Ayah, Apa itu Sex?
Seorang anak bertanya pada bapaknya. Apa itu sex?
Karena bapaknya berwawasan luas dan ingin memberikan pendidikan sex padanya sambil berusaha tidak vulgar, maka si bapak ber-analogi.
Bapak: Sex itu seperti orang ngupil, nak.
Anak: Berarti enak ya, pak?
Bapak: Kalo ngupil kan hidungnya jadi lebih enak.
Anak: Gimana tentang perkosaan, pak?
Bapak: Emang kamu mau hidungmu ditowel2 orang lain tanpa permisi?
Anak: (manggut-manggut mengerti) Lalu … Kenapa tidak boleh nge-sex di kala wanita datang bulan?
Bapak: Apa enaknya ngupil hidung yang lagi mimisan? (Si Bapak tersenyum).
Anak: (manggut-manggut lagi) Trus…sex yang baik itu gimana, pak?
Bapak: Ya ngupillah hidungmu sendiri dan dilakukan di tempat tertutup. Jijik ah ketauan ngupil di tempat umum.
Anak: Kalo poligami?
Bapak: Bapak lebih suka punya hidung satu daripada banyak. Hehehe…
(disadur dan dimodifikasi seingatnya dari guyonan jawa pos masa kuliah)
Don’t judge book by its cover
Meaning: don’t determine the worth of something based on its appearance”
Badannya tidak tinggi dan ga gemuk juga. Sekitar 165 cm mungkin. Kulitnya rada gelap. Mukanya mirip Kurniawan DJ, eks striker nasional dengan potongan rambutnya pendek dan di-highlight maroon. Bajunya tanpa lengan warna hitam. Tulisannya pun gahar bukan kepalang “Iron Maiden”. Grup Metal yang lagunya aja ga pernah kudengar. Pake celana jeans belel dan sobek2 di dengkul, lutut. Begitu menoleh ke arahku, keliatan satu anting di telinga kirinya. Langkahnya pun santai kaya “macan luwe” (harimau lapar). Sosoknya mengingatkanku pada rocker Arul Efansyah, vokalisnya Power Metal. Ini rock era 90-an, bung. Masak gitu aja ga tau? (Eh, beda jaman ya? hehehe).
“Wah, ini rocker baru bangun tidur cari makan nih”, batinku. Sang rocker kemudian menuju bakul lontong sayur di dekatku. “Mbak, lontong sayur satu ya. Ga usa pake kerupuk”, katanya.
Gw hampir tersedak pas makan bubur. Kukira aku bakal mendengar suara bariton ala Dave Mustain. Nyatanya malah Mezzo Soprano ala Soendari Soekotjo. Hahaha…. Read the rest of this entry »
Promosi Blog via Search Engine dengan bantuan Mypagerank.net
Blog bisa dipromosikan seperti dagangan lainnya. Via teman sepermainan, sodara seperguruan, relasi kerja maupun teman maya dengan metode dari konvensional. Misalnya pas lagi ngegosip. “Eh, barusan review film terbaru Miyabi loh. Cek deh di blog gw”. Ato, Sebarkan saja kartu nama dengan alamat blog sampean. Bisa juga, kasih signature dalam setiap email yang anda kirimkan. Kalo bermodal gede, tentu saja undang wartawan gosip kelas nasional dan adakan konferensi pers.
Tapi, banyak juga blogger2 profesional (dalam artian dia bekerja sebagai blogger dan itulah mata pencahariannya) menggantungkan pada traffic via search engine. Dengan harapan, dari sekian juta pengguna internet mungkin ada 1-2% diantaranya tersesat di blognya ketika sedang mencari content tertentu. Harapannya tentu saja, para visitor ini yang akan meng-klik iklan2 yang bertebaran di blognya. Tentu saja ini adalah salah satu contoh kasus dimana blogger tersebut mencari uang dengan adsense ato pay per click.
Salah satu buku yang gw pernah baca menyarankan untuk menggunakan mypagerank.net untuk mendaftarkan diri pada lebih dari 20 search engine di dunia. Blog gw yang ini memang diniatkan untuk masyarakat Indonesia. Sehingga, prioritasnya didaftarkan pada search engine yang lazim dikenal di Indonesia.
