CakTopan's Journal

A Personal Journal

Kapan Timnas Indonesia Layak Ke Piala Dunia?

Seorang teman bertanya:

Gw menjawab ngawur:

Pagi tadi gw pikir2 eh apa bener kayak gitu?

Secara logika sih, suatu tim harusnya terbukti kompetitif/menang di kompetisi level rendah dulu sebelum menggapai level yg setingkat lebih tinggi. Rada janggal misalnya suatu tim langsung bertarung di level berikutnya tp belum terbukti mampu di level yg lebih rendah. Walaupun begitu ada (sedikit) anomali ketika tim Dinamit Denmark tidak lolos kualifikasi piala Eropa, kemudian menggantikan Yugoslavia, dan malah Juara. Gw bilang ‘ sedikit’ karena sesungguhnya Denmark runner up Grup, bukan tim juru kunci. Ok…mari kita buktikan apakah jawaban ngawur gw itu terbukti secara fakta. Jadi kita ga usah bertanya2 lagi kapan Indonesia masuk putaran Piala Dunia, kapan jadi tuan rumah piala Dunia. Cukup bertanya sudahkah kita memenuhi kriteria yang gw sebutkan di atas. Sebagai perbandingan, gw sajikan data 3 tim tersukses Asia saat ini dengan mengecualikan Australia yang baru masuk AFC. Tim tersebut adalah Arab Saudi, Jepang, dan Korea Selatan. Kalo kita sudah mencapai milestone2 yang dicapai oleh 3 tim ini, baru deh kita ngomong probabilitas Indonesia jadi peserta putaran final Piala Dunia. Apalagi jadi tuan rumah Piala Dunia.

Arab Saudi (Peringkat 5 AFC & 78 FIFA per Feb 2011)

  1. Juara AFC Cup tahun 1984, 1988, 1996 dan runner up di tahun 1992, 2000, dan 2007. Tersukses kedua setelah Jepang.
  2. Runner up Asian Games di tahun 1982 & 1986.
  3. Runner up Confederations Cup 1992 dan Semifinalis 1999.
  4. Belum pernah lolos Pra Olimpiade.
  5. Empat kali lolos piala dunia di tahun 1994, 1998, 2002 dan 2006.
  6. Liga Profesional Arab Saudi dimulai tahun 1976 dengan 8 klub dan sekarang diikuti 14 klub. Klub tersukses adalah Al-Hilal dengan 13 kali juara liga. Tidak diketahui apakah ada sistem promosi degradasi.
  7. Klub dari Arab Saudi juga berprestasi di AFC Champions League (dulunya Asian Club Championship) dengan 4 kali juara dan 6 kali runner up. Al-Hillal juara 2x (1991-1992 & 1999-2000) serta Al-ittihad (2004, 2005).
  8. Timnas Arab Saudi juga berprestasi di kompetisi regional seperti 3x Juara Gulf Cup of nations (turnamen untuk negara2 di teluk Persia) dan 2x juara Arab Nations Cup (turnamen antara negara2 Arab).

Korea Selatan (Peringkat 3 AFC & 38 FIFA per Feb 2011)

  1. Juara AFC Cup tahun 1956, 1960 dan runner up di tahun 1972, 1980, 1988 dengan prestasi terakhir juara tiga, 2011.
  2. Asian Games : Gold (1970, 1978, 1986), Silver (1954, 1958, 1962) & Bronze 1990.
  3. Confederations Cup 2001 sebagai tuan rumah, tidak lolos penyisihan grup karena kalah selisih gol dengan prestasi 2x menang , 1x kalah.
  4. Lolos Pra Olimpiade 8x dan selalu lolos sejak tahun 1988 – 2008 berturut2.
  5. Lolos Piala Dunia di tahun 1954 dan selalu lolos putaran final sejak Mexico 1986, total 8x. Prestasi terbaiknya adalah rangking 4 di tahun 2002 pas menjadi tuan rumah bersama Jepang.
  6. Klub Korea Selatan tercatat 9x juara AFC Champions League dan 4x runner up, yang terbanyak. Pohang Steelers adalah klub tersukses Asia dengan rekor 3 kali juara (1996-1997, 1997-1998, 2009). Seongnam Ilhwa di urutan kedua dengan 2x juara & 2x runner up.
  7. Liga Profesional Korea (K-league) dimulai di tahun 1983 dengan 16 klub. K-league sendiri tidak mengenal sistem promosi degradasi. Satu level di bawah K-League adalah liga amatir/semi profesional.
  8. Pemain terukses Korea Selatan adalah Park Ji Sung yang tercatat sebagai pemain Asia pertama yang memenangi European Champions League (2008, Park tidak main ketika MU mengalahkan Chelsea). juga pemain Asia pertama yang bermain di Final Liga Champion Eropa di tahun 2009 ketika MU kalah dari Barcelona.

