Archive for the ‘Batam’ Category
Don’t judge book by its cover
Meaning: don’t determine the worth of something based on its appearance”
Badannya tidak tinggi dan ga gemuk juga. Sekitar 165 cm mungkin. Kulitnya rada gelap. Mukanya mirip Kurniawan DJ, eks striker nasional dengan potongan rambutnya pendek dan di-highlight maroon. Bajunya tanpa lengan warna hitam. Tulisannya pun gahar bukan kepalang “Iron Maiden”. Grup Metal yang lagunya aja ga pernah kudengar. Pake celana jeans belel dan sobek2 di dengkul, lutut. Begitu menoleh ke arahku, keliatan satu anting di telinga kirinya. Langkahnya pun santai kaya “macan luwe” (harimau lapar). Sosoknya mengingatkanku pada rocker Arul Efansyah, vokalisnya Power Metal. Ini rock era 90-an, bung. Masak gitu aja ga tau? (Eh, beda jaman ya? hehehe).
“Wah, ini rocker baru bangun tidur cari makan nih”, batinku. Sang rocker kemudian menuju bakul lontong sayur di dekatku. “Mbak, lontong sayur satu ya. Ga usa pake kerupuk”, katanya.
Gw hampir tersedak pas makan bubur. Kukira aku bakal mendengar suara bariton ala Dave Mustain. Nyatanya malah Mezzo Soprano ala Soendari Soekotjo. Hahaha…. Read the rest of this entry »
Capek Antri
Antri selalu identik dengan menunggu. Dan, menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Dua hari berturut2, gw harus antri. Antri pertama adalah di Rumah Sakit Budi Kemulian Batam kemaren (18/08). Antri kedua adalah di Bank Mandiri Cabang Jodoh (19/08).
Antri di Rumah Sakit
Di pintu masuk ruang Dokter itu sudah jelas tertulis, “Nomor antrian harap dipegang masing-masing. Mohon jangan ketuk pintu sehingga mengganggu pasien”. Sebenarnya sudah jelas pesannya. Kalo anda sudah telat, jangan gedor2 pintu dokter dan nanyain susternya, “Sekarang uda nyampe nomer berapa, bu?”. Bikin ilfil karena bukan hal darurat, dokternya terganggu konsentrasinya.
Tetapi, kemaren gw menemukan sesuatu yang berbeda. Sebuah electronic counter device dipasang di atas pintu dokter. It clearly tell you for how many persons before your turn. Sebuah sistem yang patut diacungi jempol. Menjawab keingintahuan pasien yang dalam kondisi tidak sehat yang tentu saja diharapkan ga turut memperburuk mood.
Apakah kelakuan ‘pasien telat’ dan ‘tidak sabaran’ juga berubah setelah mengetahui berapa antrian lagi yang harus dilalui? Syukurnya, IYA.
But, the electricity was shut down for while. Then, the bug is found. Salah seorang pasien mengeluh karena dia dapat nomer antrian 3, tapi sampe nomer 8 data2nya belum ada. Ternyata, begitu listrik mati semua sibuk benerin listrik dulu. Begitu nyala, statusnya menjadi belum terdaftar. Lah!!!
Secara overall, OK lah. Ini suatu perkembangan positif.
Antri di Bank Mandiri
Setau gw, Bank itu mati2an jaga image sebagai pelayan publik. ‘Ngemis’ pengen dipercaya masyarakat. Biar bagaimana, Bisnis Bank adalah bisnis kepercayaan. Kita nyimpen duit dan sebagai buktinya kita diberikan buku tabungan bertuliskan angka besarnya duit yang kita simpan. Dan kita percaya itu.
Sebagai lembaga yang selalu ingin menjadi yang ‘terpercaya’, tentu saja pengen memperlakukan konsumennya layaknya raja. Eh, tapi benerkah begitu?
Sistem antriannya buruk banget. Untuk transaksi umum, semua orang diminta berdiri. Berderet2. Jika ke CSO (Customer Service Officer … bener ga?), maka ada nomer antrian. Kita bisa duduk nunggu giliran. Tapi, pertanyaan selanjutnya adalah berapa lama anda kuat bengong?
