Archive for the ‘Melihat Batam Melalui Blog’ Category
Pasar Induk Jodoh Di Suatu Sore
Seminggu yang lalu, saya diminta istri meneman belanja bahan kue di jalan Duyung, Jodoh. Selama setengah jam, muter2 di dalam toko kue, Bogasari, dan karena bosen akhirnya saya keluar ke parkiran. Saya melihat suatu bangunan yang modelnya lain daripada yang lain. Sebenarnya sudah sering lihat sewaktu jalan pulang ato mau ke DC mall.
Pasar Induk Jodoh [1° 8'50.51"N - 104° 0'10.21"E]
Saya sendiri pencinta Arsitektur. Saya kagum juga dengan bangunan model Kolonial yang diniatkan menjadi pusat ekonomi pulau Batam. Selesai dibangun di tahun 2004 dengan biaya Pemko Batam dan Otorita hingga mencapai 90 Milyar ! Sebuah investasi tidak main2 tentunya. Saya sendiri berpendapat, bangunan ini berpotensi menjadi salah satu landmark Batam. Kok bisa, cak? Loh, liat aja bangunan ruko dan Mall yang menjamur di Batam. Bangunan2-nya pada seragam dan tipikal. Berbentuk kotak2 dengan aksen ga jelas kiblatnya kemana. Sedangkan, bangunan pasar induk ini unik, menarik. Kalo orang bertanya, mungkin kita tinggal mengarahkan, “You know it when you see it”.
Dari segi bangunan sudah menarik. Bagaimana dengan isi pasar itu? Kan ga lucu, cuma berwisata liat pasar doang. Kalo bisa ya sekalian ada yang dibeli. Dulunya, pasar ini direncanakan adalah pindahan pasar Tanjung Uma dan Tos 3000. Bahkan ternyata ada pelabuhan di belakang pasar tersebut sebagai penunjang kegiatan bisnis. Tentu saja, ini suatu investasi yang menguntungkan. Harga barang tentunya bisa ditekan karena sudah tidak ada komponen biaya transportasi dari pelabuhan bongkar muat menuju pasar.
Sampe sekarang pasar itu masih sepi. Pengelolaannya pun pernah diserahkan ke swasta dengan harapan bisa memacu pertumbuhan. Seinget saya pun, pernah diadakan pameran untuk menarik minat pengunjung dan pedagang pasar. Belum berhasil juga. Pedagang pasar lebih suka berjualan di tepi jalan, mengganggu ketertiban jalan dan pemandangan. Padahal bangunan mahal itu juga sudah mulai lapuk dimakan waktu. Catnya terkelupas disana-sini mengurangi keindahan arsitekturnya.
Mungkin perlu ada pendekatan lain supaya bangunan ini berdaya guna. Mungkin cocoknya jadi museum kali ya… kan uda berbau kolonial… hehehe. Bisa juga menjadi ajang pameran seni. Ato, jadi tempat expo, barangkali? Ato sekolah? Kompleks perkantoran barangkali. Disewakan pada industri kecil dan menengah. Semua cara perlu dicoba untuk menyelamatkan aset pemerintah Batam. Jangan sampe bangunan mahal berarsitektur indah seperti itu cuma hancur dimakan waktu, tanpa memberikan manfaat pada masyarakat.
Ini bukan tugas pemerintah saja. Masyarakat Batam pun bisa berperan serta menyumbang ide dan kreasinya supaya bangunan ini bermanfaat. Seinget saya, dulu di Surabaya ada sayembara kreasi pasar Bratang. Jadi para pesertanya dari para calon desainer arsitektur (mahasiswa) yang masih muda, dan energik. Sehingga diharapkan desainnya bisa ‘out of the box’. Pada pak wako ato wawako, adakan sayembara saja, pak daripada dipikir sendiri. Kayak lomba batam blogger ini.
