Archive for the ‘BlogSukaSuka’ Category
Bernilaikah saya?
Judul diatas gw ambil dari kolom parodi oleh Samuel Mulia. Ini tergolong kolom yang wajib dibaca. Bacaan ringan, sedikit humor dan kadang menohok pembacanya (terutama gw sendiri). Entah kenapa makin ditohok, kok makin seneng bacanya. Orang bijak bilang, sindiran dan satire yang disampaikan dalam bentuk humor disukai karena bisa menunjukkan kekurangan kita tanpa kita harus merasa tersinggung. Apalagi marah. Mau marah sama sapa coba? “Lah…kan guyon toh, Mas. Kalo tersinggung ya maap”, kata teman yang suka guyon kebablasan. (Entah beneran ga sengaja, ato emang sengaja dibablasin, engga tau juga).
Kilas parodinya menanyakan beberapa hal kepada diri kita sendiri. Ketika membuat keputusan, apakah kita ini membuat keputusan rasional ato emosional? Jawaban bagus yang dibenarkan pelajaran budi pekerti tentunya ya rasional. Sudah dipikir matang, semua resiko sudah diprediksi, semua solusi sudah didapat. Tinggal memutuskan mana yang konsekuensinya paling rendah. Berapa lama? Ya, lama ato tidak tergantung yang momentum, event dan peristiwa yang melatarbelakanginya serta orang yang menilainya. Emosional? Terkesan grusa-grusu. Cepat. Bahkan untung2an jika dianalisa kembali ternyata itu keputusan yang memuaskan semua pihak. Emosional ato rasional? Semua orang pasti pernah membuatnya.
Bernilaikah saya? Mengajak sampean mengenali pribadi sendiri. Buat yang sering pindah kerja, pasti ngerti “strong point” dan “weak point” nya masing2 yang hendak ditonjolkan pada usernya. “Eh, pak. Saya pernah nge-golin projek milyaran dengan hanya 2 kali pertemuan. Perusahaan untung karena ongkos marketing yang minimal. Uda gitu, perusahaan kami ternyata bisa untung hampir 2x lipat dari forecast di awal projek. Salah satunya, dengan usulan saya untuk mendesain ulang. Projek senang, Client happy. Hebat toh saya?”, kata salah satu kenalan gw di situs online. Si teman ini lagi curhat kenapa kok aplikasinya ditolak perusahaan asing. Padahal dia ini (menurut dia) adalah kandidat hebat. Buktinya ya diatas itu. Harusnya diterima dong… nyatanya perusahaan asing menganggap dia masih pasaran, sama saja dengan lainnya. Kalo ditinjau dari sisi religius, “Mungkin belum rejekinya, Mas’e”. Hehehe…
Bernilaikah saya? Sampean itu siapa? Kenapa kok teman sampean suka sama sampean? Kenapa pasangan kok ngebet sama sampean? Dulu waktu gw mau melamar pacar, ditanya sama ibu, “Kok suka sama si ini? Apa hebatnya?”. Terdengar nyinyir, sadis macam HR perusahaan asing yang menolak teman di atas. “Ya, orangnya baik, cakep, soleh, uda naik haji, pinter, orang jawa pulak”, jawab gw. Ibu tertawa, bapak tersenyum. “Banyak wanita yang baik, tapi kenapa yang ini?”, tanya balik. Lah, gw panik. Itu kan uda dijawab, tapi kedua ortu menganggap itu kurang pas. Lama kemudian baru gw ketemu jawabannya. ^_^
(Hampir) semua orang itu baik. Alasan kenapa sampean lebih milih nge-gang dengan si A dan bukan si B, pasti karena kesamaan visi dan misi sebagai partner in crime. Bahasa sederhananya, cocok. Kalo sudah cocok dan klop, apa yang mau diperdebatkan?
Dalam tinjauan jangka panjang, seberapa besar mutu sampean di hadapan Sang Maha Pencipta. Dia sudah tau sampean itu baik, cerdas dan hebat. Dia tau sampean marah karena engga dapat yang diinginkan. Dan Dia juga tau kalo itu diberikan bisa jadi menurunkan nilai dan kualitas pribadi sampean.
Terinspirasi dari sini. Monggo dibaca.
*sengaja ditaruh bawah, supaya sampean baca ketikan saya sampe tuntas. Saya tau, ‘nilai’ saya ga seberapa dibanding SM* ^_^
2012
Pak Cecep lagi ribut di sebelah. Katanya orang uda antri tiket untuk hari minggu di Mega Mall Batam Center. Padahal ini masih hari Jumat ! Belum lagi ada berita di sebelah, katanya film 2012 diharamkan oleh MUI. Gw sendiri hobi nonton film, walaupun cuma sebatas di tipi2 aja. Sehingga ketinggalan mode 1/2 tahun daripada anak2 muda yang hobi nonton di 21. Fenomena 2012 ini juga mengusik pikiran usil gw yang uda lama nganggur. Banyak film yang layak di-antri hingga seharian. Tapi mengapa 2012?
