Archive for the ‘BlogSukaSuka’ Category
Don’t judge book by its cover
Meaning: don’t determine the worth of something based on its appearance”
Badannya tidak tinggi dan ga gemuk juga. Sekitar 165 cm mungkin. Kulitnya rada gelap. Mukanya mirip Kurniawan DJ, eks striker nasional dengan potongan rambutnya pendek dan di-highlight maroon. Bajunya tanpa lengan warna hitam. Tulisannya pun gahar bukan kepalang “Iron Maiden”. Grup Metal yang lagunya aja ga pernah kudengar. Pake celana jeans belel dan sobek2 di dengkul, lutut. Begitu menoleh ke arahku, keliatan satu anting di telinga kirinya. Langkahnya pun santai kaya “macan luwe” (harimau lapar). Sosoknya mengingatkanku pada rocker Arul Efansyah, vokalisnya Power Metal. Ini rock era 90-an, bung. Masak gitu aja ga tau? (Eh, beda jaman ya? hehehe).
“Wah, ini rocker baru bangun tidur cari makan nih”, batinku. Sang rocker kemudian menuju bakul lontong sayur di dekatku. “Mbak, lontong sayur satu ya. Ga usa pake kerupuk”, katanya.
Gw hampir tersedak pas makan bubur. Kukira aku bakal mendengar suara bariton ala Dave Mustain. Nyatanya malah Mezzo Soprano ala Soendari Soekotjo. Hahaha…. Read the rest of this entry »
Brosur Jadwal Imsak dan Maghrib
Setiap bulan ramadhan, brosur dan selebaran ini pasti laku keras. Dibagikan gratis pada khalayak sebagai (yang diniatkan) pedoman kapan waktu mulai sahur, kapan berhenti dan kapan berbuka. Biasanya bisa diperoleh di masjid2, mushola2. Kalo beruntung, bisa mendapatkannya waktu lagi jalan di mal, sekolah, lagi parkir ato pas di kantor. Dicetak oleh LSM, ato lembaga agama dan (kadang ada juga) partai ato calih tertentu untuk konstituennya. Dipajang di tempat yang mudah dilihat oleh anggota keluarga. Hehehe…biar tak lupa, juga biar bisa itung2 kurang berapa lama menuju buka puasa.
Tentu saja sampean yakin dengan keakuratan waktu yang tercantum dalam jadwal itu. “Wis dipikir dan diitung karo wong pinter, Mas. Nek ora percoyo, itungen dewe“, kata tukang parkir waktu saya tanya. Hehehe…saya cuma ketawa saja. Saya juga ga bisa ngitungnya. Tapi coba, seberapa akurat jam dinding di rumah sampean sebagai alat ukurnya. Ada kasus tahun lalu di rumah saya, jadwal mengatakan sudah masuk waktu Imsak. Tak ada pemberitahuan dari masjid terdekat, juga TV. Saya berhenti makan. Sampe 10 menit kemudian terdengar pemberitahuan bahwa sudah masuk Imsak. Walah…jamnya terlalu cepat. (Ato, jam saya bener tapi masjidnya yang telat kasih tau. Engga tau juga). Untunglah, sudah berhenti makan. Ini masih tergolong kasus ringan dibandingkan yang dialami teman saya. Tinggal di hutan, asyik makan karena menyangka belum masuk waktu Imsak. Teman kos sebelah kamar gedor2 pintu, “Di, ayo bangun. Shalat subuh dulu!!”. Cilaka 12 belas, ternyata jam tangannya mati. Glek…nasi dikunyah cepat. Minum pun seadanya. Waduh…
Allah Maha Mengerti memang mengerti kesulitan makhluknya.
Tapi, sudahkah sampean mempedulikan keakuratan jam sampean?
*Apakah ada diantara sampean yang lebih suka memperhatikan isyarat alam?*
Note:
Menurut wikipedia Indonesia mengenai shalat 5 waktu, penentuan waktunya adalah sebagai berikut:
- Shubuh, terdiri dari 2 raka’at. Waktu Shubuh diawali dari munculnya fajar shaddiq, yakni cahaya putih yang melintang di ufuk timur. Waktu shubuh berakhir ketika terbitnya matahari.
- Zhuhur, terdiri dari 4 raka’at. Waktu Zhuhur diawali jika matahari telah tergelincir (condong) ke arah barat, dan berakhir ketika masuk waktu Ashar.
- Ashar, terdiri dari 4 raka’at. Waktu Ashar diawali jika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri. Khusus untuk madzab Imam Hanafi, waktu Ahsar dimulai jika panjang bayang-bayang benda dua kali melebihi panjang benda itu sendiri. Waktu Ashar berakhir dengan terbenamnya matahari.
- Maghrib, terdiri dari 3 raka’at. Waktu Maghrib diawali dengan terbenamnya matahari, dan berakhir dengan masuknya waktu Isya’.
