Jaket Dealer
Mas No belum pernah ke Batam sebelumnya. Dia juga bingung dengan sistem transportasi kota yang rumit gampang gampang. Rumit pertama adalah jalur transportasinya ga jelas. Tidak jelas cari informasinya, tidak jelas dari mana mau kemana, juga aksesnya. Transportasi resmi seperti metro trans itu cuma lewat jalan utama. Abis itu ya … cara gampang. Taxi jaman perang yang uda berkarat bodinya, juga lantainya. Jalannya kayak siput. Ato, naik ojek. Kendaraan roda dua yang super lincah, meliuk sana sini, tapi tanpa asuransi. Terpeleset yaa… apes.
Mas No pernah jatuh dari sepeda motor beberapa kali di kampungnya. Dulu jago ngebut. Abis jatuh, tobat. Sekarang jalannya mirip taksi perang tadi. Seperti siput.
Mas No bilang sama saya, “Dik, aku takut naik ojek batam. Jalannya slintutan. Serong ke kiri. Serong ke kanan. Lalalalala….” (seperti lagu potong bebek angsa).
Saya: “Sampean njaluk piye, mas?”
Mas No: “Anterin beli motor sendiri, yuk!” (muka melas. tak tau jalan pulang)
Saya: “Sampean pengen yang gimana?”
Mas No: “Beli baru saja. Seumur2 ndak pernah aku punya motor sendiri. Pinjem melulu. Mumpung punya duit, mending beli baru. Meskipun nyicil. (muka merah… malu… ndak punya duit).
Akhirnya saya antar mas No beli motor baru. Tiga minggu kemudian, diantarlah motor itu ke kontrakan kami. Motor merk Honda, masih kinyis2, nunggu di-reyen. Mas No yang uda ndak sabaran, langsung nyengklak di jok motor.
Saya: “Pake jaket, Mas. Mengko kademen ning dalan, masuk angin, aku emoh ngeroki”. Mas No langsung pake jaket bonus dari dealer. Warnanya merah dengan lengan hitam. Namanya barang gratisan, pasti ada embel2nya. Nama dealer juga alamat berikut nomer telpon dan email tertempel di punggung.
Saya dan mas No jadi jarang ketemu di kontrakan. Saya pikir si mas pasti sibuk reyen motor supaya cepet diservis. Paling ketemu cuma ‘say hello’, abis itu kena asap knalpotnya dan si jaket merah itu menjauh.
Suatu hari, mas reyen dengan muka suntuk mendatangi saya. Jaket merah ditentengnya, kemudian dibuang di tempat sampah. “Lhoh mas, eman2 iki”, kata saya.
“Opo raiku iki koyo tukang ojek?”, tanyanya sambil menggos2.
“Nanya serius toh, mas?”, saya cuma memastikan pertanyaannya sambil takut2. Ndak biasanya orang tua ini marah2.
“Edyan po kowe iki… aku tenanan!!!”, jawabnya histeris.
“Ya endak toh, mas. Lebih cocok dibilang kuli bangunan”, jawab saya mesem2. Biar cool down, dan ndak galak.
“Nek kuwi penggaweanku, Dul. Dasar semprul ! Hehehehe”, tertawa tertahan. Kayaknya belum plong.
“Ada apa toh, mas?” tanyaku sambil nawarin kopi yang belum kuseruput.
“Dik, aku ini heran. Kalo pinjem motor bulukmu kuwi, sing kusem jarang mbok adusi, plat nomer ra jelas, suoro cempreng, mlayune koyo siput….”
“Wis…wis… motorku elek, mas. Iyo, aku terimo. Trus maksudnya gimana?” (diem2 dongkol juga si kumbang dihina2… huh.)
“Iya, kalo pinjem motor jelekmu itu, aku ndak pernah tuh di-awe2 ama orang suruh berhenti. Kayak nyegat ojek ngono kae loh”, suaranya meninggi. “Kalo sekarang, aku naik motor baru. Banyak orang melambai. Tak pikir ono opo. Begitu berhenti ditanya berapa ongkos ke Nagoya. Kalo ke Batu Ampar berapa. Wah… kesel aku, Dik.”
Saya ngikik dalam hati, lucu. Tapi saya juga ngerti apa kegelisahannya.
“Mas No, monggo mandi dulu. Ben adem atine. Abis shalat Dhuhur’, saya ajak ke Mega Mall Batam Center. Saya mau nyoba motornya ya, Mas. Cuci mata. Hehehe…”
Ternyata enak juga naik motor baru. Respon ringan, cepet dan nggaya. Abis selesai belanja, saya ajak mas No nongkrong di Simpang Gelael. Saya minta Mas No memperhatikan halte ojek di dekat situ. Ada sekitar 3-4 orang yang lagi nongkrong nunggu penumpang. “Trus kenapa, Dik?”, tanya penasaran.