Film yang disutradarai Roland Emmerich ini di-inspirasi oleh sebuah ramalan suku Maya. Bahwa pada tanggal 21 Desember 2012 akan terjadi end of time. Waktu sudah menemukan akhirnya. Bisa juga
1. Berhentinya waktu (bumi berhenti berputar)
2. Peralihan dari Zaman Pisces ke Aquarius
3. Peralihan dari Abad Silver ke Abad keemasan
4. End of Times = End of the World as we know it
5. Akan ada sebuah galactic Wave yang besar, yang memberhentikan semua kegiatan di muka bumi ini, termasuk kemusnahan manusia
sampean bisa baca terusannya disini
Film ini mengundang haram karena diduga bisa merusak akidah dengan mempercayai bahwa kiamat bisa diramalkan dan terjadi di tahun 2012. Sebuah fatwa yang ‘menggelikan’ buat gw. Kenapa harus difatwa haram? Kenapa tidak ’sounding’ bahwa kiamat itu di hanya “Yang Maha Mengetahui” yang mengetahuinya kapan persisnya. Kenapa tidak ‘mengekor’ popularitasnya saja? Bisa jadi 10 ato 100 bahkan ribuan orang akan mengalami gegar spiritualitas. Bertanya pada diri sendiri tentang kesiapan di kehidupan setelah mati. Bisa jadi akhir jaman tidak terjadi 2012, bisa malah lebih dekat. Ya… tinggal memberikan siraman rohani yang tepat saja. Maybe this movie will make them one step closer to heaven. Maybe…
Gw inget salah seorang teman yang membaca buku tentang ramalan maya ini beberapa bulan sebelumnya. Dia sendiri mengamini bahwa, “Memang hanya Tuhan yang tahu itu kapan. Tapi, jika sampean diberikan kesempatan untuk mengetahui akhir hidup, sampean pengen ngapain sih?” Di saat itu pula, langsung dia membuat daftar hal2 yang ingin dia lakukan sebelum akhir hayat. Menikmati kehidupan. Pergi ke tempat2 eksotik di dunia. Banyak berbuat baik dan beramal. Toh, buat apa menumpuk harta? Mati cuma bawa amalan. “At least, I die for trying”
- Jika sampean terlanjur percaya tentang kiamat 2012, monggo dibaca artikel dari National Geograhic, 2012 Doomsday Myths Debunked.
- Jika artikel ilmiah diatas ga mempan, monggo dikembalikan ke keyakinan masing2. Keyakinan gw mengatakan bahwa kiamat kecil adalah kematian. Kiamat besar dan kecil, hanya Allah yang mengetahui.
- Sampean bisa juga bikin daftar hal2 yang pengen dilakukan seperti teman gw. Lakukan sebaik2nya demi terwujudnya cita2 baik sampean. Sampean diberikan kesempatan untuk berbuat baik, akankah sampean gunakan ato tidak?
ps:
maap yang uda kesasar. ini emang bukan review film…. hihihi… ^_^
Don’t judge book by its cover
Meaning: don’t determine the worth of something based on its appearance”
Badannya tidak tinggi dan ga gemuk juga. Sekitar 165 cm mungkin. Kulitnya rada gelap. Mukanya mirip Kurniawan DJ, eks striker nasional dengan potongan rambutnya pendek dan di-highlight maroon. Bajunya tanpa lengan warna hitam. Tulisannya pun gahar bukan kepalang “Iron Maiden”. Grup Metal yang lagunya aja ga pernah kudengar. Pake celana jeans belel dan sobek2 di dengkul, lutut. Begitu menoleh ke arahku, keliatan satu anting di telinga kirinya. Langkahnya pun santai kaya “macan luwe” (harimau lapar). Sosoknya mengingatkanku pada rocker Arul Efansyah, vokalisnya Power Metal. Ini rock era 90-an, bung. Masak gitu aja ga tau? (Eh, beda jaman ya? hehehe).
“Wah, ini rocker baru bangun tidur cari makan nih”, batinku. Sang rocker kemudian menuju bakul lontong sayur di dekatku. “Mbak, lontong sayur satu ya. Ga usa pake kerupuk”, katanya.