- Isya’, terdiri dari 4 raka’at. Waktu Isya’ diawali dengan hilangnya cahaya merah (syafaq) di langit barat, dan berakhir hingga terbitnya fajar shaddiq keesokan harinya. Menurut Imam Syi’ah, Shalat Isya’ boleh dilakukan setelah mengerjakan Shalat Maghrib.
Ketika menjalankan ibadah puasa, waktu Shubuh menandakan dimulainya ibadah puasa. Untuk faktor “keamanan”, ditetapkan waktu Imsak, yang umumnya 5-10 menit menjelang waktu Shubuh.
Capek Antri
Antri selalu identik dengan menunggu. Dan, menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Dua hari berturut2, gw harus antri. Antri pertama adalah di Rumah Sakit Budi Kemulian Batam kemaren (18/08). Antri kedua adalah di Bank Mandiri Cabang Jodoh (19/08).
Antri di Rumah Sakit
Di pintu masuk ruang Dokter itu sudah jelas tertulis, “Nomor antrian harap dipegang masing-masing. Mohon jangan ketuk pintu sehingga mengganggu pasien”. Sebenarnya sudah jelas pesannya. Kalo anda sudah telat, jangan gedor2 pintu dokter dan nanyain susternya, “Sekarang uda nyampe nomer berapa, bu?”. Bikin ilfil karena bukan hal darurat, dokternya terganggu konsentrasinya.
Tetapi, kemaren gw menemukan sesuatu yang berbeda. Sebuah electronic counter device dipasang di atas pintu dokter. It clearly tell you for how many persons before your turn. Sebuah sistem yang patut diacungi jempol. Menjawab keingintahuan pasien yang dalam kondisi tidak sehat yang tentu saja diharapkan ga turut memperburuk mood.
Apakah kelakuan ‘pasien telat’ dan ‘tidak sabaran’ juga berubah setelah mengetahui berapa antrian lagi yang harus dilalui? Syukurnya, IYA.
But, the electricity was shut down for while. Then, the bug is found. Salah seorang pasien mengeluh karena dia dapat nomer antrian 3, tapi sampe nomer 8 data2nya belum ada. Ternyata, begitu listrik mati semua sibuk benerin listrik dulu. Begitu nyala, statusnya menjadi belum terdaftar. Lah!!!
Secara overall, OK lah. Ini suatu perkembangan positif.
Antri di Bank Mandiri
Setau gw, Bank itu mati2an jaga image sebagai pelayan publik. ‘Ngemis’ pengen dipercaya masyarakat. Biar bagaimana, Bisnis Bank adalah bisnis kepercayaan. Kita nyimpen duit dan sebagai buktinya kita diberikan buku tabungan bertuliskan angka besarnya duit yang kita simpan. Dan kita percaya itu.
Sebagai lembaga yang selalu ingin menjadi yang ‘terpercaya’, tentu saja pengen memperlakukan konsumennya layaknya raja. Eh, tapi benerkah begitu?
Sistem antriannya buruk banget. Untuk transaksi umum, semua orang diminta berdiri. Berderet2. Jika ke CSO (Customer Service Officer … bener ga?), maka ada nomer antrian. Kita bisa duduk nunggu giliran. Tapi, pertanyaan selanjutnya adalah berapa lama anda kuat bengong?
Gw dan teman berangkat jam 10.30 dari kantor. Nyampe sana dapat giliran nomer 49 dan 50. Sementara angka antrian baru menunjukkan 37. Kita tinggal makan siang dulu. Begitu balik (jam 12.00), sudah nomer 46. Yippie… Tinggal 4 nomer lagi dong.. Kita perkirakan selesai jam 12.30.
Ternyata, kita selesai jam 01:30. Bah !! 3 Nomer (salah satu ‘pasien’ tidak datang. Mungkin capek nunggu) selesai dalam 1 jam 30 menit. Apa pasal?
Selama kita duduk disitu selama 1 jam, ada salah satu costumer yang sampe 30 menit lebih mengisi formulir. Kenapa ga di tempat lain saja sih? Supaya ibu CSO ini bisa ngelayanin yang lain.
CSO nya cuma 2. Dan salah satunya rehat 30 menit. Orang rehat ga dilarang kok. Apalagi itu uda jam makan siang. Kok ga ada gantinya? Pastinya, para nasabah ini juga nahan lapar, karena takut kalo ditinggal makan siang, malah ketinggalan antrian.
Para nasabah ini juga mendatangi bank di saat jam kantor. Dan gw berani bilang, 80%-90% diantaranya adalah karyawan ato profesional yang harus mengorbankan waktu produktifnya hanya untuk ‘menunggu’. (Teman gw bilang, “Engga kok, ini malah kesempatan buat nguler…hehehe“). No comment for this kind of reason. :p
Gw sendiri cuma ngebatin, apakah para bos Bank ini tau cara pelayanan Bank yang dipimpinnya? Jika tidak, anda harus baca keluhan ini. Jika sudah, tentunya apa Corrective Actionnya?