Jepang (Peringkat 2 AFC & 29 FIFA per Feb 2011)

  1. 4 x Juara AFC Cup tahun 1992, 2000, 2004 dan 2011.
  2. Asian Games : Gold (2010), Silver (2002) & Bronze (1951, 1966).
  3. Runner up Confederations Cup 2001. Jepang sebagai tuan rumah dan juara Asia 2000.
  4. Lolos Pra Olimpiade 1996, 2000, 2004 dan 2008.
  5. Lolos Piala Dunia di tahun 1998, 2002, 2006 dan 2010.
  6. Timnas Jepang juga menjuarai turnamen tidak resmi regional seperti Kirin Cup, Dynasty Cup juga Juara AFC/OFC Chalenge Cup 2001 dengan mengalahkan Juara OFC 2000, Australia.
  7. Klub Jepang tercatat 5x Juara dan 3x runner up AFC Champions League. Furukawa Electric (1986-1987), Yomiuri FC (1987-1988), Jubilo Iwata (1998-1999), Urawa Red Diamond (2007) dan Gamba Osaka (2008).
  8. Jepang juga satu2nya tim nasional di luar benua Amerika yang diundang Conmebol untuk bertarung di Copa America.
  9. Liga Profesional Jepang (J-league) dimulai di tahun 1992 dengan 16 klub. Tahun 1999, J-League memperkenalkan divisi 2 yang diambil dari klub2 semiprofesional berikut sistem promosi dan degradasi. FYI, Bisbol dan Sumo masih olahraga terpopuler di Jepang, tapi prestasi sepakbolanya telah mendunia. Tim Wanitanya adalah Juara Piala Dunia 2011.
  10. Pemain terukses Jepang, menurut saya, adalah Hidetoshi Nakata. Nakata adalah pemain Jepang kedua yang bermain di Liga Seri A Italia. Pemain pertama adalah King Kazu ato Kazuyoshi Miura di klub Genoa.

Uda jelas kan bagaimana raja2 Asia ini langganan putaran final Piala Dunia. Jawaban ngawur gw ternyata bisa dibuktikan bahwa untuk negara Asia yang ingin lolos putaran final piala dunia, harus minimal:

  1. Langganan Juara Regional dan turnamen tidak resmi. Simak rekor Arab Saudi di poin 8 dan Jepang di poin 6.
  2. Pernah juara Asia, baik Asian Games ato Asian Cup.
  3. Teratur lolos kualifikasi Olimpiade (kecuali Arab Saudi).
  4. Klubnya minimal pernah Juara Asia.
  5. Dengan sendirinya, skill pemain lokal menjadi lebih baik karena terbiasa main di level Internasional/Asia baik klub atau tim nasionalnya.

Jika 5 syarat itu dipenuhi, mari kita ngomong kapan Indonesia masuk putara final Piala Dunia. Kalo belum juara AFF ato ASEAN Games berturut2, ndak usah capek2 mimpi.

Wednesday, September 7, 2011 Posted by | Catatan Bola | , , , , , , , , , | 3 Comments

Kalo Anti Benayoun, Harusnya Anti Arsenal Juga !

Yossi Benayoun. Kapten timnas Israel yang berposisi Attacking Midfielder ini bukan pemain medioker. Karir Premier League nya dimulai dari West Ham United. Karir tersuksesnya tentu saja di Liverpool. Setelah itu masih bisa mempesona Chelsea untuk merekrut. Itu masih termasuk klub papan atas Eropa loh, sehingga kemampuannya adalah rata2 pemain dunia.