Gw hampir tersedak pas makan bubur. Kukira aku bakal mendengar suara bariton ala Dave Mustain. Nyatanya malah Mezzo Soprano ala Soendari Soekotjo. Hahaha…. Read the rest of this entry »
Brosur Jadwal Imsak dan Maghrib
Setiap bulan ramadhan, brosur dan selebaran ini pasti laku keras. Dibagikan gratis pada khalayak sebagai (yang diniatkan) pedoman kapan waktu mulai sahur, kapan berhenti dan kapan berbuka. Biasanya bisa diperoleh di masjid2, mushola2. Kalo beruntung, bisa mendapatkannya waktu lagi jalan di mal, sekolah, lagi parkir ato pas di kantor. Dicetak oleh LSM, ato lembaga agama dan (kadang ada juga) partai ato calih tertentu untuk konstituennya. Dipajang di tempat yang mudah dilihat oleh anggota keluarga. Hehehe…biar tak lupa, juga biar bisa itung2 kurang berapa lama menuju buka puasa.
Tentu saja sampean yakin dengan keakuratan waktu yang tercantum dalam jadwal itu. “Wis dipikir dan diitung karo wong pinter, Mas. Nek ora percoyo, itungen dewe“, kata tukang parkir waktu saya tanya. Hehehe…saya cuma ketawa saja. Saya juga ga bisa ngitungnya. Tapi coba, seberapa akurat jam dinding di rumah sampean sebagai alat ukurnya. Ada kasus tahun lalu di rumah saya, jadwal mengatakan sudah masuk waktu Imsak. Tak ada pemberitahuan dari masjid terdekat, juga TV. Saya berhenti makan. Sampe 10 menit kemudian terdengar pemberitahuan bahwa sudah masuk Imsak. Walah…jamnya terlalu cepat. (Ato, jam saya bener tapi masjidnya yang telat kasih tau. Engga tau juga). Untunglah, sudah berhenti makan. Ini masih tergolong kasus ringan dibandingkan yang dialami teman saya. Tinggal di hutan, asyik makan karena menyangka belum masuk waktu Imsak. Teman kos sebelah kamar gedor2 pintu, “Di, ayo bangun. Shalat subuh dulu!!”. Cilaka 12 belas, ternyata jam tangannya mati. Glek…nasi dikunyah cepat. Minum pun seadanya. Waduh…
Allah Maha Mengerti memang mengerti kesulitan makhluknya.
Tapi, sudahkah sampean mempedulikan keakuratan jam sampean?
*Apakah ada diantara sampean yang lebih suka memperhatikan isyarat alam?*
Note:
Menurut wikipedia Indonesia mengenai shalat 5 waktu, penentuan waktunya adalah sebagai berikut:
- Shubuh, terdiri dari 2 raka’at. Waktu Shubuh diawali dari munculnya fajar shaddiq, yakni cahaya putih yang melintang di ufuk timur. Waktu shubuh berakhir ketika terbitnya matahari.
- Zhuhur, terdiri dari 4 raka’at. Waktu Zhuhur diawali jika matahari telah tergelincir (condong) ke arah barat, dan berakhir ketika masuk waktu Ashar.
- Ashar, terdiri dari 4 raka’at. Waktu Ashar diawali jika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri. Khusus untuk madzab Imam Hanafi, waktu Ahsar dimulai jika panjang bayang-bayang benda dua kali melebihi panjang benda itu sendiri. Waktu Ashar berakhir dengan terbenamnya matahari.
- Maghrib, terdiri dari 3 raka’at. Waktu Maghrib diawali dengan terbenamnya matahari, dan berakhir dengan masuknya waktu Isya’.
- Isya’, terdiri dari 4 raka’at. Waktu Isya’ diawali dengan hilangnya cahaya merah (syafaq) di langit barat, dan berakhir hingga terbitnya fajar shaddiq keesokan harinya. Menurut Imam Syi’ah, Shalat Isya’ boleh dilakukan setelah mengerjakan Shalat Maghrib.
Ketika menjalankan ibadah puasa, waktu Shubuh menandakan dimulainya ibadah puasa. Untuk faktor “keamanan”, ditetapkan waktu Imsak, yang umumnya 5-10 menit menjelang waktu Shubuh.
Capek Antri
Antri selalu identik dengan menunggu. Dan, menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Dua hari berturut2, gw harus antri. Antri pertama adalah di Rumah Sakit Budi Kemulian Batam kemaren (18/08). Antri kedua adalah di Bank Mandiri Cabang Jodoh (19/08).