Saya sih ngebayangin di Bank dan RS itu ada semacam log yang mencatat data kedatangan dan kapan selesai layanannya. Seperti di Samsat itu loh. Kemudian, data tersebut digunakan untuk menilai kinerja pelayanan lembaga tersebut. Berapa banyak anda bisa melayani orang dan berapa lama yang diperlukan hingga selesai? Dari situ anda bisa mengambil tindakan untuk semakin meng-efisienkan waktu tunggu para pasien dan nasabah. Sehingga, lembaga yang anda pimpin semakin terpercaya. Semakin terpercaya, tentunya semakin banyak konsumen yang tertarik mencoba layanan anda kan?
Menabung itu tergantung niat, bukan pendapatan
oh y, kl dsana, minimal brapa pendapatan untuk tetep bisa nabung mas?
Apa yang saya quote diatas itu sebenarnya tanggapan dari korespondensi saya dengan seseorang yang membaca posting ini. Setelah berbalas pantun, akhirnya beliau bertanya seperti diatas. Jawaban atas pertanyaan diatas akan saya tuangkan dalam posting ini dengan tambahan disana-sini. Maklum, waktu itu menjawab di jam kantor. Sehingga tidak terstruktur rapi. Saya sendiri jadi bingung bacanya.
Seriously, sebenarnya menabung itu ditentukan niat dari masing2 orang. Berapakah yang akan disisihkan pada bulan ini? Apakah ada untungnya menabung? Jika sudah mencapai jumlah sekian, mau dibuat apa? Dan sekian banyak pertanyaan2 anda yang hanya bisa anda jawab sendiri mengenai apa dan bagaimana mewujudkan rencana anda di masa mendatang. Jawaban2 tersebut akan memberikan kita gambaran apa yang bisa kita perbuat mulai dari sekarang.
Gaji adalah pasti. Jika anda bekerja dalam sebuah ‘company’, anda bisa mengira2 berapa sih gaji yang pantas buat anda dan bos anda. Dan memang sewajarnya jika si bos mendapat gaji lebih, karena memang pengetahuannya yang lebih daripada anda. Lagipula, gaji ditentukan oleh kantor disesuaikan dengan job description masing2 posisi. Sesuai dengan responsibility-nya dalam sebuah organisasi. Bener ga? Jika anda seorang bapak beranak 2 digaji hampir sama dengan seorang bujangan dalam posisi yang sama, tentu saja karena memang responsility-nya dalam office tersebut sama. Walaupun, tugas dan kewajiban dalam keluarga juga berbeda. Saya katakan hampir karena seorang kepala keluarga mendapat keringanan pajak dibanding seorang bujangan, bukan. Sehingga, jangan keburu menyalahkan kantor karena gaji anda kurang memenuhi impian untuk banyak menabung. Bisa jadi memang pengeluarannya yang lebih banyak.
Beberapa situs management keuangan pribadi, dan rumah tangga bisa ditemukan di internet dengan mudah. Pada intinya mereka menyarankan untuk memanage dan merencanakan pengeluaran dengan baik. Sehingga, di kemudian hari sampean ndak memble karena duit abis ga ketauan juntrungnya. Pola pengeluaran juga berkaitan erat dengan pola hidup seseorang. Contoh gampangnya ya .. pola hidupnya nuntut makan di mall terus2an (biar dianggap tajir, keren dan gaul), misalnya sekali makan 20-25rb dikalikan 2x dalam satu bulan –> uda 1.2 juta minimal buat makan doang. Sedangkan jika makan di warung emperan yang bisa 10-15rb. –> cuma 720rb.Anda bisa ngitung sendiri berapa yang bisa anda simpan jika anda mau menurunkan ‘taraf hidup’ mewah.
Ini contoh lain mengapa gaji besar tidak selalu identik dengan banyak menabung. Semakin besar pendapatan kita, secara ga sadar orang menaikkan taraf hidupnya. Ujung2nya ya pengeluaran naik.
Jika ada seorang karyawan yang berpendapatan sampe 2jt/bulan, saya yakin dia ‘cuma’ berani kredit motor. Masih ngekos (blum berani kontrak) dan paling poll SMSan doang. Beli baju kalo lebaran saja. Makan fast food kalo ada yang nraktir. Sehingga jika pendapatannya dikurangi overhead (buat makan, bayar kos, pulsa dan transportasi), kira-kira 200rb yang bisa dia tabung. Sehingga rasionya 1 : 10; tabungan terhadap pendapatan.