“Coba perhatikan jaketnya, mas…”
“Huahahaha…pantesan dik….”
NB:
bukan seragam. juga tidak ada kesepakatan. tapi kebanyakan tukang ojek di Batam menggunakan jaket hadiah dari dealer sepeda. bedanya yang tukang ojek ato bukan? kalo tukang ojek beneran, begitu liat ada peluang pasti jalan pelan2 kemudian nawarin jasanya.
Gagal transfer via ATM
Pertama-tama, gw mengucapkan Alhamdulillah karena akhirnya duit gw kembali setelah sempat menggantung selama 7 hari.
Kedua, gw mengucapkan salut pada tim Bank yang sudah berdaya upaya membereskan masalah ini secara cepat tanpa menunggu hingga injury time.
Karena masalah ini uda selesai, clear dan tidak ada masalah lagi, maka gw tidak punya kewajiban apapun untuk menunjukkan bukti transaksi, bukti pengaduan termasuk juga menunjukkan bank mana yang menjadi rujukan posting ini. Ini cerita riil, dan bukan hoax. Intinya sekarang bukan service bank tersebut, tapi tindakan preventif kita sebagai nasabah bank apapun dalam menyikapi kemungkinan terburuk salah satu sistem perbankan, Authorized Teller Machine ato Anjungan Tunai Mandiri alias ATM, yang dibuat untuk memudahkan kita. Gw rasa inisial saja sudah cukup. Pertanyaan untuk memperjelas bank manakah itu, tidak akan dijawab. Sekali lagi, posting gw ini bukan tentang kualitas pelayanan bank tersebut, tapi lebih kepada tindakan preventif.
Disamping itu, karena emosi yang masih meluap, gw banjirin timeline twitter gw ungkapan kekesalan. Beberapa kali, juga sempat mau maki2 via Facebook tapi berhasil teredam. Dan gw punya kewajiban untuk menjernihkan masalah ini, biar kita semua juga bisa bobo’ dengan tenang. Begini kronologinya.
Jumat tanggal 5 Maret 2010, gw niatnya mau transfer ke rekening bank B untuk bayar hutang. ATM bank M yang gw gunakan tidak bisa mentransfer langsung ke rekening bank B karena tidak termasuk dalam jaringan ATM Bersama. Seperti biasanya, gw akalin dengan dilewatkan via bank N.
Skemanya kira2 kayak gini: ATM bank M –> Bank N –> Bank B.
Di sini perasaan gw uda mulai engga enak. Proses itu makan waktu lebih lama dari biasanya. Dan, setelah selesai pun di layar tertulis kira2 sebagai berikut (gw uda lupa2 ingat nih), “Transaksi sedang dalam Proses”. Gw tidak berpikir ulang, dan simpan bukti transfer itu.
Minggu, tanggal 7 Maret 2010, gw transfer sisa uangnya ke bank N kembali. Confirm sukses. Proses cepat. Gw langsung ke ATM bank N di Megamall, coba transfer lagi ke Bank B. Tidak Bisa. Why? Selidik punya selidik, ternyata saldonya kurang. Loh? Kemana nih uang? Masak angsuran rumah dipotong di awal bulan. Ga mungkin.
Sampe rumah, gw hubungi hotline bank N untuk menanyakan transfer gw di hari jumat. CS bilang tidak ada transfer uang masuk di hari jumat. Tapi, ada uang masuk hari ini. HEH? Gw transfer tidak sampe satu jam lalu, uda masuk? Trus yang hari jumat kemana? 2 hari kemana aja tuh uang?
Gw cek ke hotline bank M untuk mengkonfirmasi ulang bukti transfer gw. CS bilang ada transfer uang keluar ke bank N pada hari jumat dan hari minggu. Dan dua2nya berhasil dan sudah didebet. LHAH? Duitnya menggantung di alam maya…
. CS menyarankan untuk menempuh procedur pengaduan di bank terdekat dengan membawa semua bukti, juga KTP dan buku bank.