Antri di Rumah Sakit
Di pintu masuk ruang Dokter itu sudah jelas tertulis, “Nomor antrian harap dipegang masing-masing. Mohon jangan ketuk pintu sehingga mengganggu pasien”. Sebenarnya sudah jelas pesannya. Kalo anda sudah telat, jangan gedor2 pintu dokter dan nanyain susternya, “Sekarang uda nyampe nomer berapa, bu?”. Bikin ilfil karena bukan hal darurat, dokternya terganggu konsentrasinya.
Tetapi, kemaren gw menemukan sesuatu yang berbeda. Sebuah electronic counter device dipasang di atas pintu dokter. It clearly tell you for how many persons before your turn. Sebuah sistem yang patut diacungi jempol. Menjawab keingintahuan pasien yang dalam kondisi tidak sehat yang tentu saja diharapkan ga turut memperburuk mood.
Apakah kelakuan ‘pasien telat’ dan ‘tidak sabaran’ juga berubah setelah mengetahui berapa antrian lagi yang harus dilalui? Syukurnya, IYA.
But, the electricity was shut down for while. Then, the bug is found. Salah seorang pasien mengeluh karena dia dapat nomer antrian 3, tapi sampe nomer 8 data2nya belum ada. Ternyata, begitu listrik mati semua sibuk benerin listrik dulu. Begitu nyala, statusnya menjadi belum terdaftar. Lah!!!
Secara overall, OK lah. Ini suatu perkembangan positif.
Antri di Bank Mandiri
Setau gw, Bank itu mati2an jaga image sebagai pelayan publik. ‘Ngemis’ pengen dipercaya masyarakat. Biar bagaimana, Bisnis Bank adalah bisnis kepercayaan. Kita nyimpen duit dan sebagai buktinya kita diberikan buku tabungan bertuliskan angka besarnya duit yang kita simpan. Dan kita percaya itu.
Sebagai lembaga yang selalu ingin menjadi yang ‘terpercaya’, tentu saja pengen memperlakukan konsumennya layaknya raja. Eh, tapi benerkah begitu?
Sistem antriannya buruk banget. Untuk transaksi umum, semua orang diminta berdiri. Berderet2. Jika ke CSO (Customer Service Officer … bener ga?), maka ada nomer antrian. Kita bisa duduk nunggu giliran. Tapi, pertanyaan selanjutnya adalah berapa lama anda kuat bengong?
Gw dan teman berangkat jam 10.30 dari kantor. Nyampe sana dapat giliran nomer 49 dan 50. Sementara angka antrian baru menunjukkan 37. Kita tinggal makan siang dulu. Begitu balik (jam 12.00), sudah nomer 46. Yippie… Tinggal 4 nomer lagi dong.. Kita perkirakan selesai jam 12.30.
Ternyata, kita selesai jam 01:30. Bah !! 3 Nomer (salah satu ‘pasien’ tidak datang. Mungkin capek nunggu) selesai dalam 1 jam 30 menit. Apa pasal?
Selama kita duduk disitu selama 1 jam, ada salah satu costumer yang sampe 30 menit lebih mengisi formulir. Kenapa ga di tempat lain saja sih? Supaya ibu CSO ini bisa ngelayanin yang lain.
CSO nya cuma 2. Dan salah satunya rehat 30 menit. Orang rehat ga dilarang kok. Apalagi itu uda jam makan siang. Kok ga ada gantinya? Pastinya, para nasabah ini juga nahan lapar, karena takut kalo ditinggal makan siang, malah ketinggalan antrian.
Para nasabah ini juga mendatangi bank di saat jam kantor. Dan gw berani bilang, 80%-90% diantaranya adalah karyawan ato profesional yang harus mengorbankan waktu produktifnya hanya untuk ‘menunggu’. (Teman gw bilang, “Engga kok, ini malah kesempatan buat nguler…hehehe“). No comment for this kind of reason. :p
Gw sendiri cuma ngebatin, apakah para bos Bank ini tau cara pelayanan Bank yang dipimpinnya? Jika tidak, anda harus baca keluhan ini. Jika sudah, tentunya apa Corrective Actionnya?
Saya sih ngebayangin di Bank dan RS itu ada semacam log yang mencatat data kedatangan dan kapan selesai layanannya. Seperti di Samsat itu loh. Kemudian, data tersebut digunakan untuk menilai kinerja pelayanan lembaga tersebut. Berapa banyak anda bisa melayani orang dan berapa lama yang diperlukan hingga selesai? Dari situ anda bisa mengambil tindakan untuk semakin meng-efisienkan waktu tunggu para pasien dan nasabah. Sehingga, lembaga yang anda pimpin semakin terpercaya. Semakin terpercaya, tentunya semakin banyak konsumen yang tertarik mencoba layanan anda kan?





.jpg)