Soto Medan Nagoya, Batam
Seumur2, baru makan soto Medan itu ya di Batam. Itu pun setelah tinggal hampir 2 tahun. “Ya, ampun cak. Emang lu kemane aje?”, kata si Boy teman sejawat yang hobinya berwisata kuliner, tapi badannya tetap kurus. Hehehe…hidup sebagai kuli 6 hari seminggu dan 10 jam sehari memang melelahkan. Pengennya makan cepat2, makanya cari makan serba dekat. Disantap secepat kilat, kemudian kerja cepat2 supaya dapat (progressnya). Makanya, area wisata kulinernya sebatas office ke kantin.
Warna kuahnya masih kuning kayak Soto Madura ato Soto Kwali. Namun begitu, Soto Medan dikenali dari kuahnya yang keruh, tapi bukan dicampuri lumpur lapindo loh. Kuahnya pake santan. Kuahnya kental banget. Dari uap panasnya aja, hmm..uda ngiler rasanya. Apalagi kalo uda lewat lidah, wah…rasanya sedap banget. Bumbunya yang terdiri dari rempah2 (yang membuat Belanda sampe merantau ke Nusantara) bener2 nonjok. Berasa banget. *GLEK [nelen ludah]*.
Ciri yang kedua adalah dagingnya campur2. Dalam beberapa resep yang saya temui di Internet, rata2 menggunakan ayam yang telah digoreng. Kemudian disuwir2 halus. Namun, Soto Medan Nagoya ini mengkombinasikan dengan daging babat, paru, dan perkedel kentang. Dipotong dadu, lembut dan hemmm…maknyos, sodara. Mau campur, bisa. Mau ayam sahaja juga bisa. Mau daging paru goreng saja, juga boleh.
Dihidangkan panas2 dalam mangkok melamin warna oranye. Sepiring nasi putih, plus sambal cabe hijau. Kalo mau berasa kecut, cukup ditambah jeruk nipis. Biar rasanya tambah nendang, ada keripik melinjo. Buat yang berkolesterol tinggi, kayaknya sampean harus hati2 milih menu nih.
Satu porsi Soto Medan Nagoya (belum termasuk emping melinjo loh ya) termasuk teh obeng dihargai Rp. 18000. Kalo urusan billing ini yang saya suka heran. Akan ada 2 orang yang akan itung2an sama sampean. Misalnya harganya 18rb, kemudian si Bapak (yang jual orang aceh nih), nyerahin sejumlah uang ke ibu (etnis Tionghoa). Sepertinya, si ibu ini yang memiliki ruko dan menjual minumannya. Sementara, si Bapak yang jualan sotonya. Emang ga penting sih. Cuma, dalam simbiosis mutualismus pedagang, biasanya tranksaksi ini ga begitu terlihat mencolok.
Untuk bisa nyampe ke lokasi ini, ancer2nya gampang banget. Kalo sampean datang dari arah Jodoh (Jl. Raja Ali Haji), susuri Jalan Imam Bonjol (Bank Mandiri), kemudian terus sampe ketemu papan nama Nagoya Hill SuperMall. Trus belok kiri deh. Sampean bisa temui warung soto Medan ini, namanya Kedai Kopi Safana Baru [1° 8'43.24"N - 104° 0'42.16"E] di samping (selisih 3-4 ruko) Kantor Pos Nagoya. Buka setiap hari dari jam 9 pagi sampe sore. Kurang tau sampe jam berapa, yang jelas kalo malam uda tutup.
Lokasi kedua ada di Batam Center dekat Masjid Raya. Depan kantor asuransi Takaful dan disamping Fisherman Batam Center. Yang disini, warungnya buka sampe malam. Saya uda nyoba dua-duanya dan rasanya sama aja. ENAK !!
Rekreasi ke Ocarina Yuk…
Mami Rizqi kasih ide ke gw minggu lalu. “Yah, kalo kehabisan ide ke Ocarina, yuk?”, sarannya. Ya, gw lagi ikutan lomba blog “Melihat Batam Melalui Blog” yang diadakan Batam Blogger Community. Gw ngambil sisi hidup Batam yang unik, pantas dilihat dan dicoba tanpa meninggalkan detil.