Senin, 8 Maret 2010-jam 12 siang, gw mulai ngantri di bank M. 3.5 jam lebih berlalu dan belum dilayani. Jujur aja, gw jengkel berat. Apa2an nih Bank? Dari dulu, tetep sama aja cara nangani antriannya. Untungnya ada seorang temen yang bisa membantu. Gw diminta untuk mengisi form pengaduan. Dari dia, gw dapat penjelasan bahwa masalah ini akan diteruskan ke pusat. Karena hanya kantor pusat yang bisa menangani transaksi antar bank. Prosedurnya memakan waktu 14 hari kerja katanya. 14 hari kerja means 5+5+4 alias 3 minggu bukan?
*padahal gw transfer dari bank M ke bank N yang satu kota dan berjarak tidak lebih dari 1 KM *sigh*
Rabu, 10 Maret 2010, gw telpon lagi ke CS bank M. Jawabannya Cuma sedang diproses oleh kantor pusat. Dan prosesnya jadi lebih panjang, 45 hari kerja. WHAT? Gw uda mulai muntab nih… 45 hari kerja means 3 months !! Kemana aja tuh duit? Gw ga dapat bunganya, malah tambah bingung darimana uang buat nalangin duit yang ngegantung. Ini tidak bisa dibiarin, tapi gw juga nyadari kantor cabang tak bisa berbuat banyak. Bahkan hotline 14xxx pun tidak bisa membantu banyak.
Beberapa temen menyarankan surat pembaca bisa menolong banyak untuk memberikan pressure pada mereka untuk bekerja lebih efektif. Sementara ada tetangga yang pernah bermasalah sama, menyarankan untuk “ngengkelism ” (dari bahasa jawa yang artinya keras kepala, stubborn) dan minta bertemu dengan manager ato kepala cabang yang tentunya berlevel lebih tinggi untuk mendapatkan keputusan yang lebih cepat.
Alhamdulillah, di saat gw menimbang saran2 tersebut, di hari jumat tanggal 12 Maret 2010 sebuah telepon dari bank M mengabarkan bahwa transaksi tersebut digagalkan dan uangnya dikembalikan ke rekening asal.
ATM adalah mesin computer yang terhubung dengan jaringan mirip internet juga. Adakalanya jaringan terganggu, sehingga data pun tidak lengkap dan transaksi bisa gagal. Ini normal saja. Selama satu minggu, ngobrol sana-sini, ternyata banyak juga yang ngalamin. Bahkan tetangga saya mengalami jumlah yang lebih banyak dan bisa solved dalam satu hari.
Pencegahan/Preventif Jika terjadi gagal transfer via ATM, maka :
- Jangan panik, selama…
- Bukti2nya ada. Maka dari itu Selalu simpan slip ATM anda, termasuk diantaranya bukti transfer, bukti bayar (telepon, HP, de el el) dan juga saldo terakhir. Itu adalah bukti yang sah. Hingga akhirnya anda mem-print buku anda.
- Jika anda men-transfer ke seseorang, segera pastikan via telpon. Transaksi antar bank yang gw alami bisa selesai dalam waktu 1 jam saja. Jangan tunggu berhari-hari. Lebih cepat dideteksi keberhasilannya, lebih nyaman. Kita juga enak tidur.
- Jika transfer ke rekening sendiri malah lebih enak. Segera print out buku bank tujuan dan penerima untuk membuktikan hal tersebut. Buku bank hanya mengatakan timeline uang keluar dan masuk. Ini harus diperkuat dengan bukti transfer karena disitu tertera jelas darimana uang itu dan tujuannya kemana lengkap dengan nama penerima.
- Jika jumlahnya melebihi limit transaksi harian, mendingan langsung ke bank dan transfer secara manual (daripada berkali2 seperti yg gw alami. Peningkatan frekuensi aktivitas juga berarti peningkatan potensi bahaya).
- Internet banking juga bisa dilirik sebagai alternative lain. Sistem pengamanannya lebih berlapis.
- Trik Ngengkelism juga bisa dipake. Logika yang dipake tetangga gw waktu itu adalah kliring antar bank bisa selesai dalam 3 hari, kenapa gagal transfer antar bank proses verifikasinya bisa lebih lama. Kan sama saja …. (eh, sama engga? )
.
Berikut ada contoh slip transfer ATM untuk sampean perhatikan.
Alamat Tanah Longsor
Seumur-umur baru kali ini bencana diabadikan sebagai nama tempat. Ga percaya? Screenshot dibawah diambil dari kop surat dari vendor.

Ga jelas juga sejarahnya…
:p
Jalanan Batam juga Pembunuh?