Prinsip kerjanya sebagai berikut. Para search engine ini punya crawler yang secara berkala meng-index seluruh situs yang ada di dunia. Langkah ini adalah langkah menjemput bola. Daripada pasif menunggu crawler, mendingan kita bergerak aktif untuk mendaftarkan blog kita. Tujuannya supaya content kita cepat laku, dan bermanfaat dalam tempo yang singkat.
- Kunjungi http://www.mypagerank.net/
- Lihat sidebar dan cari sitemap submitter. (langsung klik disini juga bisa)
- Jika tidak punya account, anda cuma didaftarkan pada ask.com, google.com, yahoo.com dan MSN
- Jika punya, anda bisa liat screen shot dibawah ini.
Mendingan punya account-nya saja. Gratis kok. Lagipula, fasilitasnya lebih banyak daripada yang ga punya account sama sekali.
Cek Shutter Count di Ubuntu
Ceritanya nih, gw baru beli kamera DSLR baru. Kamera ini barang mewah buat gw dan keluarga. Hingga hari ini, kamera pocket manual aja blum pernah punya. Henpon berkamera aja baru punya 2 tahun yang lalu. Padahal, uda kebelet njepret sejak masih kuliah dulu. Sempat belajar sama teman kuliah dan adik sendiri tentang dasar2 fotografi. Tapi, ya begitulah… minim praktek karena kamera harus pinjem sana dan sini.
Ini omongan orang awam fotografi loh. Jadi gw cuma mau kasih tau kalo program default di Ubuntu juga bisa membaca data EXIF. Jika di Windows, perlu program tambahan dulu.
Dalam beberapa review kamera, seperti di sini dan di forum fotografer.net yang gw baca (sebelum memutuskan), selalu dicantumkan tentang shutter release number. Berapa kali jepret kamera itu bisa bertahan dan berfungsi apik sejak dibuat di pabrik. Gw memahami ini sebagai design life dari sebuah alat. Wajar saja, wong alat juga dipake pasti ada umurnya…
Kamera baru tentu saja shutternya dimulai dari 0. Kamera bekas, tentu saja shutter countnya juga sudah lebih dari 0. Besarnya shutter count juga turut menyumbang komponen harga barang bekas. Kamera dengan bilangan Shutter besar bisa dihargai lebih murah daripada kamera dengan jumlah shutter lebih kecil untuk kamera dengan tipe dan kondisi fisik yang sama. Itu artinya kamera itu sudah mendekati design life nya. Uda mau mati kasarnya. Walaupun gw juga yakin, ini persoalan statistika probabilitas tergantung cara menggunakan, merawat kamera serta kualitas material dan manufaktur dan faktor X lainnya.
Hampir semua situs dan forum diskusi menyarankan Irfanview, Opanda IExif dan xnview yang running di system Windows. Juga yang berjalan di Mac. Linux? Waduh…ga ketauan pake apa. Sempat gw download Opanda, mo coba install tapi urung dilakukan. Iseng2 cek pake gthumb image viewer. Ini bawaan dari ubuntu – Gnome. Ternyata bisa !!!
- Hubungkan kamera dengan komputer dengan USB cable.
- Pilih foto yang terakhir diambil dan simpan di local drive. Caranya “FILE” -> “Import Photos”.
- Klik kanan dan pilih properties. Pilih “Photo Data (EXIF)”
- Cari string dengan judul “Total Number of Pictures Taken”.
Bisa juga dengan gwenview. Ini picture viewer bawaan KDE (Kubuntu). Bedanya dengan gthumb adalah gw belum nemu caranya import foto ke local drive.
- Pilih foto yang terakhir dan liat sidebar sebelah kanan.
- Ada tab “Information” dan klik “more”
- Cari string dengan judul “Shutter Count”.
Hingga hari ini, gw dan istri gw sudah “njepret” 320 kali. Jumlah foto dalam memory card juga 320 biji, belum ada satu pun yang dihapus. Foto terakhir adalah DSC_0317 (memory card-nya sempat dilepas, jadi file sequence-nya direset kembali ke 0). Sehingga bisa gw simpulkan si penjual ga curang ama gw.
Soalnya gw beli dengan modal nekat, ga pake ditemenin teman yang lebih ngerti
![]()













.jpg)