Ocarina sendiri sesungguhnya nama alat musik tiup yang dimodernisasi oleh Giuseppe Donati dari Italia. Biasanya terbuat dari keramik, walaupun bisa juga terbuat dari kayu, plastik ato logam. Gw kurang tau apa maksud Arsikon sebagai salah satu pengembang sukses di Batam, menamakan taman wisata ini dengan nama alat musik tiup yang konon asalnya dari negeri Cina itu. Salah satu jargon yang didengungkan adalah Ancol-nya Batam dengan mempersembahkan hiburan ala Dufan dan Giant Wheel. Kawasan wisata ini seluas 40 Hektar dan terletak di teluk Kering, berhadapan dengan International Ferry Terminal Batam Center, serta terintegrasi dengan perumahan mewah Coastarina. Diresmikan oleh Gubernur Kepri Ismeth Abdullah pada Desember 2008, mega wisata Ocarina [1° 9'9.36"N; 104° 3'23.80"E] diharapkan menjadi landmark pariwisata Batam. Mungkin suatu ketika akan ada orang bilang, “Kagak ke Batam, kalo belum ke Ocarina.” Hehehe…
Sempat terjadi perdebatan sehari sebelumnya. “Katanya naik taksi enak lebih enak, mas. Soalnya masuknya jauh”, begitu kata istriku. Gw bilang, “Jauh itu relatif. Kalo dari rumah ke gerbang depan Puri Legenda, orang bilang jauh. Tapi gw bilang enggak”. Istri saya mengangguk setuju, “Yo wis lah, namanya jalan2, ya.. harus jalan”. Suatu keputusan yang keliru…
Gw dan keluarga berangkat jam 10.00 dari rumah karena katanya jam buka-nya mulai jam 10.00. Perjalanan naik motor itu, gw tempuh sekitar 10 menit dari rumah. Menyusuri jalan “tak bernama” ke arah Barat laut, sempat lewat simpang “tak terdefinisi”, terus sampe sekolah kalista, gedung BI, Mega Mall. Kemudian nyampe bundaran depan Otorita Batam terus sampe kantor pos, Home Furnishing, sampe akhirnya tembus ke jalan tanah. Kalo dari arah simpang Gelael, terus aja lewatin papan nama Regatta [1° 8'3.45"N; 104° 2'38.05"E]. Sepanjang jalan, gw berdendang naik2 ke puncak gunung, tapi pas di bagian ini gw ganti syairnya,
Kiri kanan, kulihat saja
banyak ruko tak laku hu hu..
Iya, memang banyak banget ruko sepanjang jalan dari depan papan nama regatta, sampe ke pintu gerbang Ocarina. Gw kurang tau apakah itu uda laku semua ato tidak, tapi yang jelas tidak berpenghuni. Padahal seinget gw, ruko di kawasan ini sudah dibangun sejak 3 taun lalu ketika gw baru datang ke Batam.
Gerbang Ocarina
Dari jauh sudah terlipat ornamen siput / keong yang menjadi gerbang pintu masuk kawasan ini. Karena gw sekeluarga naik motor, maka parkir ya di luar. Bah, parkirnya tidak ada atapnya. Waduh, alamat kepanasan nih Supra X kesayangan. Belum lagi semrawut juga tata parkirnya. “Kalo rame ntar ga bs keluar lo, Yah. Parkir dekat pintu keluar aja”, saran istriku. Gw ga tau berapa temperatur Batam waktu itu, yang jelas ketika tutup kepala Anggun dibuka, keringat sebiji jagung sudah menghiasi kepalanya yang gundul. Kasian anakku…
Tiket masuknya ga mahal kok. CUMA Rp. 5000 !! untuk orang dewasa dan anak2 yang berumur lebih dari 5 tahun. Jadi kita berempat cuma bayar Rp. 10000. Konon katanya bila menjadi member, bisa lebih murah lagi. Tentu saja, itu belum termasuk tiket wahana yang berbayar.