Membaca Batam Pos di hari Minggu, 13 Desember 2009 tentang kecelakaan di daerah yang sering saya lewati tiap hari. Dua orang ABG jadi korban. Karena itu jalur yang biasa dilalui, tentunya saya juga wajib hati2. Itu memang daerah yang berbahaya. Banyak gravel yang bertebaran di sekitarnya. Jalannya juga bergelombang. Berpotensi oleng karena kehilangan keseimbangan ato malah kepleset sekalian. Tambah berbahaya lagi jika melihat perilaku para pengguna jalan. Sering potong kompas, ganti jalur seenaknya.
Saya sendiri sudah paranoid dengan perilaku berlalu lintas di kota Batam. Selain berhati2 karena “ranjau jalanan” (jalan berlubang, bergelombang dan gravel) , saya juga harus waspada pada “preman jalanan”. Saya kurang tau berapa statistik kecelakaan yang terjadi di Batam. Menurut saya (feeling sih), kayaknya lebih tinggi dari daerah lain. Surabaya misalnya. Alasannya sebagai berikut:
- Sewaktu saya masih bekerja di Jawa Timur, posisi rumah di Pandaan, Pasuruan. Kantor di Sidoarjo dan Proyek di Surabaya. Jarak tempuhnya kira 48 KM (ke kantor pulang pergi), waktu tempuhnya kira2 1 – 1.5 jam per hari. Rutenya tentu saja, dari Pandaan sampe bundaran gempol, belok kiri menuju Porong terus sampe ke alun2 Kota Sidoarjo. Pesaingnya ya truk2 besar yang ga mau masuk tol, Bison jurusan Surabaya-Malang dan kendaraan pribadi. Selama 2 tahun menyusuri rute tersebut, alhamdulillah, saya ga pernah melihat (sekali lagi, melihat) terjadinya kecelakaan di rute tersebut. Kalo pun ada, saya liat di koran saja.
- Mari kita bandingkan di Batam. Jarak tempuh dari Batam Center ke Batu Ampar kira2 15 KM. Ditempuh kira2 20 menit. Pulang pergi menjadi 30 KM (40-45 menit). Selama 2 tahun terakhir, saya pernah melihat dengan mata kepala sendiri beberapa kecelakaan berikut:
- Tahun 2007, saya pernah melihat 3 kecelakaan terjadi dalam waktu 24 jam. 1 kecelakaan terjadi di hari kamis di daerah sei panas. Dua kecelakaan terjadi di hari jumat. Pagi hari di depan Gate satu, PT McDermott. Siang, di pertigaan dekat UBC printing Nagoya.
- Tahun 2008, dalam satu minggu pernah melihat 2 kecelakaan. Dua2 nya terjadi di turunan di markas militer dekat pertigaan Sakura Garden.
- Bulan januari, mobil yang saya tumpangi menabrak mobil di depannya. Kejadiannya, yang depan ngerem mendadak, teman saya juga ga sempat ngerem. BRAK !!. Kap mobil penyok. Cuma ayah saya yang terkilir lehernya akibat menghantam sandaran kepala di depannya karena tidak mengenakan safety belt. Sejak itu, saya menghindari duduk di kursi depan jika saya tau sopirnya suka ngebut. Sejak itu pula, saya nyadar fungsi safety belt sangat penting.
- Awal 2009, sehabis mengantar teman di Anggrek Sari. Dari arah Batam Center motor melaju kencang dan kehilangan keseimbangan karena melewati jalan berlubang. Tempat itu memang gelap sih. Perlu usaha lebih untuk mengenali kondisi jalan.
- Bulan November 2009, sebuah motor ditabrak BMW di U-turn dekat simpang gelael.
- Masih di bulan yang sama, sebuah motor dikendarai seorang ibu dan anak (sepertinya masih TK), dipotong jalurnya oleh sepasang muda-mudi. Sempat kehilangan keseimbangan, tapi sang ibu berhasil mengendalikan motornya. Sang anak tidak mengenakan helm !
- Dalam beberapa bulan terakhir, ada beberapa kecelakaan juga masih di jalur yang sama. Saya memang tidak melihat sendiri, tapi kejadiannya masih beberapa menit sebelum saya melewati lokasi kejadian.
- Dalam peristiwa lain:
- Tahun 2008 juga, seorang teman dihajar dari belakang oleh sebuah motor. Kejadiannya dia menghindari jalan berlobang di dekat Puri Legenda, tapi akibatnya malah ditabrak dari belakang. Hatinya sempat hancur. Beruntung selamat.
- Tahun 2008 juga, seorang teman dipotong jalurnya sewaktu mau masuk ke area Anggrek Mas. Beruntung cuma luka ringan.
