersendiri. Tanya-tanya sama bang Ismu, malah mumet memahami jawabannya. [Hihihi... Newbie, Om ^_^ ]. Sehingga, wordpress itu pun kembali di-install di root directory babameutia.net. Gw pun ganjen banget dengan mencoba 4 theme sekaligus. Copy Zip file-nya ke direktori itu, kemudian di-uncompress di server.

Selang 2 hari kemudian, dapat notifikasi dari cyber coral bahwa gw telah menggunakan 24 MB dari 25 MB. MAK !! apa pasal nih? Gw delete semua theme beserta zip filenya. Mungkin itu penyebabnya walaupun gw sangsi karena file theme itu ga lebih dari 2 MB. Dua hari yang lalu dan kemaren, kembali notifikasi itu masuk ke inbox, mengatakan bahwa gw sudah menggunakan 23 MB. Wah, ga bener nih.

Kendalanya adalah access gw ke file manager di server sudah diblok oleh IT kantor dengan alasan “Potential Damaging Content”. Gw cuma bisa akses via web di rumah (itu pun harus antri dengan Iqichan, dan maminya). Tiba-tiba gw inget, gw punya fileZilla FTP client. Ya sudah, masukin login dan password, akhirnya gw masuk ke server. Gw delete aja folder instalasi gw yang pertama. Gw lupa kalo instalasi wp yang pertama itu belum dihapus. Makanya ada 2 WP dalam server yang mengakibatkan 2x 10 MB yang memenuhi kapasitas server.

So, moral story is since you pay it, it doesn’t mean that you own everything. You have to manage it, bro. :)

Written by caktopan

Friday, September 11, 2009 at 9:23 am

My New Self-Hosted Blog

without comments

Uda lama pengen bikin blog yang berbayar. Nama domain unik dan desain yang ciamik jadi faktor pemicunya. Sekarang ada rejeki lebih. Ya sudah lah, direlakan untuk mewujudkan cita-cita. Biar ga dihantui mimpi-mimpi lagi.

Rencananya blog ini mau gw jadikan semacam referensi ato galeri apa yang uda gw kerjain, yang lagi gw lakuin dan apa yg gw sedang pikirin sebagai seorang civil engineer. Ga banyak civilian yang ngeblog soal civil engineering. Kecuali pak Wiryanto dan Dongeng Geologi. Ini juga bagus, curhatnya seorang instrument engineer, Automentation Community. Tapi, mudah banget ditemukan seorang IT engineer bicara tentang dunia IT dan teknologi.

Apakah seorang civilian seorang yang gaptek? Engga juga. Semua teman gw punya account facebook (loh emang ada hubungannya antara account facebook dan tingkat kegaptekan seseorang?). Mentor gw bilang, “ini ada kaitannya dengan perilaku bisnis. Permasalahan yang ada dalam dunia engineering biasanya berkaitan dengan rahasia perusahaan. Tidak untuk dipublikasikan. Bisa merusak reputasinya”. Mungkin bener bahwa itu salah satu faktor. Gw menduga faktor terkuat adalah malas menulis. Padahal dengan menulis, data terdokumentasi dengan baik daripada ingatan semata.

Bicara ingatan, ga semua orang ingat apa yang sudah dikerjain. Gw pernah nanya kalkulasi ke teman gw. Dia bilang, “kayaknya sih begini dan begitu”. Nadanya tidak yakin. Lah, padahal itu kalkulasinya dia. Hasil kerjaannya dia. Gw bukan nanya rumusnya karena semua uda jelas disitu. Yang gw tanya engineering judmentnya sehingga ketemu model seperti itu. Karena dia tidak menulisnya, ya… ga inget pas gw tanya balik setelah 1 tahun.

Ya, gw pengen blog ini bisa bermanfaat buat orang lain juga. Gw banyak belajar dari orang2 hebat di sekitar gw. Sayang kalo itu cuma mengendap di otak gw dan gw bawa mati. Gw juga banyak baca buku untuk memuaskan keingintahuan gw. Sayang juga, kalo ide gila gw ga disalurkan. Mungkin aja ada yang baca blog gw trus pengen ngelanjutin ide gw. Gw juga pengen dapat feedback dari orang2 di luar lingkungan gw. Sapa tau ide mereka lebih murah dan mudah dikerjain. Dan gw dan teman2 gw juga ga bingung sendiri.

Ini jaman web2.0. Era interaksi via internet berkecepatan tinggi. Gw uda liat gimana facebook bisa menggantikan detik.com dalam meng-update berita. Gw yakin professor2 itu juga punya ilmu hebat yang gw pelajari via buku karyanya. Gw juga yakin orang2 hebat di sekitar gw itu, idenya luar biasa dan gw selalu punya energi untuk mengagumi mereka. Tapi gw juga yakin ada orang di luar sana yang mungkin kurang beruntung, punya ide lebih hebat lagi. Bukankah di atas langit selalu ada langit?

Gw juga rada ilfil dengan sistem pembelajaran online di dalam company tempat kerja gw. Seorang teman gw ingin menggunakan wikipedia untuk mendokumentasikan pengalaman dan ilmu2 para karyawan. Bukankah wikipedia sudah terbukti hebat dalam mengumpulkan serangkaian data dari berbagai sumber. Memang masih bisa kecolongan disana-sini, tapi itu bisa dikontrol. Company menolak, dan tetap meneruskan sistem yang kaku tersebut. Gw cuma liat orang meng-upload lesson learned note. Dan gw cuma bisa baca tanpa bisa berkomentar. Kan asik tuh kalo bisa berkomentar macam di blog ato kaskus.

Akhir kata gw kutip kata2 seorang Linus Torvalds

realmen just upload their important stuff on ftp, and let the rest of the world mirror it ;)

O iya, ini posting kedua ratus saya sejak 26 November 2007. HORE !!

Written by caktopan

Tuesday, September 8, 2009 at 3:37 pm