Wah, cuaca cerah sekali. Langit biru, dan sepertinya semua serba terang. Panas. Ah, rupanya itu yang kita tunggu2…Commuter Bus. Sepertinya berapasitas ga lebih dari 16 orang. Itu pun sudah dempet2an. Ada halte disana. Ga ketauan juga berapa lama si bis kecil itu akan kembali lagi. Apalagi tak ada budaya antri, wah lengkaplah sudah. Budaya rimba dipake, siapa cepat dia dapat. Gw dan keluarga sudah kalah bersaing, secara kita bawa bayi 4 bulan dan anak 4 tahun yang susah diajak kompromi. Ya sudah, kita jalan aja sambil memperhatikan patung2 shio yang ada di sepanjang jalan masuk. Ada juga kampung Indonesia, ini pusat jajanan. Letaknya di pinggir pantai. Sepertinya pemandangannya bagus kalo malam melihat lampu berkelap-kelip di sekitar terminal ferry sambil menikmati sepoi2 angin pantai malam. Kalo siang? Bah…gerah !
Eh, ada wahana air loh. Menggunakan danau buatan (untuk tidak disebut kubangan besar
), gw pun iseng ngajak Rizqi yang ngambek karena ga diajak ke Mega Mall. Ah, rada adem lah. Macam2 perahu yang disewakan. Ada yang pake pedal, pake dayung, de el el. Kita cobain naik bumper boat. Bentuknya bulat seperti donat. Menggunakan mesin elektrik untuk menggerakkan kapal. Tinggal puter tombol off, maju dan mundur. Itu aja trainingnya. “Nanti kalo uda selesai, kita panggil nomer kapalnya, pak”, gitu aja saran si penjaganya. Setelah itu, kita puter2 aja di “kubangan” itu. Ah, baru inget… Ga pake Life Vest !! Wah, safetynya kurang nih, meskipun ada rescue team siaga disana. Bumper boat bisa dihargai 30 rb selama 20 menit.
Kiddie Land ~ Surganya mainan anak2
Akhirnya nyampe juga ke lokasi mainan anak2. Suasananya ceria loh dengan hiasan angka warna-warni bertebaran di berbagai tempat. Mirip taman kanak-kanak.Kiddie Land sendiri nama wahana taman bermain anak2. Masuknya cuma Rp. 5000 sepuasnya.Kalo mau fitness gratisan, kesini aja. Ngangkat badan sendiri. Putar2 badan. Hehehe…
Loncat2 di trampolin ini juga OK tuh. Kebanyakan yang main anak-anak. Gw sendiri pengen banget. Hehehe. Takutnya, tali pengamannya itu ga kuat lagi. Loncat2 di trampolin ini, Rp. 20000 selama 20 menit. Kalo punya anak kayak Rizqi yang doyan loncat2 di kasur, bawa sini aja deh. Ditanggung puas sampe kelenger… hehehe.
Kita juga bisa keliling di area wisata ini pake sepeda. Sepedanya bisa disewa di sana dengan harga Rp. 30000 selama 1 jam dengan jaminan KTP. Asik…ga capek jalan2nya.
Tiba waktunya makan. Waduh, ga bawa makanan nih. Warung2 disitu juga ga ada yang rame. Semuanya sepi. Ga enak makanannya? Engga tau ya. Soalnya, semua orang pada piknik ke sana. Bawa tikar, makanan dan dibawah pohon. Amboi…sejuk nian…
Belum sempat nyobain giant wheel yang konon didatangkan dari Hongkong. Perut uda melilit-lilit. Gw dan istri sempat diskusi mau makan dimana. “Ah, di Mega Mall aja deh. Panas banget disini. Lagian warungnya pada sepi gitu. Males ah”, komentarku. Ya wis, akhirnya kita jalan aja ke parkiran lagi. Dengan terengah2, kepanasan, kehausan (alamak…rekreasi sekeluarga cuma bawa botol air 500 Ml satu biji), kita kembali ke parkiran Ocarina kembali. Besoknya, ternyata gw baru tau lewat Google Earth kalo jarak dari parkiran sepeda motor ke wisata Ocarina itu 1 KM ! Hebat betul anak beranak ini berjalan 2 KM. Rizqi yang biasanya trengginas aja menyerah kalah dan minta gendong.