Rada gondok juga mengetahui tanggapan Gooners Indonesia soal Benayoun. Dicaci maki dan dibenci karena warga negara Israel, rasanya ga fair. Oke deh kalo yang dimasalahkan adalah ‘not-considered-as-marquee-player’. Ok, kalo dianggap masa dia uda mau habis karena uda berumur 31 tahun. Wenger Arsenal memang terlalu pelit untuk menyabet Eden Hazard ato Mario Gotze. Ok deh kalo alasannya pure technical, gw terima argumennya. Sikap mereka ini ga jauh beda ama rival, tetangga sebelah, Malaysia. Dalam Chelsea 2011 tour of Asia, Benayoun sempat di-boo oleh penonton di Malaysia selama babak I. Bukan alasan teknikal yang buruk melainkan supporter menunjukkan dukungan pada Palestina yang dijajah Israel. Tapi ketidaksukaan berdasar ras? Karena Yahudi, berkewarganegaraan Israel dan dianggap pro Zionis, sehingga ga pantas membela The Gunners? Tunggu dulu…

Inminds adalah situs advokasi Boycott Israel Campaign. Arsenal adalah satu diantara sekian product yang diindikasikan mendukung politik apartheid di Israel. 26 February 2006, Arsenal FC mengikat kontrak untuk mempromosikan Israel sebagai tujuan wisata. Dengan kontrak senilai 350 ribu pound tersebut, Israel dipromosikan di LCD screen sewaktu pertandingan dengan potensia audiens yang bisa dicapai adalah 700 juta pemirsa di 198 negara. Kementrian Pariwisata Israel diberikan hak khusus untuk menggunakan logo dan tim Arsenal sebagai alat promosi wisatanya. Baca selanjutnya di sini.

Pada situs arsenal.com sendiri, http://www.arsenal.com/the-club/community/arsenal-in-the-global-community, Arsenal mengakui bahwa mereka memang mempunyai kerjasama yang cukup lama di Israel. Salah satu program mereka “Arsenal in the Galilee” yang bertujuan mempromosikan hubungan yang lebih baik antara anak-anak Yahudi dan Arab.

Tidak ada kabar terbaru mengenai hubungan ini, dan jika browsing lewat internet pun, hampir semuanya me-refer pada situs inminds. Saya terbuka pada semua masukan dan informasi terbaru, karena keterbatasan waktu dan sumberdaya.

Sebagai muslim, tentu saja sebuah dilema melihat tim kesayangan ternyata mengakui didukung dan/atau mendukung politik apartheid zionis yang menyengsarakan kaum muslim, saudara seiman, Palestina. Tapi lebih hipokrit lagi, mencibir Benayoun karena dia seorang Israel, tapi mendukung (sampe mati malahan) klub yang mana telah terbukti bekerja sama dengan Israel.

Pertanyaan selanjutnya saya tujukan pada
(1) seorang gooner
(2) muslim
(3) ato anti politik zionis
(4) juga anti Benayoun dengan alasan politik (alias tidak ada hubungannnya dengan teknikal ato non-teknikal sepakbola),

Masih mau munafik dengan Benayoun?

Kalo iya, stop dukung Arsenal juga ya. Juga stop makan McDonalds, minum Starbucks dan Coca Cola, dan pakai produk Sara lee. Jangan setengah2 anti zionisnya. Masak cuman Benayoun doang. Berapa sih kontribusi Benayoun pada pemerintah Israel dibanding perusahaan2 itu? Jangan bermuka dua seperti politik Amerika dong. Ga mau Benayoun karena Israel, tapi masih ngebelain klub yang bekerjasama dengan Israel… Fair Play dong… :)

Kalo dukung Arsenal berarti dukung Zionis?

Jawaban sakleknya sih iya :) . Uda terlalu cinta ya? Yup, it’s hard not to love this club kata Thierry Henry :D

Ada satu pendapat yang saya kutip di salah satu situs muslim. Selama anda masih nonton gratisan di TV (tidak bayar pay per view), tidak nonton langsung di Emirates, tidak membeli merchandise asli Arsenal atau apapun dimana pemasukan tersebut masuk ke kas klub, maka anda masih tergolong ‘bebas dosa’ karena tidak menyumbang pada zionis.

Dan jika anda mendukung Arsenal dengan asas non-politik, karena beautiful play ala Monsieur Wenger, ngefans pada Van Persie ato Wilshere, terpesona oleh 49 matches unbeaten, ato emang ga suka ama Spurs, dan tidak tertarik pandangan dan agenda politik board of Director, ya jangan hakimi Benayoun dengan alasan politik. Mohon diterima dengan lapang dada demi tangga juara. :)

Victoria Concordia Crescit

Monday, September 5, 2011 Posted by | Catatan Bola | , , , , , , , , | 3 Comments

“Yoyo” Arsenal dihempaskan di Nou Camp

Di tahun 2002, Bayer Leverkusen (masih diperkuat Ballack) hampir treble winner di German Cup, Bundesliga, dan Champions League.
Di Final Champions League, kalah lawan Real Madrid.
Tiga pertandingan terakhir di Bundesliga, 2x kalah, sementara pesaingnya Dortmund menang semuanya.
Final German Cup, rontok lawan Schalke 04.
…End of Fairy Tale…
Masa itu dinamakan “Treble Horror” ato “The Almost Champions”. Media Inggris malah menjuluki klub tersebut dengan “Neverkusen” !