- Masih di tahun yang sama, seorang teman lain terlibat dalam kecelakaan. Beradu kambing, katanya. Dia bergerak dari batam center, sedangkan lawannya bergerak dari muka kuning. Dua-duanya sepeda motor. Teman saya luka ringan, sedangkan lawannya meninggal dunia di tempat.
Dari paparan di atas, dalam pandangan pribadi saya, tampak bahwa dengan periode yang sama (2 tahun), jarak dan waktu tempuh lebih pendek (30 KM dibandingkan 48 KM; 40 menit dibandingkan 1 jam lebih), jalanan Batam punya potensi lebih besar menjadi pembunuh daripada jalan trans-nasional Malang-Surabaya.
Dugaan pertama, kondisi jalan. Jalan trans nasional tentu lebih terawat daripada jalanan lokal di Batam. Jarang dijumpai jalanan berlubang. Kemudian kondisi topografi Batam yang berbukit2, sehingga tikungan, tanjakan dan turunan lebih banyak dari pada trans nasional Malang-Surabaya. Turunan berpotensi menaikkan angka speedometer secara tidak sadar karena pengaruh gravitasi. Jalanan trans-nasional Malang Surabaya, seingat saya, jarang menikung tajam kecuali ketika akan masuk kota Pandaan dan Purwosari.
Dugaan kedua, perilaku pengguna jalan yang tidak saling menghormati dan menghargai sesama pengguna jalan. Tidak punya rasa ato sensitifitas pada kondisi jalan dan pengguna lainnya. Jika anda sensitif, tentunya akan berpengaruh pada behaviour anda dalam berlalu lintas. Behaviour hanya bisa diukur dengan methode Behavior Based Safety Management. Saya kurang yakin apakah pernah ada survei tentang perilaku di jalanan.
Saya sadar data yang saya omongkan sangat objektif sekali. Tidak ada data penunjang secara resmi dan ilmiah. Saya cuma menggunakan pengalaman dan perasaan pribadi saja. Tidak ada batasan jelas kecelakaan mana yang mau dibahas. Kalo cuma senggolan saja, mungkin datanya ga akan masuk ke data kepolisian bukan? Juga tabrakan2 kecil yang cuma luka ringan serta solusinya damai, saya juga ga terlalu yakin bakalan masuk ke statistik laka lantas kepolisian.
Yang lebih penting dari itu sebenarnya bukan masalah statistiknya. Tapi bagaimana kita mendapat pelajaran penting mengenai safety riding. Bagaimana mensosialisasikannya sehingga orang menjadi paham bahwa perilakunya dalam berlalu lintas tidak hanya ber-efek pada dirinya sendiri tapi juga pada orang lain dan kondisi jalan raya secara keseluruhan.
Dua Pelajar SMP Ibnu Sina Tewas Terlindas Lori
Minggu, 13 Desember 2009Sempat Ujian Semester dan Mencandai Teman Sekelas
“Setelah melindas Ayu dan Fauziah, sopir lori itu langsung kabur ke arah Bukit Senyum. Saya tidak tahu plat nomernya, tapi warna lorinya biru”.
SUASANA di ruas jalan di depan Kawasan Bintang Industri Batuampar, Sabtu (12/12) menjelang siang, belum terlalu ramai. Hanya satu dua pengendara yang lalu lalang.
Namun tepat pukul 11.20 WIB, sebuah lori melaju kencang, tiba-tiba menyenggol sepeda motor Yamaha Mio BP5283ES yang mencoba mendahuluinya dari kiri jalan. Sepeda motor yang belakangan diketahui dikendarai dua siswi SMP Ibnu Sina Batam, Ayu Septiani (14) dan Fauziah Muchadar (15) langsung terpental ke kiri, sementara tubuh dua pelajar ini terpental ke kolong lori yang langsung melindasnya.
Akibatnya, tubuh dua gadis manis ini remuk. Bahkan, kepala kepala Fauziah remuk hingga isi kepalanya terburai. Begitupun dengan Ayu, tubuh dan kepanya remuk. Sepeda motor Mio warna merah yang mereka kendarai juga remuk. Sementara sopir lori yang menabrak kedua korban langsung kabur meninggalkan korban di lokasi.
Mungkin terlalu naif kalo saya berharap ini adalah kejadian terakhir dan jangan terulang lagi. Minimalkan kejadian2 seperti ini dengan mempraktekkan safety riding.
Meminjam omongan dari blog sebelah (dan moga2 belum dipatenkan) ![]()
Selamat hari Selasa Ki sanak. Sudahkah anda mempraktekkan safety riding hari ini?




.jpg)