Lesson Learned
- Di sono panas, jarang ada pohon. Bawa payung, dan air minum secukupnya. Buat yang bawa bayi, mendingan bawa kereta dorong deh, biar ga capek gendong.
- Bawa makan siang juga kalo perlu. Karena disono banyak orang piknik. Warung ada banyak, tapi ga laku juga. Entah enak entah enggak.
- Kalo bisa naik mobil. Biar ga usah jalan dari parkiran ke tempat rekreasi. Jalannya jauh, panas lagi. Commuternya ada juga sih. Tapi rebutan dan jadwalnya kurang pasti. Pada waktu pulang, ga ada satu pun bis yang lewat.
Kata istri gw, “Layak dicoba lagi. Kan belum nyobain Flying Fox !!”
Ikan Bakar Bu Ikah – Batam Center
Saya sengaja ngomporin P’ Deni untuk nganterin saya makan ikan bakar ke Batam Center. Konon, dengar sana-sini dari teman sekantor, sajiannya maknyus banget. Kata Bambang, “Kangkungnya yang enak, cak. Sambelnya apalagi, sedap tiada terkira. Dijamin datang lagi lah…”. Singkat kata, saya berhasil merayu bapak endut satu itu untuk nganterin kita ber5 naik mobilnya. Hehehehe…biar ndak panas dan cepat sampai.
Kita sendiri punya kekhawatiran bakalan menunggu lama sebelum makan. Kita punya satu jam buat perjalanan PP dan makan, dan jarak perjalanan yang harus ditempuh jauh banget. Batu Merah – Batam Center bo’. Itu rute gw sehari2. Minimal 15 menit sekali jalan. bagusnya sih, pesan duluan ya? Ternyata eh ternyata…ga ada nomer telponnya. Yah..pasrah deh.
Nyampe sana, kita disuguhi aneka ikan. Kita bisa milih mau ikan yang mana. Besarnya rata2 sama aja kok. Karena saya hobi makan ikan Bawal [Pampus Argentus], maka saya pilih ikan Bawal aja. Bambang sama juga. Sedangkan Pak Deni milih ikan Kaci [Diagramma pictum]. Eh, ikan apaan tuh? Ga ngerti. Ikan ini kayaknya baru ketemu di Batam nih…
Sepertinya, ikan2 itu sudah dibakar duluan. Terlihat dari warnanya yang agak gosong terbakar. Dicelupin ke bumbu sambal (*gw sampe nelan ludah, bayanginnya*) selama 1 menitan. Abis itu ditaruh di bara api. Kira2 5 menitan, uda kelar proses pembakarannya. Bolak-balik sebentar, sambil diolesin bumbu sambalnya tadi. Lebih cepat dari perkiraan saya !
Ternyata rasanya enak banget loh. Penyajiannya sendiri sudah menggoda selera. Plecing kangkung yang masih panas. Glek *nelen ludah*. Sambalnya pedasnya cukup lah. Saya sendiri ga ngerasa kepedesan kok. Pas lah. Pak Deni dan Bambang ga menyia-nyiakan kesempatan, meskipun keringat berleleran karena kepanasan, tapi masih semangat memutilasi ikan2 tak berdaya itu. Hehehe.
Lokasinya di depan Kantor Pos Batam Center, ex Mall Home Furnishing [1° 7'55.84"N; 104° 2'53.95"E]. Jam bukanya di hari kerja saja dan di siang hari. Satu porsi ikan bawal, plecing kangkung, sepiring nasi dan es jeruk dihargai Rp. 25000.
Worth to try but not too often.
Berapa Biaya Hidup di Batam
Jika sampean sedang mempertimbangkan untuk bekerja di Batam, dan belum ada bayangan kehidupan di pulau ini, perlu kiranya mencari tahu berapa sih standar minimal untuk hidup di Batam. Sehingga, sampean bisa itung2 berapakah gaji minimal, berapa biaya hidup, dan berapa yang mau ditabung. Ini berdasar interview saya terhadap salah satu teman. Mungkin tidak general, tapi lumayan bisa dipake pegangan.