Mengawali pembukaan liga Inggris dengan meyakinkan dan berpenampilan stabil hingga akhir tahun, Arsenal layak dijadikan kandidat juara liga Inggris. Walaupun begitu tidak demikian yang terjadi di awal tahun 2011 hingga sekarang. Penampilan bak yoyo dan “thank God, Lady Luck is on our side”, membuat saya bertanya2 apakah memang persaingan tim2 Eropa sekarang jadi lebih ketat? Ato Gunners emang loyo? Perlu 2x replay untuk mengalahkan Leeds United di Carling Cup dan Leyton Orient di FA Cup. Tumbang 3x di kandang sendiri, salah satunya dengan Spurs (dimana ini hal tabu dalam Derby London Utara), dan West Brom yang mengulang suksesnya 30 tahun yang lalu ! Sempat di atas angin setelah mengalahkan Barca di Emirates, setelah sempat tertinggal 1 gol. Bahkan kalo sampean sempat baca media Inggris, semuanya memuja Wilshere dan Arsenal. Setelah itu, terjun bebas. Kalah dari Birmingham di Carling Cup. Sempat menang besar lawan LO (dimana uda sepantasnya), habis itu seri 0-0 dengan Sunderland. Penampilan bagaikan yoyo. Naik turun bin labil. Ditambah Cesc cedera, RvP cedera, performa tim sedang buruk… ya sudah… itulah Arsenal KW1. :)

Saya ga liat pertandingan semalam dengan utuh. Tapi melihat jumlah pemainnya yang tinggal 10 orang, itu berarti gradenya uda turun lagi… KW2. :(

Dengan 2 tropi tersisa, FA Cup dan Liga Primer, Arsenal masih punya kans mengangkat tropi musim ini dan mengakhiri puasa gelar 5 tahun.

Pertanyaannya bisa ato tidak? Jangan sampe memori Leverkusen era 2002 terulang. From Hero to Zero.

Wednesday, March 9, 2011 Posted by | Catatan Bola | , , , , , , , | 3 Comments

Loh…kok KALAH??

Capek abis ngurus rumah seharian, saya berharap dapat hiburan murah meriah dan menyenangkan. NONTON BOLA. Buat saya nonton bola itu adalah Arsenal ! :D . Berhubung ada penundaan akibat cuaca buruk di London, dan lagi euforia timnas Indonesia, jadinya nonton bola Malaysia vs Indonesia. Pernah menang 5-1 di Indonesia, tentu besar harapannya Indonesia akan menang lagi. Saya sempatkan nonton bareng tetangga di komplek sebelah. Ada door prize nya lagi… :)

Seperti yang saya bilang, kayaknya Indonesia akan menang tipis saja di Bukit Jalil. Tapi, ternyata kami sekampung histeris pada gol pertama, kaget pada gol kedua, dan tentu melongo, terdiam dan lemas pada gol ketiga. Seingat saya, tidak ada yang teriak pada gol ketiga. Terlalu cepat untuk refleks kami yang sudah shock karena 2 gol pertama. Norsahlan Idlan, jadi momok di sektor kiri pertahanan Indonesia. ‘Mencopet’ bola dari Maman yang ingin membiarkan bola keluar, kemudian melewati 2 pemain, dan assist pada Safee Sali. GOL ! Mirip Dr.Azahari, ternyata terornya tidak berhenti di situ, dengan cara yang sama, Idlan melewati beberapa pemain untuk kemudian passing (tp ternyata malah belok). Gol lagi. Gol ketiga tidak usah dikomentarin.

Saya pikir babak pertama, Indonesia masih OK. Hanya saja, saya uda kepikiran kenapa M.Ridwan jadi mati di sektor kanan. Jarang terlihat penetrasinya, dribling mudah dipatahkan, umpan2nya pun jarang. Beda dengan pertandingan2 sebelumnya. Okto masih bagus di kiri. Juga lini tengah hingga pertahanan.