Gw dan teman berangkat jam 10.30 dari kantor. Nyampe sana dapat giliran nomer 49 dan 50. Sementara angka antrian baru menunjukkan 37. Kita tinggal makan siang dulu. Begitu balik (jam 12.00), sudah nomer 46. Yippie… Tinggal 4 nomer lagi dong.. Kita perkirakan selesai jam 12.30.
Ternyata, kita selesai jam 01:30. Bah !! 3 Nomer (salah satu ‘pasien’ tidak datang. Mungkin capek nunggu) selesai dalam 1 jam 30 menit. Apa pasal?
Selama kita duduk disitu selama 1 jam, ada salah satu costumer yang sampe 30 menit lebih mengisi formulir. Kenapa ga di tempat lain saja sih? Supaya ibu CSO ini bisa ngelayanin yang lain.
CSO nya cuma 2. Dan salah satunya rehat 30 menit. Orang rehat ga dilarang kok. Apalagi itu uda jam makan siang. Kok ga ada gantinya? Pastinya, para nasabah ini juga nahan lapar, karena takut kalo ditinggal makan siang, malah ketinggalan antrian.
Para nasabah ini juga mendatangi bank di saat jam kantor. Dan gw berani bilang, 80%-90% diantaranya adalah karyawan ato profesional yang harus mengorbankan waktu produktifnya hanya untuk ‘menunggu’. (Teman gw bilang, “Engga kok, ini malah kesempatan buat nguler…hehehe“). No comment for this kind of reason. :p
Gw sendiri cuma ngebatin, apakah para bos Bank ini tau cara pelayanan Bank yang dipimpinnya? Jika tidak, anda harus baca keluhan ini. Jika sudah, tentunya apa Corrective Actionnya?
Saya sih ngebayangin di Bank dan RS itu ada semacam log yang mencatat data kedatangan dan kapan selesai layanannya. Seperti di Samsat itu loh. Kemudian, data tersebut digunakan untuk menilai kinerja pelayanan lembaga tersebut. Berapa banyak anda bisa melayani orang dan berapa lama yang diperlukan hingga selesai? Dari situ anda bisa mengambil tindakan untuk semakin meng-efisienkan waktu tunggu para pasien dan nasabah. Sehingga, lembaga yang anda pimpin semakin terpercaya. Semakin terpercaya, tentunya semakin banyak konsumen yang tertarik mencoba layanan anda kan?
Mudahnya Bayar Pajak RanMor di Samsat Batam Center
Ranmor itu abreviasi dari kendaraan bermotor. Biasanya lengket dengan awalan Cu, menjadi curanmor = Pencurian Kendaraan Bermotor. Kali ini gw mau membahas 2 hal, kantor Samsat Batam dan procedure membayar pajak ranmor.
Seharusnya gw bayar pajak itu tiap bulan Mei. Biasanya bareng si QQ, sobat dekat teman pertama kenal di Batam. Entahlah, kok ya lupa saat itu. Baru inget di bulan Juli! Hasilnya, ya pasti didenda lah. Setaun lampau, mengurus pajak ini di gedung Pertamina Tongkang, Batu Ampar [1° 9'44.16"N - 104° 0'15.66"E]. Mulai awal 2009, Samsat Batam dipindahkan ke Gedung baru Samsat dekat asrama haji. Namanya Graha Kepri [1° 7'27.49"N - 104° 3'25.33"E].
Gw datangnya kepagian. Jam 07.20. Kirain kantor buka jam 07.30 gitu. Ternyata, kantornya masih dibersihkan. Sehingga, gw muter2 aja sambil bawa kamera HP motret sana-sini sambil mengenali lingkungan.
Layout Eskternal
Soal kebersihan, kantor ini boleh diacungi 4 jempol. 2 jempol tangan dan jempol kaki. Hehehe. Tidak berkesan kumuh ato kusam. Samsat Kepri (layanan STNK dan BPKB) ini terletak di lantai satu Graha Kepri. Sedangkan lantai 2 adalah kafetaria dan toilet umum.