Tempat tinggal
Sepakat ga kalo, tempat tinggal ato kos itu tergantung dari kondisi tempat itu sendiri. Kalo lokasi strategis dan bersih, tentunya akan lebih mahal daripada sekedar bersih. Kos di Batam itu sendiri bervariasi. Jika sampean akan bekerja di sekitar area Nagoya, Jodoh, Batu Ampar dan Batu Merah, salah satu hunian favorit ya Lancang Kuning. Ada 5 blok di area ini. Tiap blok terdiri 4 lantai dan tarifnya dibedakan menurut lantai. Tiap lantai selisih 40rb lebih murah. Pada saat posting ini dibuat, kamar di lantai 1 dihargai 480rb belum termasuk ongkos air dan listrik. Kisarannya nyampe Rp. 100rb lebih karena termasuk industri ringan. Kamar disana bisa ditempati hingga 4 orang.
Kos yang rada bagusan dikit dengan fasilitas AC dan dihargai 800rb pernah saya temui di Baloi, sekitar 5 KM dari Rusun El-Ka (demikian sering disebut). Sependek sepengatahuan saya, kos di Batam kisarannya antara 400 hingga 800rb.
Kos2an ini biasanya cocoknya buat bujangan. Di El-Ka sendiri, ada ketentuan khusus yang tidak membolehkan pasangan suami istri menginap. Jika sampean berniat bawa keluarga, kayaknya kok ndak cocok kalo tinggal di kos2an ya. Mungkin sewa rumah bisa dipertimbangkan.
Saya sempat survey beberapa perumahan di Batam. Di perumahan KDA, 20 Km dari Batu Ampar, sewa rumah untuk tipe 38, disewakan Rp. 900rb. Jika full furnish, dihargai 1.2 juta. Di perumahan Hang Tuah (1 Km dari perumahan KDA), rumah tipe 38 disewakan Rp. 700rb. Begitu pula, rumah di lokasi Tiban (5 KM dari) Simpang Jam. Di daerah Sengkuang (sekitar kawasan industri Batu Ampar), rumah juga masih disewakan dengan harga 700rb.
Transportasi
Transportasi memegang peranan penting dalam aktivitas sehari2 sampean. Berangkat dan pulang kerja, ngantar anak sekolah, ato cuma sekedar hanging out cari makan. Sistem transportasi di Batam masih buruk. Saya sampe sekarang ga paham dengan rute angkot2 itu kecuali metro trans JONO (Jodoh – Nongsa). Kecuali kendaraan pribadi, ada 3 macam moda transportasi yang bisa dimanfaatkan di sini. Metro trans (alias angkot), ojek, dan taksi. Dari kawasan Jodoh (jalan Raja Ali Haji, jalan Teuku Umar dan Imam Bonjol) ke Batam Center, ongkosnya kira2 Rp. 5000. Jika naik ojek, kira2 Rp. 15000. Jika naik taksi, kira2 Rp. 50000.
Untuk lokasi El-Ka ke Batu Ampar, naik ojek itu kira2 Rp. 700o. Jika naik taksi-tidak-langsung (di Batam, sampean bisa berbagi taksi dengan orang lain asal masih dalam satu jurusan), ongkosnya Rp. 3000. Sayangnya Metro Trans tidak lewat ke Batu Ampar.
Kendaraan pribadi juga bisa dijadikan alternatif. Seperti yang saya bilang di atas, sistem di sini masih buruk. Sehingga, beberapa teman termasuk saya sendiri lebih menyukai mengendari kendaraan pribadi. Tidak bergantung dengan moda transportasi apapun, dan sampean punya kendali penuh atas waktu. Ga perlu nunggu di pinggir jalan dan menggerutu karena si angkot ngetem. Untuk jenis moda yang satu ini, ada keunikan yang saya temui di Batam. Sampean bisa sewa motor loh! Harga sewanya Rp. 150rb untuk sebulan. Kalo sewa mobil, saya kurang tau ya.