Malaysia sendiri tampilannya lebih bagus daripada lawan Vietnam. Kalo anda belum pernah melihat leg 1 semifinal Malaysia vs Vietnam, Harimau Malaya ini malah tertekan di babak pertama, susah menyerang. Bisa menang karena serangan balik dan blunder pemain Vietnam. Jadi di atas kertas, Indonesia yang gaya bermainnya lebih ofensif harusnya bisa dapat lebih banyak peluang.

Memang sih, setelah insiden gangguan laser dan memicu walkout pemain indonesia, sepertinya pemain Indonesia jadi kayak orang digendam. Biasanya berani tackling keras berubah menjadi “hadang-seadanya-toh-ada-teman-saya-dan-moga2-berhasil”. Pasrah dilewatin lawan, tidak tau harus bagaimana dan semangat menurun.

Tentu, yang kaget bukan hanya pemain di lapangan. Saya yakin, pemain dan pelatih Malaysia juga kaget, kok bisa menang besar. Penonton juga kecewa, “Kok kalah?”

Kekecewaan ini dibahas di semua media hari ini. Dari observasi teknis, kayaknya hampir sama seperti yang saya tulis di atas. Sedangkan non-teknisnya ini yang lebih menarik. Tentu, acara kunjungan politik jadi porsi besar. Tim finalis yang diperlakukan bak juara tentu menambah stress pemain. Belum lagi harapan fans bola pada prestasi timnas yang selama hampir 2 dekade, memble. “Kok kalah?” tentu menyiratkan bahwa kita (juga saya) tidak siap menerima kekalahan itu. Padahal, namanya bertanding kalah dan menang itu biasa.

Saya berpendapat Malaysia pantas menang. Ini tim dengan level penantang Asia di masa depan. Tidak ada error sedikit pun. Di hari itu, Malaysia 3 level di atas kita. Harapan Rajagobal bahwa Malaysia seperti Madrid kayaknya terkabul. Dan hari itu saya menyesal, kenapa saya bandingkan Indonesia dengan Arsenal di posting sebelumnya. Dooh !

Sekaligus menutup pandangan saya pada piala AFF 2010 ini, Indonesia masih bisa menang di Gelora Bung Karno 29 Desember nanti. Kayaknya menang tipis nih (dan moga2 saya salah). Alasan saya, momentum Malaysia masih bagus, dan akan mempertahankan kemenangan. Indonesia, menang ato kalah, juara ato tidak, kiranya menjadi pembelajaran buat semua bahwa naturalisasi bukan “jamu-jadi-juara”. Tapi, “reinforcing”. Politisasi olahraga sudah layaknya dihentikan. Prestasi tertinggi adalah tujuan dengan menjunjung fair-play.

Sebagai penutup, (ini tidak layak dijadikan kutipan dan saya tidak bangga mengutipnya), seorang teman mendoakan bahwa timnas tidak juara sewaktu penyisihan supaya alasan menurunkan Nurdin Halid dan kroninya semakin valid.

May the best team wins and Bring Nurdin Down !!!

note:
Harusnya dibandingkan B**** ya cak?
No way…  :mad:

Monday, December 27, 2010 Posted by | Catatan Bola | , , , , , , , | Leave a Comment

Garuda bisa Juara AFF 2010?

Hmmm… memang saya bertanya. Ada sedikit keraguan. Okeh… tulisan ini akan saya bagi dalam 2 hal. Teknis dan Non Teknis.

TEKNIS

Secara teknis, sebenarnya timnas Indonesia tidak banyak berbeda dari sebelumnya. Mengandalkan kecepatan sayap. Dulu ada Elie Aiboy, kemudian muncul Boaz Salossa. Sekarang Okto Maniani. Perbedaannya adalah sekarang timnas berani bermain menyerang dengan umpan2 pendek. Di pertahanan, saya lihat bek tengah tidak pernah kalah dalam perebutan bola2 atas. Bahkan melawan tim Filipina dengan tinggi layaknya orang eropa, timnas masih menang duel di udara. Beberapa error memang bisa menjadi gol, seperti gol Malaysia di babak penyisihan (karena counter attack dan bek masih kocar kacir). Juga tendangan Younghusband yg hampir jd gol, akibat salah paham antara Maman dan Markus. Sementara di depan, hehehe… mirip Arsenal tapi kebalikannya. Kalo di Arsenal, punya Chamakh yang jago udara, tapi yang bisa crossing dengan bagus cuma Bacary Sagna. Sehingga banyak gol tercipta malah dari tendangan pemain tengah, ato gocekan bola di kotak penalti. Sedangkan Indonesia, lebih banyak yang bisa crossing, tapi striker selalu kalah duel dengan bek. Sundulan Christian Gonzalez sewaktu lawan Filipina leg 1 bisa masuk karena errornya bek dan kiper Filipina dalam menanggapi umpan lambung. Sehingga antara Arsenal dan Indonesia, kesamaannya adalah punya pemain tengah yang bisa memecah kebuntuan serangan.