Contoh lainnya, misalnya supervisornya berpendapatan di kisaran 5jt/bulan, dia ‘lebih berani’ dibanding anak buahnya. Ngambil kredit rumah, dan masih kredit motor juga. Telpon2an kalo ada yang penting saja. Beli baju kalo emang butuh baju. Makan di restoran seminggu sekali buat hang out bareng teman (tapi be de de ya). Ya, kira2… 500rb lah yang bisa dia tabung. Sehingga rasionya menjadi kurang lebih 1 : 10 (maksimum).
Naik lagi, ke managernya berpendapatan di kisaran 10jt/bulan, malah tambah berani kredit mobil, minimal 3 hari sekali makan fast food dan junk food. Kadang nraktir anak buahnya. Sebulan sekali beli baju (karena lapar mata). Ya.. kira2 tabungannya maksimal 1 juta juga (walaupun saya ragu). Sehingga rasio tabungan terhadap pendapatan adalah 1: 10. Kalo anda perhatikan setiap gaji seseorang itu naik, rasio tabungan/pendapatannya sepertinya ga ngefek ya. Tetep aja segitu. Karena ya itu tadi, pendapatan anda mencerminkan strata sosial anda. Dan, anda ingin mempertahankan strata sosial itu dengan menghabiskan sebagian dari pendapatan.
Tidak ada yang salah dengan itu, kecuali anda menyakiti orang lain dan bertindak kriminal.
Kesimpulannya, jika anda memang punya niatan menabung ya… jangan SEKALI-SEKALI berpikir berapa pendapatan yang harus diraih supaya bisa menabung. Mantabkan niat dari sekarang, dan menabunglah berapapun yang anda ingin sisihkan. Jangan lupa hak orang lain ya… (infaq dan zakat maksudnya).
Sikap Anak Kecil: Easy Come Easy Go
Sebenarnya saya tergelitik dengar omongan beberapa orang dewasa, “Kayak anak kecil aja”. Sebenarnya sikap mana yang dimaksud? Beberapa sikap anak kecil itu, saya nilai positif buat kita untuk ditiru. Perilaku lainnya juga BUKAN negatif. Yang menilai negatif itu kan kita, orang dewasa. Buat mereka, anak kecil, ya… semau-mau gw lah.Alhamdulillah, saya dititipin Iqichan, 4 tahun dan Meutia, 5 bulan. Dan saya diberikan kesempatan untuk mengamati perkembangan mereka. Ini hasil pengamatan saya terhadap sikap mereka berdua. Kelakuan umum yang bisa kita temukan pada anak-anak lainnya juga.
Yang dimaksud anak kecil itu, saya batasin kira2 sampe umurnya 5 tahun saja. Kayaknya sampe umur segitu, mereka blum ‘tricky’. Ada juga sih akal2annya. Tapi, masih mudah ketebak lah.
Easy Come Easy Go
Pernah merhatikan anak kecil berantem? Dari mulai yang saling teriak, cakar2an, bahkan mungkin juga sampe pukul2an dan tendang2an. Cuma rebutan mainan. Kadang konyolnya, malah mainannya uda rusak. Aneh. Wajah Iqichan bisa memerah menahan marah, tangan mengepal, mulut ga berhenti ngomel, dan uring2an ketika di-usilin temannya. Ketika umur 2 tahun, dia bengong aja dipukulin temannya yang lebih besar. Ketika menginjak 3 tahun, uda mulai ngebalas, dan usilnya juga mulai. Teman2nya pun sama saja. Yah, nakalnya anak-anak lah.
Abis berantem kayak gitu, eh, ga sampe 1 jam lagi mereka uda lupa masalahnya apa. Baikan lagi, maen kembali. Bahkan bisa ber-koalisi lagi untuk ngusilin yang lain. Mereka ga punya “grand design”, ato dendam, ato sakit ati. Ya, pokoknya maen aja lagi. Malah, kita ini sebagai ortu-nya yang sibuk menimbun angkara bukan kepalang. Sampe2 dibelain ribut sama2 orang dewasa. Malah bisa bunuh2an. Eh, beneran loh…saya pernah baca di media beberapa waktu yang lalu. Bapaknya bunuh2an karena membela anak2nya. Konyolnya, di hari persidangan, si anak tersangka ditemukan sudah main2 lagi sama si anak korban. Uda lupa, kalo bapaknya mati konyol karena mereka.
Tuh, sikap anak kecil. Easy Come Easy Go. Truly Gentlemen (ladies bisa gitu ga ya?). Anda bisa bilang itu sportif juga. Toh, apa yang mereka pertengkarkan, perebutkan adalah hak pribadi mereka, kepentingan mereka di saat itu. Setengah jam lagi, interestnya bisa jadi sama. Ya, mari berkoalisi… (ah, kok jadi gitu bahasanya, maksud saya, mari bekerja sama)











.jpg)