Kalo mempertimbangkan membeli, bisa juga sih. Ada kendaraan bekas yang bisa dibeli di showroom2 di Batam. Jika sampean memang berniat tidak lama menetap di Batam, mungkin kendaraan bekas cocok untuk sampean. Jika tidak, pertimbangkan beli motor baru. Ada salah satu saran dari teman tentang motor bekas di Batam. “Paling susah, kalo dapat motor ex-ojek. Medan di Batam itu berat, jadinya motor itu suka ‘dipaksa’ sampe maksimum. Sehingga kita dapat sampah, kalo ga bisa milih dengan bener.“, demikian anjurannya. “Lebih baik beli motor dari teman yang lu kenal, sehingga ngerti sejarah2nya. Ato, kalo ngerti mesin ya silakan dicek sendiri, sehingga ga menyesal belakangan.“, lanjutnya. Kendaraan bekas banyak dijual di Batam, karena si pemiliknya pulang kampung, di-PHK ato diterima bekerja di tempat lain. Besar kemungkinan, motor2 itu masih dari tangan pertama. Dalam beberapa kasus yang saya temukan, malah motor2 itu blum lunas kreditannya.
Makan
Budget yang satu ini wajib ndak boleh lupa. Karena alasan dasar orang kerja ya kerja nyari duit buat makan. Bener ndak? Untuk makan, kisarannya antara Rp. 9000 sampe Rp. 12000 per sekali makan tanpa minum. Harga Rp. 7000 itu nasi sayur. Selisihnya itu tinggal masalah lauknya aja. Trus, kalo minumnya air putih, ya gratis. Kalo teh obeng, kira2 Rp. 1000. Untuk makan di Mall, kayaknya ga recommended untuk hidup hemat, karena makan disini minimal harganya Rp. 15000 (not included tax). Teh obeng aja bisa nyampe Rp. 3000.
Warung2 yang ada disini kebanyakan masakan Minang. Kalo perut ndak tahan dengan pedasnya dan pengen njaga kadar kolesterol, coba warung sunda yang juga cukup banyak disini. Warung nasi campur ala Jawa Timur juga ada. Seafood ala Surabaya juga banyak ditemui disini.
Kalo sarapan pagi harganya lebih murah. Secara porsinya lebih kecil dan bukan makanan kelas berat. Bubur ayam dibandrol Rp. 6500. Sedangkan nasi pecel bisa terbeli dengan Rp. 7000. Sedangkan, pasar kecil makanan di depan McDermott rata2 dihargai Rp. 5000. Tentu saja, porsinya lebih kecil.
Kesimpulan:
Minimum biaya hidup layak ukuran saya untuk bujangan di Batam adalah:
Kos : Rp. 400.000 (asumsi sampean tinggal sendiri di kamar)
Makan : Rp. 750.000 (asumsi rata Rp. 9000 x 30 hari x 2 kali makan + Rp. 5000 x 30 hari sarapan)
Transport : Rp. 200.000 (asumsi sampean tinggal dekat dengan tempat kerja. Rp. 4000 x 25 hari x 2 PP)
Total : Rp. 1.350.000
Itu bisa lebih sampean hemat jika sampean ngekos berbagi kamar dengan teman. Untuk transport, diasumsikan sampean tinggal di dekat kantor yang dilalui jalur metro trans, ato berbagi taksi. Kalo numpang, kayaknya bisa lebih hemat tuh. Beberapa perusahaan memberikan fasilitas antar jemput juga dan memberikan uang makan.
Yang belum ketauan adalah biaya kesehatan mengingat sampean ga selalu sehat setiap saat, kemudian kebutuhan sandang. Buat cewek, mungkin kebutuhan yang satu ini juga perlu diperhitungkan.
Kalo anda sudah berkeluarga, susah ngitungnya karena terlalu banyak asumsi yang harus saya bikin.























.jpg)