Saya setuju dengan opini Riedl bahwa pertandingan melawan Filipina adalah yang terberat (sebelum final). Saya sempat deg2an mengingat timnas Filipina melawan dengan tangguh. Positioningnya sama rata dan menghasilkan peluang gol yang sama. Hanya tinggal masalah waktu saja, apakah Indonesia dan Filipina yang bikin gol. Dan, alhamdulillah timnas kita yang menang. Beberapa saat sebelumnya, timnas Malaysia melawan timnas Vietnam. Permainan Vietnam mirip2 dengan timnas Indonesia. Berani menyerang, umpan2 pendek, melepaskan tembakan dari luar kotak penalti. Pokoknya segala cara dicoba untuk membobol gawang Malaysia. Seinget saya, Malaysia lebih banyak bertahan di babak pertama. Dua gol di babak kedua tentu mengejutkan saya. Itu hasil Counter Attack yang sempat menghasilkan 1 gol ke gawang Indonesia. Itu serangan khas mereka.

Kemenangan 5-1 di penyisihan sudah harus dilupakan. Itu penampilan terburuk mereka. Dalam hati saya sempat bertanya, “inikah penampilan timnas yang sedang naik daun di asia?”  Malaysia sudah merambah level Asia, sodara-sodara. Sebelumnya, timnas yang sama (U-23) telah juara Sea Games 2009 ! Timnas yang sama juga berlaga di Asian Games bersama Jepang, China dan Kyrgyzstan. Rajagopal berkilah 8 pemain mereka cedera dan duet bek tengah mereka juga barusan dipasangkan. Sehingga banyak miskomunikasi dan berakibat banyak gol pada laga pertama. Toh, akhirnya mereka bisa lolos ke Final dengan mengalahkan Vietnam, juara tahun lalu.

Teknisnya, Indonesia bisa menang jika hati2 pada counter attack Malaysia. Jangan terlalu asyik menyerang. Dan semua cara harus dicoba, bisa long shoot, ato penetrasi ke kotak penalti. Christian Gonzalez harus diberikan ruang lebih untuk bikin gol. Walaupun ini juga akan susah, karena pasti Rajagopal akan memberi perhatian lebih padanya. Arif Suyono, menurut saya, bisa dijadikan starter. Gocekannya dan umpannya pasti akan lebih berbahaya daripada Okto. Justru, pake Okto di menit terakhir supaya tambah kocar-kacir… hehehe…

Non teknis

  1. Terlalu banyak perhatian yang tidak perlu, seperti diundang ke petinggi partai. Bahkan juga diminta ke KBRI di KL, padahal 2 hari menjelang final. Ini sudah terlalu lebay. Padahal, ini masih di tengah2 kompetisi. :(
  2. Terlalu banyak harapan. Menang besar di babak penyisihan dan bermain bagus di semifinal, menjadikan mereka sangat diharapkan jadi juara. Padahal belum.
  3. Muatan politis. Persoalan diplomasi Malaysia-Indonesia yang hangat, tentu akan dibawa dan dijadikan alasan untuk mengalahkan mereka. Beban moral bertambah

Dengan alasan2 di atas, plus sejarah pertemuan Indonesia-Malaysia dimana Malaysia lebih banyak kalah, menjadikan Malaysia sebagai underdog. Takutnya seperti Arsenal yang dikatakan Cesc Fabregas setelah dikatakan MU, “tim kami bermain dengan mental takut kalah, sedangkan MU bermain dengan mental tidak takut menang”. Kira2nya… jangan sampe dengan ekspektasi tinggi ini, timnas Indonesia jadi terlalu berhati2, tidak berani ambil resiko bisa2 malah kalah.

Prediksi saya, Indonesia bisa juara dengan skor tipis di 2 pertandingan Away dan Home. Masing-masing 1-0.

Sunday, December 26, 2010 Posted by | Catatan Bola | , , , , , , | Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 135 other followers