Mari kita cobain toiletnya. ![]()
Toilet umum ini ada di lantai 2. Toiletnya pun bersih. Entah ya… Kalrio ntar agak siangan dikit. Selesai nyobain tu toilet, ada ibu2 yang minta sumbangan. Ga jelas minta berapa. So, dengan adanya penjaga toilet, gw berharap toilet itu bersih sepanjang hari. Seperti gw bilang tadi, selantai dengan toilet adlah kafetaria. Belum buka sih. Karena gw datangnya kepagian… Tapi secara overall gw suka layoutnya. Rapi dan sejuk. Kayaknya bakal kepanasan kalo di selasar pas pagi dan sore hari. Karena terekspos matahari dari arah timur dan barat.
Layout Internal
Begitu pintu dibuka tepat pukul 8, semua orang berlarian. Ngantri di informasi dulu. Perhatikan syarat2nya ya? Kalo engga, bisa diusir keluar deh.
Sepintas ga ada yang istimewa dengan layout internal Samsat kepri. Loket2 bersusun rapi. Eh, ada loket Bank Bukopin. Berarti sekarang semua pembayaran dilakukan lewat Bank. Tidak melalui petugas. Ada layer LCD besar di tengah ruangan. Buat apaan ya? Apakah hiasan semata seperti di Kantor Imigrasi Batam?
Di pojok ruangan, ada ruang tunggu untuk wanita hamil, ibu menyusui, para lansia dan orang cacat. Allahu Akbar, ini kantor yang bener2 me-manusia-kan penggunanya. Orang2 dengan keterbatasan fisik diberikan fasilitas khusus. Bahkan mereka diberikan loket khusus. Loket 1 dan 2.
0827. Ini loket kok ga dibuka2 sih? Katanya mulai jam 8? Hmmm… ini yang rada susah dirubah. Masih jam karet, ternyata… hehehe….
Tepat jam 08.50, loket 4 dibuka. Kemudian ke loket 5, setelah itu ke loket 7/8/9. setelah itu baru ke loket 10 untuk pengesahan. Cuma 15 menit totalnya. Lebih lama nunggunya daripada ngurusnya.
Oiya, LCD yang gw omongin sebelumnya adalah seperti preview status antrian anda. Urutannya adalah sebagai berikut:
- Selesai di loket 4 (pendaftaran) adalah siap ditetapkan.
- Selesai di loket 5 (penetapan) adalah siap dibayar.
- Selesai di loket 7/8/9 (pembayaran SPKB) adalah –selesai- (berarti uda lunas bayarnya)
Saking canggihnya sampean bisa liat jam berapa berkas anda masuk, berapa lama selesainya. Kayak update status FB aja…
Kalo sudah sedemikian mudah, gw juga ga paham kenapa orang lebih suka membayar jasa calo untuk ngurusin. Jika jawabannya adalah “bagi-bagi rejeki”, gw no comment saja lah. Itu hak anda.
Secara umum, persyaratan untuk membayar pajak kendaraan bermotor adalah BPKB, STNK, slip pajak tahun lalu dan KTP. Semuanya asli. Perhatikan bahwa KTP yang diserahkan adalah KTP pemilik kendaraan. Bukan yang ngurusin. Lebih baik datang pagi kira2 jam 0800.
Jadwal pelayanan adalah sebagai berikut:
Senin-Kamis :pendaftaran 0800-1230 | pelayanan kasir 0800-1400
Jumat: pendaftaran 0800-1150 | pelayanan kasir 0800-1330
Sabtu: pendaftaran 0800-1100 | pelayanan kasir 0800-1200
Last but not least, jangan menyuap untuk memudahkan proses. Bahkan membuka peluang untuknya.
sstt…kalo parkir di belakang gedung aja. uda teduh, aman, ga ditarik ongkos parkir lagi. :p
Mau Tanya Pajak Kendaraan Bermotor di Kepri, SMS ke 9800
Waktu di samsat Batam, ada spanduk soal layanan informasi pajak kendaraan. Tinggal SMS ke 9800. Formatnya adalah KEPRI (spasi) [No.pol]. Contoh: Kepri BP4230DB. Ini nomer polisi motor gw.
