Tags

, , , , ,


Alhamdulillah, akhirnya si Bos appove permintaan gw untuk bikin paspor. Dia sendiri kaget karena selama gw kerja di Batam selama 3 tahun, masih blum punya paspor. “Hari gini … ga punya paspor”, mungkin itu batinnya sambil senyum2 dan geleng2 kepala.

Karena prosesnya lewat kantor, maka segala persyaratan administrasi diberesin ama kantor. Gw cuma nyerahin, foto 4×6 berwarna dengan latar belakang merah, Ijazah, Kartu Keluarga (KK), surat nikah dan Akte kelahiran. Semuanya asli. Abis itu gw nunggu aja sampe kemaren.

Kemaren, 7 januari 2009, gw ke kantor Imigrasi Batam yang disebelah walikota (  1° 7′ 49″ N   104° 2’57” E). Jam 9.30. Antrian untuk menyerahkan formulir uda panjang. Gw sendiri uda ga perlu ngantri2 lagi. Kata P’ Jaed dari Travel Dept., “Sampean nanti tinggal tunggu dipanggil aja untuk wawancara. Prosesnya uda diurus ama kantor sebelumnya”. Sambil nunggu giliran, gw muter2 aja biar ga bengong.

Kantor Imigrasi ini uda cukup “modern” loh. Pengennya sih, memanusiakan pengantri dengan memberi banyak tempat duduk sehingga orang ga capek berdiri dan ada sistem nomer antrian kayak di bank-bank besar. Display yang tertempel di atas loket itu ternyata ga pernah berubah nomer. Eh, sistem antri berikut mesinnya ternyata rusak.

Loket di Imigrasi Batam

Loket di Imigrasi Batam

Mesin yang ngeluarin nomer antrian rusak

Mesin yang ngeluarin nomer antrian rusak

Setiap orang yang lagi menunggu giliran wawancara, foto dan sidik jari ternyata dipanggil satu-satu. Kadang dari loket pendaftaran juga kadang2 teriak2 manggil orang. Berisik kalo pas semuanya bicara. Akan lebih baik jika ada satu sistem yang bisa mengatur bahwa satu pembicara saja yang aktif. Gw rasa itu bisa dilakukan loh. Microphone yang ada di gedung MPR menggunakan sistem ini. Gw jadi ingat terminal Bungurasih yang selalu berisik. Gw juga bertanya2, apakah para abdi pemerintah itu ga terganggu dengan keberisikan itu? Mungkin enggak, karena mereka di dalam. Buat gw, akan lebih baik jika keberisikan itu dikurangi.

Dimana2 ditempel persyaratan untuk pembuatan paspor dewasa atau anak2. Good. Juga gw liat ada contoh pengisian formulir, sehingga diharapkan mengurangi kesalahan. Ada juga papan besar tentang prosedural pembuatan paspor yang menjelaskan tahapan2 pembuatan paspor. Tentunya akan menjadi lebih baik jika di setiap tahap itu dicantumkan tempat pengurusan itu. Misalnya, pendaftaraan di loket 1, Wawancara di loket 3 de el el.

Prosedur pembuatan paspor

Prosedur pembuatan paspor

Ada himbauan untuk tidak memakai jasa calo. Gw curiga calo juga masih laku. Dimana-mana gw ngeliat ada “korlap”. Bawa map lebih dari 10 biji. Ngatur orang untuk giliran, bolak-balik masuk kantor, konfirmasi sana-sini. Yah, menurut gw jasa beginian akan sangat laku kalo kecepatan layanan masih kayak keong.

Akhirnya gw wawancara juga. Jam 10.00 dan antrian yang tadi gw omongin sudah tidak ada. Wawancara sih simpel aja. Ditanya nama istri, tanggal lahir dan keperluan membuat paspor. Mungkin yang bikin kesel adalah layanannya. Sedikit ditambah senyum ga pa pa loh, Pak. Gw ngerti si bapak maunya hati2. Tapi dengan pasang muka dilipet gitu, gw juga terbawa serius. Hasilnya, dia ngomong nada tinggi, gw jawab nada tinggi. Setelah selesai, gw cuma bayar Rp. 270.000 untuk foto. Abis itu dipanggil untuk foto 30 menit kemudian. Ngantri lagi di dalam. Ternyata di dalam kantor uda pake WIFI, cuy. Canggih bener kantor pemerintah sekarang. Foto dan cap sidik jari juga memakai teknologi digital. Paperless! Setelah nunggu 15 menit, dipanggil lagi untuk tanda tangan. Eh, ada petugas jutek juga. “Tolong cepat, pak. Kita uda mau makan siang nih”, ngomong pake muka dilipet. Duh, kayaknya kita ini warga yang nyusahin negara ya?

Toilet? Ada disamping ruang antri itu. Kondisinya? Yah…seperti pada umumnya tempat2 umum di negara ini lah. Korban vandalisme.

About these ads