Balasannya sebagai berikut:
BP4230DB,SPD.MOTOR R2,HONDA NF 100 SLD,2006,ORANGE HITAM,MASA PAJAK: 27-05-2009,PKB: Rp 135.000,BBN2: Rp 90.000,JR: Rp 35.000,(DENDA PKB: Rp 33.750 /thn)
Hehehe… Dengan begitu, gw bisa tau bahwa berapa yang haru gw bayar. Sehingga ga perlu panik karena bawa duit pas-pasan.
Sebenarnya bukan layanan baru sih. Berdasar Batam Pos ini, layanan ini sudah ada sejak Oktober 2008. Kurang sosialisasi kayaknya…
Hebat juga Samsat Kepri ini. :)
Lestarikan Simpang Rujak
Terbangun jam 3.30 pagi. Kok ya langsung nengok berita Metro – Batam Pos. Di bagian Metropolis, halaman 21, “Beri kami kesempatan berjualan”, wah… ada apa ya?
Ternyata beritanya tentang penjual simpang Rujak Batam yang mau direlokasi ke tempat baru. Sedangkan lokasi sekarang akan dijadikan taman kota. Duh…masalah klasik terulang kembali. Kadang pemerintah suka lupa ama rencana tata kotanya sendiri. Giliran uda ditempati lama oleh pedagang yang sudah menjadi ‘mendarah daging’, mau digusur.
Simpang rujak terletak di bukit Pelita Atas. Di jalan Jenderal Sudirman menuju ke arah Batu Ampar, dekat flyover Pelita. Ga diketahui kapan simpang rujak itu ada. Konon ceritanya, adalah Mas Kuncung, asal Boyolali, yang memulai di bulan Mei 1993 bersama adiknya menjual rujak dan es dawet di lokasi ini. Mas Kuncung sendiri sampe hari ini masih berdagang. Bahkan menjadi ketua Persatuan Simpang Rujak (PSR). Simpang ini beroperasi dari jam 11.00 sampe 18.00, karena di tempat itu tidak ada peralatan penerang dari listrik atau petromaks. Hehehe…lagian kepantasan juga sih, karena makan rujak cocoknya di siang hari. Macam2 rujak ada disini dari mulai rujak buah, rujak serut hingga rujak cingur. Harganya sama, Rp 6.000/ porsi, yang bisa disantap di atas meja ala kadarnya di sekitar gerobak. Jika pembeli ingin membawa pulang, maka dimasukkan dalam wadah stryrofoam. Soal pedas, tinggal bilang pada penjualnya. Mau pedas banget ato malah engga sama sekali. Untuk menambah kenikmatan rujak, pilihan minuman juga tersedia, mulai soft drink, es kelapa muda dan es dawet, bisa melegakan tenggorokan ketika rasa pedas rujak mulai terasa.
Saya sih engga setuju kalo simpang rujak ini dipindah. Sudah 16 tahun lebih, simpang ini menjadi sentra pariwisata kuliner Batam. Menjadi salah satu tujuan wisata di Batam. Melihat simpang rujak-Batam ini, saya seperti melihat jalan sate di Ponorogo. Khas, unik dan tak tergantikan.
Jika jadi dipindahkan, maka social cost yang harus dibayar cukup ‘banyak’. Para pedagang blum tentu krasan di tempat baru (yang konon katanya, juga harus bayar sewa tempat dibandingkan sekarang yang gratis). Para pelanggan juga blum tentu tahu, suka dan akan berkunjung ke tempat baru. Karena biasanya publikasi nya minim. Lagian dimana lagi, ada tempat yang pemandangannya bagus, rindang dan berada di arteri Batam selain di simpang rujak? Ya…saran saya sih di-optimal-kan saja dan saling bersinergi dengan rencana taman kota Batam. Kan sehat lahir dan batin, makan rujak di taman
.













.jpg)









